Showing posts sorted by relevance for query metode fluktuasi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query metode fluktuasi. Sort by date Show all posts
Contoh Soal Sistem Fluktuasi - Kas Kecil Metode Fluktuasi

Contoh Soal Sistem Fluktuasi - Kas Kecil Metode Fluktuasi

Kita tahu bahwa pengertian kas kecil adalah uang kas yang jumlahnya tidak begitu material namun sangat penting keberadaannya.

Dalam pencatatannya terdapat dua metode, Metode impress dan metode fluktuatsi.

Kali ini yang akan saya bahas adalah tentang kas kecil sistem flutuasi

Kas kecil metode sistem fluktuasi, atau yang juga banyak disebut sebagai:

Fluctuation Fund System (Sistem dana Berubah)

Pada  sistem dana berubah ini menyatakan bahwa jumlah nominal kas kecil tidak ditetapkan namun jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Misalnya ketika manajemen membuat keputusan pertama kali perusahaan menetapkan nominal kas kecil sebesar Rp 5 Juta.

Lalu kas kecil tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan lalu kemudian kas kecil diisi kembali.

Saat pengisian kembali, jika menggunakan sistem dana tetap, maka jumlah nominal kas kecil harus sama dengan jumlah kas kecil awal (saldo awal)

Sedangkan pada kas kecil sistem fluktuasi, jumlah nominal pengisian kas kecilnya tidak harus sama dengan saldo awalnya, tapi bisa kurang atau lebih.

Contoh Soal pencatatan kas kecil sistem flutuasi

PT. Astria Bersama menyelenggarakan kas kecil untuk pengeluaran-pengeluaran dalam jumlah kecil.

Kas tersebut mulai dibuka pada tanggal 2 Desember 2014 dengan menerima uang sebanyak Rp 4.000.000 dari Kas.

Untuk selanjutnya kas kecil diisi setiap tanggal 15 dan 30.

Transaksi yang berhubungan dengan kas kecil selama bulan desember 2014 adalah sebagai berikut:

03 desember    Dibeli materai Rp 300.000
08 desember    Dibayar rekening listrik Rp 320.000 dan air Rp 230.000
11 desember    Dibayar biaya iklan pada harian kompas Rp 250.000
14 desember    Dana kas kecil dianggap terlalu besar Rp 500.000 disetor kembali ke kas
15 desember    Dana kas kecil diisi kembali.
19 desember    Dibayar biaya angkut pembelian Rp 240.000
21 desember    Dibayar biaya telepon Rp 350.000
27 desember    Dibeli perlengkapan kantor Rp 650.000
29 desember    Dibayar untuk pengobatan karyawan yang sakit Rp 200.000
29 desember    Dibayar biaya angkut barang Rp 130.000
30 desember    Dana kas kecil diisi kembali.

Diminta: Buatlah jurnal umum, jika menggunakan Metode Fluktuasi (Fluctuation Fund System)

Maka jurnal kas kecilnya adalah seperti ini:

Tanggal Keterangan Debit Kredit
Pembentukan dana Kas Kecil ]
02/12/2014 Kas Kecil Rp4.000.000
Kas Rp4.000.000
[ pengeluaran dana kas kecil langsung di catat ]
03/12/2014 Perlengkapan Kantor Rp300.000
Kas Kecil Rp300.000
08/12/2014 Biaya Listrik Rp320.000
BiayaAir Rp230.000
Kas Kecil Rp550.000
11/12/2014 Biaya Iklan Rp250.000
Kas Kecil Rp250.000
[ Penurunan saldo kas kecil ]
14/12/2014 Kas Rp500.000
Kas Kecil Rp500.000
[ Pengisian kembali dana kas kecil ]
15/12/2014 Kas Kecil Rp1.100.000
Kas Rp1.100.000
pencatatan pengeluaran kas kecil ]
19/12/2014 Biaya angkut Rp240.000
Kas Kecil Rp240.000
21/12/2014 Biaya Telepon Rp350.000
Kas Kecil Rp350.000
27/12/2014 Perlengkapan Kantor Rp650.000
Kas Kecil Rp650.000
29/12/2014 Biaya Rupa rupa Rp200.000
Kas Kecil Rp200.000
29/12/2014 Biaya angkut Rp 130.00
Kas Kecil Rp130.000
[ pengisian kembali dana kas kecil ]
30/12/2014 Kas Kecil Rp1.570.000
Kas Rp1.570.000


Pengertian Petty-Cash (Kas Kecil) dalam Akuntansi

Pengertian Petty-Cash (Kas Kecil) dalam Akuntansi

Pengertian kas kecilsuatu hari kawan saya yang sedang kerja di sebuah perusahaan lumayan besar. Dia disuruh membeli minuman, camilan, dan beberapa alat tulis oleh bosnya karena secara mendadak ada relasi bisnis yang lumayan penting buat bosnya datang ke kantornya.

Berangkatlah teman saya itu, tapi sebelumnya dia minta uang ke staff bendahara dulu....

Selesai masalah...

Namun teman saya itu bertanya, kok gampang banget ambil uang di kantornya? Untuk keperluan beli camilan? Apa memang di alokasikan atau campur-campur uang bosnya?

Nah untuk itulah kita akan berbicara kas kecil atau yang juga disebut petty cash.

Pengertian Kas Kecil atau Definisi Petty Cash


petty cash
kas kecil atau petty cash
Pengertian kas kecil atau petty cash adalah uang yang dicadangkan oleh entitas bisnis/perusahaan untuk pembayaran pengeluaran-pengeluaran yang bersifat rutin namun jumlah nominalnya relatif kecil. Tidak material.

Petty cash mempunyai beberapa karakteristik yaitu :
  • Jumlah nominalnya dibatasi, tidak lebih ataupun tidak kurang dari jumlah nominal tertentu yang sudah ditetapkan oleh manajemen perusahaan. Tentunya masing masing perusahaan menetapkan jumlah nominal yang berbeda beda sesuai dengan kebijakan dan skala operasional perusahaan.
  • Digunakan untuk mendanai transaksi yang nominalnya kecil dan rutin terjadi setiap hari, ribet juga kan kalau misalnya ada keperluan seperti keperluan ATK yang jumlahnya tidak seberapa dan tiap saat selalu keluar biayanya jika harus mengambil uang harus berprosedur prosedur dulu?

Tujuan Kas Kecil

Ada beberapa tujuan dibentuknya kas kecil, berikut diantaranya :
  • Menangani masalah perlengkapan/perbekalan kantor yang dialami oleh suatu bagian di kantor
  • Menghindari cara pembayaran yang tidak ekonomis juga tidak praktis atas pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan mendadak.
  • Meringankan beban staff karyawan dalam memberikan pelayanan secara maksimal kepada pelanggan juga termasuk kepada relasi bisnis pimpinan.
  • Mempercepat aktivitas atasan yang menggunakan dana secara mendadak dan juga tidak terencana sebelumnya.

Pembayaran Kas Kecil

Pembayaran melalui kas kecil dilakukan untuk suatu hal seperti berikut:
  • Pengeluaran kas kecil biasanya telah ditentukan batas maksimalnya setiap terjadi pengeluaran
  • Pengeluaran tidak diperbolehkan untuk pemberian pinjaman (utang) kepada staf
  • Bukti pengeluaran kas kecil harus ditanda-tangani oleh bagian pemegang petty cash
  • Apabila ada bukti pembayaran, seperti kuitansi, faktur atau bukti pendukung yang lain harus dilampirkan juga pada bukti pengeluaran kas.

Pengisian Kas Kecil

Jadi apabila jumlah nominal uang yang terdapat dalam akun kas kecil telah menipis, maka dana kas kecil harus diisi lagi dengan cara sebagai berikut:
  • Pemegang petty cash mengajukan permintaan kepada bendahara kas
  • Pemegang petty cash menyiapkan daftar pengeluaran yang telah dilampiri bukti transaksi atas pengeluaran kas kecil.
  • Jika telah sesuai dengan ketentuan, bendahara kas memberikan tanda persetujuan kepada formulir permintaan tersebut dan memberi dana sebesar jumlah nominal kas kecil yang sudah dikeluarkan.

Metode Pencatatan Petty Cash / Kas Kecil

Didalam akuntansi, ada dua metode yang umumnya digunakan dalam pencatatan kas kecil

1. Sistem Dana Tetap | Imprest Fund System 

Metode sistem dana tetap ini merupakan metode pembukuan kas kecil dimana rekening kas kecil jumlahnya SELALU TETAP.

Setiap pengeluaran kas yang terjadi, pemegang petty cash tidak serta merta langsung mencatatnya, tetapi hanya sekedar mengumpulkan bukti transaksi pengeluarannya.

Dan pada waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, apabila dana petty cash hampir habis, baru dilakukan pencatatan pembukuan berdasarkan pada bukti transaksi pengeluaran yang telah dikumpulkan.

Kemudian pemegang kas kecil melakukan pengajuan pembentukan kembali dana kas kecil kepada bendahara kas sebesar nominal yang telah dikeluarkan menurut pembukuan dan bukti transaksi pengeluaran.

Sehingga jumlah nominal dana kas kecil tetap seperti jumlah kas kecil semula.

# Langkah Langkah Operasional Metode Impress

  1. Pembentukan dana kas kecil dimana pemegang kas kecil diberi sejumlah uang tunai yang nantinya untuk pembayaran atas pengeluaran yang diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan dalam dalam waktu tertentu.
  2. Dana kas kecil digunakan untuk pembayaran transaksi pengeluaran .
  3. Setelah dana kas kecil habis/hampir habis, kasir membentuk kembali dana kas kecil, mengisinya sebesar jumlah nominal pengeluaran yang terjadi.
Untuk contoh soal kas kecil metode impres, silahkan anda bisa baca sekarang juga di contoh soal kas kecil metode impress

2. Sistem Dana Berubah | Fluctuation Fund System

Sistem dana berubah sering disebut juga sistem fluktuasi atau pun dana mengambang.

Sistem ini menghendaki bahwa jumlah nominal kas kecil tidak ditetapkan akan tetapi sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya, ketika pertama kali membuat kebijakan, perusahaan menetapkan jumlah nominal kas kecil sebesar Rp 5 Juta kemudian digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemudian kas kecil diisi kembali.

Ketika waktu pengisian, jika perusahaan menggunakan sistem dana tetap, maka jumlah kas kecil harus sama jumlahnya dengan saldo awal kas kecil.

Namun pada metode sistem dana berubah, jumlah pengisian kembali kas kecil tidak harus sama dengan jumlah nominal saldo awalnya, jadi bisa kurang atau lebih.

Untuk contoh soal kas kecil metode fluktuasi, silahkan baca di contoh soal kas kecil metode fluktuasi

Baiklah, apakah sudah ada pandangan mengenai kas kecil? Semoga artikel ini membantu anda.

Persediaan Barang Dagang dan Pencatatan Akuntansi

Persediaan Barang Dagang dan Pencatatan Akuntansi

Apa Itu Persediaan Barang Dagang ?

Pengertian persediaan barang dagang adalah aset perusahaan yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali dan mendapatkan keuntungan.

Persediaan barang dagang (inventory) bisa dikatakan sebagai aset yang menganggur atau aset yang menunggu untuk dikeluarkan (dijual). Persediaan barang dagang adalah salah satu aset yang termasuk aktiva lancar.

Persediaan barang dagang dimiliki oleh perusahaan dagang dimana perusahaan hanya membeli dan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk fisik barangnya.

Apapun bentuknya, berapapun nilai nominalnya apabila aset tersebut dimaksudkan untuk dijual kembali dalam artian aset tersebut adalah "dagangan" utama, core bisnis perusahaan maka aktiva tersebut termasuk kedalam persediaan barang dagang.

Mobil termasuk persediaan apabila perusahaaan tersebut bergerak dibidang jual beli mobil.

Rumah juga termasuk persediaan barang dagang apabila bisnis utama perusahaan adalah developer atau jual beli rumah.

Tapi jangan sampai salah membedakan..

Misalnya perusahaan dealer mobil, mereka menjual mobil sekaligus memiliki mobil untuk operasional yang digunakan untuk keperluan kantor dan tidak dijual.

Mobil yang mereka jual adalah persediaan barang dagang.

Namun mobil yang mereka pakai untuk menunjang keperluan kantor adalah aktiva tetap.

Sama sama mobil tapi perlakuan terhadap mobil tersebut bisa berbeda.

Strategi Persediaan Barang Dagang

Terdapat beberapa cara yang dilakukan perusahaan dagang untuk mengatur dan mempersiapkan persediaan barang dagang mereka.

#1. Lot Size Inventory (Bath Stock)

Lot size inventory adalah pengadaan persediaan barang dagang dalam jumlah besar melebihi perkiraan kebutuhan yang ada pada saat ini.

Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan potongan harga dan ongkos pengiriman persediaan barang dagang.

Biasanya supplier memberikan potongan harga dan ongkos pengiriman per unit menjadi lebih murah apabila pembelian barang dilakukan dalam jumlah yang besar.

#2. Fluctuation Stock (Stok Fluktuasi)

Fuctuation stock adalah pembelian persediaan barang untuk menghadapai kemungkinan terjadi fluktuasi permintaan dari pelanggan yang sulit diperkirakan.

Pengadaan ini lebih bersifat berjaga jaga terhadap permintaan konsumen yang tiba tiba melonjak secara drastis yang tidak diprediksi sebelumnya.

Ketika permintaan meningkat namun stok persediaan tidak mencukupi, maka itu adalah kerugian bagi perusahaan.

#3. Anticipation Stock (Persediaan Antisipasi)

Anticipation stock adalah pembelian persediaan barang untuk menghadapi lonjakan permintaan dari konsumen yang bisa diramalkan atau telah diperkirakan.

Biasanya pedagang menggunakan perkiraan dari pola konsumsi masyarakat sepanjang tahun yang umum terjadi.

Misalnya sebulan atau dua bulan sebelum hari raya idul fitri, pedagang pakaian umumnya telah membeli persediaan dalam jumlah besar karena sudah bisa diprediksi bahwa mendekati lebaran permintaan pakaian akan melonjak secara drastis.

Maka pedagang akan menyetok pakaian untuk berjaga jaga agar tidak kekurangan barang.

#4. Persediaan Konsinyasi

Barang konsinyasi adalah persediaan yang ditempatkan atau dititipkan ditempat lain untuk dijual. Bisa ditempatkan di tempat agen, cabang, atau mitra usaha.

Dalam bahasa yang lebih singkat: Titip barang untuk dijualkan.

Konsinyasi adalah salah satu strategi penjualan yang banyak dilakukan dan tempat yang dititipi barang akan mendapatkan komisi apabila barang tersebut laku terjual.

Pencatatan Akuntansi Persediaan Barang Dagang

Pencatatan persediaan barang dagang adalah pencatatan atas semua transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang dagang.

Apa saja transaksi yang bisa mempengaruhi persediaan barang ? dan bagaimana jurnal transaksi persediaan barang dagang ?

faktor persediaan barang dagang

#1. Pembelian Barang Dagang

Pembelian barang dagang akan menambah persediaan barang dagang.

#2. Biaya Angkut Pembelian

Biaya angkut pembelian adalah semua ongkos kirim yang dibayarkan untuk mendatangkan barang dagang dari tempat supplier sampai ke gudang/tempat pembeli.

Termasuk biaya bongkar muat dan asuransi pengiriman (bila ada). Namun ada pembelian dimana ongkos kirim menjadi tanggung jawab pihak supplier.

Terdapat 2 istilah yang cukup penting yang berhubungan dengan pengiriman barang.

#1. FOB Shipping Point
  1. FOB (Free on Board) shipping point adalah barang akan menjadi milik pembeli ketika barang TELAH KELUAR dari tempat/gudang penjual.
  2. Maka, biaya pengiriman adalah tanggung jawab pembeli
#2. FOB Destination Point
  1. FOB Destination point adalah barang akan menjadi milik pembeli ketika barang TELAH SAMPAI ke gudang pembeli. Selama perjalanan pengiriman, barang masih milik dan tanggung jawab penjual.
  2. Maka, biaya pengiriman adalah tanggung jawab penjual (supplier)

#3. Return Pembelian

Return pembelian adalah pengembalian semua atau sebagian persediaan barang dagang kepada supplier.

Return pembelian biasanya terjadi karena barang yang dipesan tidak memenuhi spesifikasi seperti yang diminta.

Bisa karena barang cacat, atau ukuran, bahan dan warna tidak sesuai permintaan.

#4. Potongan Pembelian

Potongan pembelian adalah potongan atau diskon yang diperoleh akibat pembelian persediaan barang dagang.

Biasanya potongan diberikan apabila perusahaan melakukan pembelian persediaan barang dalam jumlah yang besar.

#5. Penjualan Barang Dagang

Penjualan barang dagang sudah jelas, persediaan akan berkurang karena barang dagang telah laku terjual.

#6. Biaya Angkut Penjualan

Biaya yang dikeluarkan untuk mengirim barang dagang yang sudah terjual hingga barang tersebut sampai ke tempat konsumen.

#7. Return Penjualan

Return penjualan adalah pengembalian barang dagang oleh konsumen. Return penjualan biasanya terjadi karena ada spesifikasi barang yang tidak sesuai dengan yang disepkatai/diinginkan oleh konsumen.

Bisa disebabkan karena barang tersebut cacat atau warna, ukuran dan bahan tidak sesuai dengan yang spesifikasi yang telah ditentukan.

Return penjualan akan menambah jumlah persediaan barang dan menurunkan penjualan.

#8. Potongan Penjualan

Potongan penjualan adalah diskon atau potongan yang diberikan kepada konsumen yang membeli.

Potongan biasanya diberikan apabila konsumen melakukan pembelian secara tunai dan dalam jumlah yang besar.

#9. [Tambahan] Pajak (PPN atau PPnBM)

Adanya PPN atau PPnBM juga bisa mempengaruhi persediaan. Biasanya, pembelian atau penjualan produk akan dikenai tarif pajak.

Namun pembahasan mengenai pajak ini akan dibahas disini agar tidak terlalu panjang dan lebih fokus.

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang

Metode pencatatan akuntansi persediaan barang dagang terdapat dua metode.

Metode fisik dan metode perpetual.

#1. Metode Fisik

Seperti namanya, metode pencatatan fisik mengharuskan perhitungan barang secara fisik digudang untuk mengetahui jumlah persediaan barang.

Ketika terjadi sebuah transaksi yang berhubungan dengan persediaan, persediaan tidak langsung dicatat/dijurnal.

Hanya transaksinya yang dijurnal.

Misalnya transaksi pembelian atau penjualan, maka yang dicatat adalah transaksi pembelian atau penjualan tersebut.

Walaupun jumlah persediaan digudang bertambah atau berkurang, pos persediaan tidak perlu dicatat.

Contoh jurnal pembelian atau penjualan pada metode fisik akan terlihat seperti ini

jurnal persediaan metode fisik
Seperti yang terlihat pada jurnal tersebut, tidak ada pencatatan akun persediaan barang.

Untuk mengetahui jumlah persediaan, pada akhir periode persediaan barang harus dihitung secara fisik (stock opname).

Salah satu kelemahan metode fisik adalah tidak bisa mengetahui jumlah persediaan secara pasti sebelum dilakukan perhitungan fisik persediaan.

Dan karena jumlah persediaan tidak dicatat maka harga pokok penjualan (hpp) juga tidak bisa diketahui.

HPP baru bisa dihitung ketika persediaan sudah dihitung secara fisik pada akhir periode.

Bisa dibayangkan apabila dibutuhkan pelaporan persediaan setiap bulan, maka akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menghitung persediaan barang.

#2. Metode Perpetual

Tidak seperti metode fisik, metode pencatatan persediaan perpetual adalah metode yang mencatat/menjurnal persediaan barang dagang apabila terdapat transaksi yang berhubungan dengan persediaan.

Jadi apabila terdapat transaksi yang menyebabkan jumlah persediaan berubah, maka rekening persediaan juga akan turut dicatat.

Contoh jurnal transaksi pembelian dan penjualan metode perpetual.

contoh jurnal persediaan metode perpetual

Seperti yang terlihat pada contoh jurnal tersebut, bahwa persediaan turut dicatat dalam transaksi pembelian dan penjualan barang dan juga semua transaksi yang bisa mempengaruhi jumlah persediaan barang.

Dan pada transaksi penjualan langsung disandingkan dengan harga pokok penjualan (HPP).

Jumlah persediaan barang dan harga pokok penjualan langsung bisa diketahui sewaktu waktu tanpa harus menunggu perhitungan fisik.

Penggunaan metode pencatatan perpetual ini akan memudahkan dalam penyusunan laporan laba rugi dan neraca karena tidak harus menghitung jumlah persediaan barang secara fisik diakhir periode untuk "hanya" mengetahui saldo persediaan akhir.

Walaupun pada pencatatannya tidak perlu mengadakan perhitungan fisik, ada suatu hari perusahaan harus mengecek langsung jumlah persediaan dan mencocokkannya dengan laporan pencatatan.

Perhitungan fisik memang masih diperlukan, namun dilakukan hanya ketika dibutuhkan.

Hal ini dilakukan untuk menghindari ketidakcocokan jumlah fisik persediaan yang ada digudang dan buku catatan.

Apabila ada selisih antara perhitungan fisik dan pencatatan, maka harus dicari penyebab mengapa ada selisih.

Ketidakcocokan ini bisa terjadi karena hal hal seperti kesalahan dalam penulisan/penjurnalan, atau karena ada hal yang mengurangi persediaan seperti barang tercuri atau barang mengalami kerusakan.

Agar lebih mudah untuk memahami metode fisik dan perpetual beserta perbedaan pencatatannya, lebih baik mempelajari dengan contoh soal transaksi persediaan barang dagang.

# Contoh Soal Persediaan Barang Dagang
  1.  PT Nivia Rotan melakukan pembelian tunai 10 unit kursi seharga Rp 500.000 per kursi dan mendapatkan potongan sebesar 5 %. PT Nivia Rotan harus menanggung ongkos pengiriman sebesar Rp 400.000.
  2.  Ketika barang telah diterima, ternyata terdapat 1 buah kursi yang cacat dan dikembalikan lagi kepada supplier
  3. Sebanyak 7 kursi terjual secara tunai dengan harga Rp 950.000 /unit dengan memberikan diskon sebesar 5 % kepada pembeli dan untuk mengantar kursi tersebut hingga kerumah pembeli, PT Nivia Rotan mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000
  4. Sebanyak 2 kursi dikembalikan lagi/direturn karena tidak memenuhi speksifikasi pembeli.
Maka pencatatan jurnal transaksi tersebut dengan metode fisik dan metode perpetual adalah sebagai berikut, dan anda bisa membandingkan perbedaan diantara keduanya.
Jurnal Persediaan Barang Dagang

Keterangan

Transaksi 01.

Jumlah Rp 5.150.000 diperoleh dari pembelian bersih. yaitu jumlah pembelian - diskon pembelian kemudian ditambah biaya angkut pembelian

Total pembelian 10 unit: 10 X Rp 500.000 = Rp 5.000.000

Diskon pembelian : 5% x Rp 5.000.000 = Rp 250.000

Harga pembelian : Rp 5.000.000 - Rp 250.000 = Rp 4.750.000

Pembelian bersih : Rp 4.750.000 + Ongkir Rp 400.000 = Rp 5.150.000

Apabila dijurnal satu persatu akan terlihat seperti ini:

jurnal pembelian persediaan barang

Transaksi no 2 : pencatatan adanya return pembelian.

Transaksi no 3: Disini terlihat perbedaan antara metode fisik dan perpetual
  • Metode fisik hanya mencatat transaksi penjualan saja dan tidak mencatat pengeluaran persediaan, karena persediaan akan dihitung secara fisik diakhir periode.
  • Metode perpetual bukan hanya mencatat penjualan, namun juga mencatat pengeluaran persediaan yang akan menambah harga pokok penjualan (HPP).
Penjelasan mengenai angka yang tertera bisa dilihat disini.

jurnal penjualan barang dagang


Transaksi no 4:
  • Metode fisik hanya mencatat return penjualan dan tidak mencatat "persediaan" yang datang kembali (return) karena nanti persediaan akan dicatat secara fisik diakhir periode.
  • Metode perpetual mencatat persediaan yang datang kembali.
Penjelasan mengenai angka yang tertera:

jurnal return penjualan barang dagang

Metode Penilaian Persediaan

Sifat persediaan barang dagang sangat beragam. Hal ini menyebabkan perlakuan dan penilaian terhadap persediaan bisa berbeda beda.

Misalnya, barang yang barang yang mudah aus, cepat busuk, atau harus dikeluarkan terlebih dahulu memiliki perlakuan yang berbeda dengan barang yang tahan lama.

Barang pecah belah perlakuannya berbeda dengan barang yang tahan banting.

Maka, diperlukan prioritas perlakuan mengenai arus keluar masuk barang dari gudang. Mana yang harus dikeluarkan terlebih dahulu dan yang dikeluarkan paling akhir.

Penilaian persediaan barang akan semakin rumit apabila terdapat harga yang berbeda diantara persediaan barang sejenis.

Misalnya, 5 hari yang lalu UD Beras Jaya membeli persediaan beras sebanyak 1 ton dengan harga Rp 10.000 per kg.

Kemudian pada hari ini membeli persediaan beras kembali sebanyak 2 ton dengan harga Rp 11.000.000

Terlihat ada perbedaan harga pembelian barang dalam tempo 5 hari.

Kita tahu, beras memiliki fluktuasi harga yang lumayan tinggi saat paceklik.

Ketika beras terjual, beras mana yang harus dikeluarkan ?

Apakah beras dengan harga Rp 10.000 per kg atau Rp 11.000 per kg ?

Untuk itulah terdapat 3 metode yang diciptakan untuk mencatat dan menilai persediaan barang, yaitu:

#1. FIFO (First In First Out) | masuk pertama, keluar pertama

Pada metode FIFO, persediaan yang pertama kali masuk adalah yang keluar terlebih dahulu.

Misalnya pada kasus UD Beras Jaya tadi, ketika beras terjual, maka beras yang dikeluarkan adalah beras seharga Rp 10.000 dahulu, apabila sudah habis maka kemudian beras seharga Rp 11.000 yang dikeluarkan.

#2. LIFO (Last In First Out) | masuk terakhir, keluar pertama

Pada metode LIFO, barang yang terakhir kali masuk adalah yang keluar pertama.

Pada kasus UD Beras Jaya tadi, ketika beras terjual maka yang pertama kali keluar adalah beras seharga Rp 11.000, apabila beras seharga tersebut telah habis maka beras seharga Rp 10.000 dikeluarkan kemudian.

#3. Metode Rata Rata (Average Method)

Metode penilain persediaan rata rata adalah nilai persediaan dari nilai persediaan metode LIFO dan metode FIFO.

Anda bisa membaca lanjutan ulasan metode rata rata disini : Harga Pokok Penjualan Metode Rata Rata

Apabila terdapat kesalahan penulisan, penjumlahan atau anda punya pemikiran yang lain, silahkan tinggalkan pesan dikolom komentar. 
Manajemen Persediaan, Fungsi dan Metode yang Dipakai

Manajemen Persediaan, Fungsi dan Metode yang Dipakai

Apa itu Manajemen Persediaan ?

Manajemen persediaan adalah bagian dari perusahaan yang berfungsi untuk mengatur persediaan barang yang dimiliki. Mulai dari cara memperoleh persediaan, penyimpanannya, sampai persediaan tersebut dimanfaatkan atau dikeluarkan.

Mungkin terdengar hal yang sepele.

Hanya untuk mengurusi persediaan barang saja sampai harus diperlukan manajemen persediaan.

Dan mungkin ada yang menganggap manajemen persediaan terlalu berlebihan dan tidak diperlukan. Salah besar.

Disini akan dijelaskan mengapa manajemen persediaan itu penting. Apa saja fungsinya. Bagaimana cara mengaturnya. Biaya biaya yang muncul bahkan hingga hubungannya dengan manajemen yang lain.

Mengapa Manajemen Persediaan Harus Ada ?

manajemen persediaan
ilustrasi persediaan digudang sumber

Persediaan adalah aset perusahaan yang menganggur (idle). Atau aset yang masih disimpan atau aset yang menunggu untuk digunakan (dijual)

Contoh persediaan adalah persediaan barang dagang (pada perusahaan dagang)

Dan pada perusahaan manufaktur, jenis persediaan bisa lebih banyak lagi, seperti persediaan bahan baku (material), barang setengah jadi dan barang jadi.

Mengatur persediaan bisa dikatakan gampang gampang susah.

Apabila persediaan yang tersedia jumlahnya berlebihan, maka persediaan akan menimbulkan pengeluaran yang tinggi. Setiap barang yang disimpan pasti memerlukan biaya.

Namun apabila persediaan yang tersedia kurang, maka akan menghambat kegiatan produksi, risikonya bisa kehilangan penjualan dan konsumen.

Terlebih lagi dengan adanya ketidakpastian mengenai waktu pemesanan, pasokan dari supplier dan ketidakpastian permintaan.

Dan bahkan barang seperti barang pecah belah dan barang yang cepat rusak/busuk memerlukan perlakuan khusus.

Untuk itulah diperlukan manajemen persediaan agar perusahaan bisa menentukan jumlah persediaan yang optimal dengan mengeluarkan biaya yang sangat rendah namun masih bisa memenuhi kebutuhan.

Fungsi Manajemen Persediaan

Terdapat beberapa fungsi manajemen persediaan bagi perusahaan, antara lain:
  1. Memastikan persediaan tersedia (safety stock)
  2. Mengurangi risiko keterlambatan dalam pengiriman persediaan
  3. Mengurangi risiko harga yang fluktuatif
  4. Memperoleh diskon dari pemesanan dalam jumlah yang banyak
  5. Menyesuaikan pembelian dengan jadwal produksi
  6. Mengantisipasi perubahan yang terjadi pada penawaran maupun permintaan
  7. Mengantisipasi permintaan mendadak
  8. Menjaga jumlah persediaan yang hanya tersedia musiman, sehingga ketika bahan sedang tidak musim, perusahaan masih memiliki persediaan barang tersebut.
  9. Mengawasi pesanan persediaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, bisa dikembalikan ke supplier bila tidak cocok.
  10. Menjaga komitmen terhadap customer agar barang bisa diproduksi dengan waktu dan kualitas yang diminta
  11. Menentukan kuantitas persediaan yang harus di simpan untuk berjaga jaga

Faktor yang Mempengaruhi Persediaan

Ada beberapa faktor yang diperhitungkan oleh manajemen persediaan dan bisa mempengaruhi tingkat persediaan perusahaan, seperti:
  1. Jumlah dana yang tersedia, ketersediaan dana yang dimiliki sangat berpengaruh terhadap prioritas pembelian persediaan, item apa yang urgen untuk dibeli dan item apa yang masih bisa ditunda.
  2. Lead time, waktu tunggu barang yang dipesan sampai barang diterima
  3. Frekuensi penggunaan, semakin sering digunakan, semakin kecil persediaan yang tersedia
  4. Daya tahan persediaan, persediaan yang memiliki daya tahan yang lemah seperti buah, daging dan barang sejenis harus segera cepat dikeluarkan/dijual/digunakan.

Apabila dilihat dari tipe persediaan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi setiap tipe persediaan, seperti:

# Bahan mentah

Bahan mentah atau bahan baku bisa dipengaruhi oleh sifat bahan baku tersebut, musiman atau tidak, cepat rusak atau tidak.

Selain itu perkiraan produksi, ketersediaan barang dipemasok, penjadwalan produksi dan pembelian juga mempengaruhi persediaan bahan mentah

# Barang dalam proses

Barang dalam proses atau barang setengah jadi adalah barang hasil produksi bahan baku namun masih belum layak jual.

Barang dalam proses ini bisa dipengaruhi oleh lamanya waktu produksi sejak bahan mentah mulai diproses hingga menjadi barang jadi.

# Barang jadi

Barang jadi adalah barang dalam proses yang telah selesai difinising dan siap untuk dijual. Barang jadi ini bisa dipengaruhi oleh penjualan. 

Semakin banyak penjualan, semakin sedikit barang jadi yang disimpan.

Apa saja yang dilakukan oleh manajemen persediaan ?

Ada beberapa tugas utama dari manajemen persediaan.
  1. Memastikan persediaan cukup
  2. Efisisiensi biaya persediaan
  3. Memastikan persediaan diperlakukan dengan optimal
Salah satu tujuan utama dari manajemen persediaan adalah melakukan efisiensi biaya. Ujungnya adalah untuk membantu perusahaan untuk menghasilkan laba yang maksimal.

Efisiensi yang ingin dicapai adalah memperkecil biaya persediaan.

Apa itu biaya persediaan ?

Biaya persediaan adalah biaya yang muncul akibat pengadaan persediaan, penyimpanan hingga persediaan tersebut keluar (dijual atau dipakai oleh perusahaan).

Biaya persediaan ini tidak boleh dianggap hal yang sepele karena jumlahnya bisa sangat besar apabila tidak ditangani dengan benar.

Biaya Persediaan

Mungkin anda tidak menyangka bahwa hanya untuk memperlakukan persediaan bisa menimbulkan biaya biaya yang banyak jumlahnya dan banyak jenisnya.

Umumnya, biaya persediaan dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu:
  1. Biaya pemesanan (order cost)
  2. Biaya penyimpanan (carrying cost)
  3. Biaya persiapan (set up cost)
  4. Biaya kehabisan (kekurangan bahan)

#1. Biaya Pemesanan (Order Cost)

Biaya pemesanan adalah biaya yang berkaitan dengan kegiatan pemesanan barang (persediaan).

Biaya ini meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan mulai dari pertama kali order (penempatan pemesanan) hingga barang yang dipesan tersebut tersedia digudang.

Beberapa contoh biaya pemesanan diantaranya adalah :

1.a. Biaya Komunikasi

Biaya yang muncul karena dibutuhkannya komunikasi selama pemesanan barang berlangsung. Seperti:
  1. Biaya telepon
  2. Biaya fax
  3. Biaya materai dan surat menyurat (ada biaya kirim surat)
  4. dan bahkan ada biaya fee/komisi (bila komunikasi dilakukan oleh pihak ketiga)

1.b. Biaya Pengiriman

Biaya pengiriman adalah biaya pengangkutan barang dari tempat supplier hingga barang tersebut sampai kegudang pembeli. Yang termasuk biaya pengiriman antara lain:
  1. Biaya transportasi atau ekspedisi
  2. Biaya bongkar muat
  3. Asuransi pengiriman
Tetapi terkadang diberbagai kasus. Ada supplier menanggung biaya pengiriman.

1.c. Biaya Pengepakan (Packing)

Pengepakan barang bertujuan supaya barang diterima dengan utuh dan meminimalisir terjadinya cacat pada barang.

Jangan dianggap biaya packing ini sedikit.

Contohnya. Apabila barang bervolume besar, pecah belah dan jumlahnya banyak, maka biaya packing ini bahkan bisa mencapai 5 persen harga barang.

Misalnya gerabah atau mebel yang gampang tergores, proses packingnya bisa berlapis lapis, mulai dari diikat tali, packing karton, plastik wrap, kemudian dimasukkan kedalam kardus bahkan hingga dipacking kayu keliling.

1.d. Biaya Pemprosesan Pemesanan 

Ada kalanya perusahaan yang memesan barang khsusunya barang yang membutuhkan detail dan kualitas tinggi seperti produk furniture jati atau rotan.

Pembeli biasanya mengutus orang untuk mengunjungi workshop tempat supplier melakukan produksinya.

Orang yang diutus akan mengecek kualitas produk yang dihasilkan sebelum dikirimkan keperusahaannya.

Biasanya hal ini dilakukan dalam jual beli ekspor impor atau jual beli dimana ada jarak yang jauh antara supplier dan perusahaan pembeli barang.

Pembeli tidak mau kualitas barangnya berbeda atau berkurang ketika barang sudah dipacking dan dikirim dengan biaya pengiriman yang mahal.

2.e. Biaya Pemeriksaan Penerimaan (biaya inspeksi)

Sebelum penerima barang menandatangi surat penerimaan barang, penerima harus memeriksa dahulu barang tersebut apakah sudah sesuai dengan standar dan kualitas yang sudah ditentutaan.

Misalnya pembelian telur yang jumlahnya sangat banyak. Pembelian seperti ini memerlukan orang yang banyak untuk memeriksa telur telur tersebut agar tidak ada telur tidak layak yang diterima.

Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati hati agar tidak ada telur yang pecah yang menjadi biaya pemeriksaan semakin meningkat.

#2. Biaya Penyimpanan (Carrying Costs/Holding Cost)

Biaya penyimpanan adalah biaya yang muncul dan dikeluarkan untuk menyimpan barang atau material (bahan baku) yang telah dipesan sebelumnya.

Biaya penyimanan ini bisa berubah sesuai dengan nilai persediaan yang disimpan. Contoh biaya penyimpanan antara lain:

2.a. Biaya Fasilitas Penyimpanan

Biaya fasilitas penyimpanan adalah semua biaya yang timbul akibat fasilitas yang diperlukan untuk menyimpan persediaan barang.

Contoh biaya fasilitas penyimpanan seperti:
  1. Biaya sewa gudang (jika menyewa dan tidak punya gudang sendiri)
  2. Biaya penerangan 
  3. Biaya pengatur suhu udara dan kelembaban agar barang tetap awet seperti untuk penyimpanan buah dan sayur, daging atau bahan makanan lain yang memerlukan pengaturan suhu yang khusus.
  4. Dan semua biaya diatas memunculkan biaya listrik.

2.b. Biaya Asuransi

Biaya asuransi adalah biaya untuk meminimalisir risiko terhadap hal hal yang tidak diinginkan seperti adanya kebakaran, banjir, runtuh karena gempa atau kondisi force majoer lain yang bisa terjadi pada persediaan yang disimpan.

Dengan asuransi, setidaknya barang yang terkena musibah tidak menimbulkan kerugian material yang berarti.

2.c. Biaya Keamanan

Terkadang, asuransi tidak menjamin terhadap kerugian akibat gagalnya keamanan dalam menjaga persediaan perusahaan seperti pencurian, perampokan maupun perusakan.

Untuk mencegahnya, perusahaan harus mengeluarkan sejumlah biaya seperti biaya cctv, gaji satpam, pembangunan pagar atau biaya yang lain yang masih bertujuan untuk mengamankan persediaan.

2.d. Biaya Keusangan

Ketika penjualan perusahaan mengalalami penurunan dan menyebabkan perputaran persediaan sangat lambat maka persediaan barang yang disimpan terlalu lama menjadi usang atau berkurang nilainya.

Contohnya pakaian, persediaan pakaian yang masih bertahan selama beberapa bulan bisa menjadi usang karena trend pakaian yang berubah. Pakaian yang dianggap sudah tidak "ngetrend" lagi atau modelnya sudah usang dan menjadi lebih sulit untuk dijual kembali.

Atau produk teknologi seperti smartphone. Setiap bulan produk baru yang lebih canggih dengan fitur yang lebih lengkap membuat stok lama menjadi usang atau ketinggalan "jaman" sehingga semakin sulit untuk dijual kembali.

2.e Biaya Penyusutan Persediaan

Bukan hanya aktiva tetap, penyusutan juga bisa terjadi pada persediaan perusahaan.

Contohnya buah, semakin lama buah disimpan semakin menyusut beratnya (perkg/pergram). Misalnya jeruk yang hanya bertahan beberapa hari, semakin lama jeruk disimpan karena tidak terjual, maka berat jeruk tersebut akan semakin berkurang. Maka nilainya juga berkurang karena buah dihargai dengan satuan berat per kg.

Contoh lain, penyusutan rumah bagi developer.

Bagi developer yang bisnisnya adalah menjual rumah, rumah merupakan persediaan.
Walaupun harga tanahnya kemungkinan meningkat, namun fisik bangunan rumah tersebut pasti mengalami penyusutan.

Apakah itu cat, kusen, pintu atau ornamen yang lain. Pada akhirnya developer harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan rumah yang masih belum terjual tersebut.

2.f. Biaya Penurunan Harga

Biaya penurunan harga biasanya terjadi karena harga barang yang tidak stabil (fluktuatif).

Misalnya beras, saat beras dibeli harganya sebesar Rp 12.000 per kg. Kemudian, beras tersebut disimpan dalam gudang untuk beberapa waktu karena belum terjual atau memang sengaja disimpan tidak dijual.

Namun ketika terjual ternyata harga pasar beras mengalami penurunan dan beras tersebut hanya dihargai sebesar Rp 11.500 per kg

Ada selisih kerugian sebesar Rp 500 per kg.

Kerugian ini adalah biaya penurunan harga yang harus ditanggung.

2.g. Biaya Perhitungan Fisik dan Konsiliasi Laporan

Hanya untuk menghitung stok persediaan secara fisik ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Jika persediaan hanya sebanyak 1 gudang ukuran kecil mungkin tidak akan membutuhkan biaya penghitungan (upah) yang besar.

Namun apabila jumlah persediaan barangnya hingga puluhan gudang dengan ukuran gudang yang sangat luas.

Itu perkara lain, tentu semakin banyak orang yang diperlukan. semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan.

2.h. Biaya Penanganan Persediaan

Setiap jenis persediaan tentu memerlukan penanganan yang berbeda. Biaya akan semakin mahal apabila penanganan persediaan tersebut semakin sulit seperti barang pecah belah (fragile) atau barang yang cepat busuk seperti buah dan makanan basah.

Barang pecah belah akan membutuhkan lebih banyak biaya dibandingkan barang seperti besi atau paku.

Barang pecah belah memerlukan perlakuan khusus seperti cara peking barang, penempatan barang, penyusunan barang digudang, cara mengangkat, pemberian alas untuk barang dan perlakuan khusus lain yang membutuhkan biaya yang lebih.

2.i. Biaya Pelaksana Gudang

Biaya ini cukup jelas, bahwa gudang harus ada yang jaga. Harus ada personel yang mengawasi dan mengatur alur dari barang yang keluar masuk gudang. Ada mandornya. dan ada anak buanya.

2.j. Biaya Kerusakan Barang

Kerusakan barang bisa terjadi kapan saja ketika barang disimpan digudang. Kerusakan bisa terjadi karena kesalahan pengangkatan, penumpukan, atau sebab yang lain.

2.k. Biaya Modal (Cost of Capital)

Biaya modal adalah biaya yang dihitung sebesar kesempatan atau peluang yang hilang apabila dana yang digunakan untuk persediaan digunakan untuk kegiatan (investasi) lain yang lebih menguntungkan.

Biasanya, persediaan yang disimpan karena adanya kelebihan produksi akan disimpan didalam gudang. Jika saja perusahaan membeli persediaan sesuai dengan kebutuhan (membeli lebih sedikit) maka tidak ada persediaan yang disimpan beserta biaya penyimpanannya.

Uang yang digunakan untuk membeli persediaan dan biaya penyimpanan tersebut seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih menguntungkan.

#3. Biaya Persiapan (Set up Cost)

Biaya persiapan (set up cost) muncul apabila perusahaan memproduksi sendiri barang atau material persediaan yang dibutuhkan.

Contoh biaya set up cost diantaranya:
  1. Biaya mesin yang tidak bekerja
  2. Biaya persiapan tenaga kerja langsung
  3. Biaya surat menyurat
  4. Biaya persiapan peralatan dan perlengkapan
  5. Biaya penjadwalan

#4. Biaya Kekurangan Persediaan (Shortage Cost)

Biaya kekurangan atau kehabisan persediaan adalah biaya yang muncul karena bahan persediaan tidak tersedia saat dibutuhkan.

Misalnya perusahaan menerima pesanan namun ketika pesanan hendak diproduksi, ternyata tidak ada bahan baku yang tersedia sehingga perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan pesanan tersebut.

Beberapa biaya (peluang) yang timbul akibat kekurangan persediaan diantaranya:

4.a. Kehilangan Penjualan

Penjualan yang sudah "deal" bisa batal karena perusahaan tidak mampu memenuhinya.

Ada peluang yang hilang dan ini adalah salah satu bentuk kerugian akibat kesalahan manajemen persediaan.

4.b Kehilangan Pelanggan

Bukan hanya kehilangan penjualan, pelanggan pun bisa kabur dan pindah keperusahaan lain akibat kekecewaan dan tidak bisa ditangani.

4.c. Biaya Pemesanan Khusus

Terkadang, untuk menjaga kepuasan pelanggan, perusahaan akan tetap memaksa memproduksi pesanan walaupun persediaan bahan baku kurang atau habis.

Ada beberapa opsi yang dipakai perusahaan agar bisa tetap menghasilkan produk.

Pertama, perusahaan men-sub-kan pekerjaan ke perusahaan afiliasi sejenis.

Dengan "mengoper" pekerjaan ini, ada risiko ketidaksamaan kualitas produk dan harga yang lebih tinggi daripada jika barang produksi sendiri.

Kedua, perusahaan membeli bahan baku secara mendadak dengan harga yang lebih tinggi. Bisa ke supplier tetap atau pun kesuplier lain yang lebih tinggi harga bahan bakunya dengan pengiriman yang cepat (tentu menambah biaya lagi)

5.d. Biaya Pengiriman Khusus

Biasanya, perusahaan yang bahan bakunya kurang dan harus menunggu bahan baku yang baru, kemungkinan mengalami keterlambatan dalam produksi.

Agar barang tidak datang terlambat ketempat konsumen, ada kalanya perusahaan harus memakai ekspedisi pengiriman khusus yang cepat. Bisa berupa pesawat, trucking, kapal atau moda apapun yang cepat dan biayanya lebih besar daripada pengiriman standar.

Kenaikan biaya pengiriman ini bisa merugikan atau paling tidak mengurangi pendapatan perusahaan.

6.d. Produksi Terganggu

Kekurangan bahan baku juga bisa menggangu produksi. 

Ketika bahan baku kurang, produksi ditunda sampai bahan baku yang baru datang kembali.

Namun waktu untuk menunggu bahan baku yang baru ini memakan banyak waktu dan membuat deadline waktu produksi semakin sedikit.

Ketika bahan baku sudah lengkap, kemungkinan toleransi waktu semakin sedikit dan pengerjaan barang diproduksi secara tergesa-gesa.

Produksi item yang lainpun terganggu karena perusahaan memprioritaskan produksi yang hampir telat tersebut.

7.e. Gangguan Jadwal Produksi

Ada biaya peluang yang hilang apabila produksi tidak bisa berjalan pada jadwal yang sudah direncanakan karena kekurangan bahan.

Jadwal yang berubah ini mengakibatkan produksi item atau barang lainnya ikut terganggu. Hal ini bisa berpengaruh terhadap output yang dihasilkan, kualitas barang dan juga biaya membengkak.

Bagaimana teknis manajemen dalam mengatur persediaan perusahaan ?

Untuk mengatur dan menyeimbangkan biaya penyimpanan dan biaya pemesanan persediaan, perusahaan bisa menggunakan beberapa metode pengendalian persediaan seperti berikut:

Pendekatan Metode Manajemen Persediaan

Dalam mengelola persediaan, manajemen bisa menggunakan salah satu dari beberapa metode yang sering digunakan dibawah ini
  1. Metode EOQ (economic order quantity)
  2. Metode MRP (material Requirement planning)
  3. Metode JIT (just in time)
  4. Metode analisa ABC

#1. Metode EOQ (Economic Order Quantity)

Metode EOQ atau metode kuantitas pesanan ekonomi adalah metode pembelian persediaan berdasarkan jumlah pesanan yang diterima.

Maksudnya begini...

.... Ketika perusahaan mendapatkan pesanan produk dengan jumlah, spesifikasi dan waktu yang telah ditentukan oleh customernya. Perusahaan memiliki kepastian mengenai berapa kebutuhan, spesifikasi dan harga bahan baku yang akan dibeli untuk memenuhi pesanan tersebut.

Misalkan perusahaan mebel mendapat pesanan kursi sebanyak 1.000 unit dengan spesifikasi tertentu yang harus diselesaikan selama 3 bulan.

Setiap kursi misalnya membutuhkan 1 kubik kayu mentah dengan spek dan ukuran tertentu dengan harga Rp 2.000.000 perkubik.

Apabila pesanan sebanyak 1.000 unit, maka kebutuhan kayu mentah sebanyak 1.000 kubik dengan nominal Rp 2 Miliar.

Jadi selama 3 bulan kedepan perusahaan bisa memastikan bahwa perusahaan membutuhkan kayu sebanyak 1.000 kubik dan menyiapkan dana Rp 2 Miliar.

Jelas, berapa kebutuhannya, berapa nominalnya.

Karena hitungannya pas, perusahaan bisa memesan kayu dengan jumlah yang paling ekonomis untuk memininalkan biaya persediaan.

Pas. Tidak ada kayu yang tersisa.

Namun masih bisa memenuhi kebutuhannya.

Dengan demikian, maka tidak ada biaya persediaan seperti biaya pemeliharaan, biaya gudang atau sewa gudang apabila perusahaan memesan kayu berlebih.

Metode EOQ bisa dikatakan metode pemesanan yang paling optimal dan ekonomis karena jumlah yang dipesan bisa memenuhi kebutuhan dengan mengeluarkan biaya yang paling rendah.

Namun Metode EOQ berlaku hanya jika:
  1. Biaya pemesanan jumlahnya selalu sama
  2. Item barang yang dipesan tidak tergantung pada barang lain (independen)
  3. Pesanan telah diterima dengan pasti
  4. Jumlah kebutuhan bahan baku sudah bisa ditentukan dan pasti
  5. Biaya pemeliharaan persediaan per unit sama
  6. Harga barang tidak berubah (konstan)
  7. Ketersedaiaan barang tidak terbatas
  8. Barang tidak cepat rusak 
  9. Jumlah kebutuhan stabil

#2. Metode MRP (Material Requirement Planning)

Metode material requirement planning (MRP) atau metode perencanaan kebutuhan material adalah perencanaan dan pengendalian persediaan untuk menjamin material atau bahan baku selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan.

Bukan hanya itu, metode MRP juga bertujuan untuk menjaga persediaan dalam jumlah yang sedikit.

Karena semakin sedikit jumlah persediaan maka biaya persediaan yang muncul juga akan sedikit.

Perencanaan pada metode ini bisa meliputi rencana penjadwalan pembelian, jadwal produksi dan pengiriman material.

Metode MRP menentukan jumlah kebutuhan material yang dibutuhkan, jadwal produksi dan bahkan berjaga jaga terhadap hal hal buruk yang mungkin terjadi.

Ada beberapa keuggulan dari metode MRP ini:
  1. Memberi informasi mengenai kapasitas pabrik
  2. Meminimalisir kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan dan sekaligus menjadi acuan perencanaan jumlah produksi
  3. Memperbaiki dan mengupdate jumlah pemesanan dan persediaan barang.
  4. Mengadakan persediaan dengan jumlah dan harga yang tepat.
  5. Dapat memenuhi permintaan material yang datang secara bergelombang

#3. Metode JIT (Just In Time)

Metode just in time (JIT) atau metode tepat waktu adalah metode yang mengusahakan perusahaan tidak menyetok atau memiliki persediaan.

Artinya persediaan nol (0) atau setidaknya mendekati nol

Apabila perusahaan tidak memiliki persediaan, maka perusahaan tidak akan menanggung biaya persediaan.

Jika perusahaan tidak memiliki persediaan bahan baku, bagaimana perusahaan bisa melakukan produksi ?

Inilah kelebihan metode just in time...

Metode ini berusaha mendatangkan persediaan bahan baku hanya pada saat yang dibutuhkan.

Pada saat yang tepat.

Dan dalam jumlah yang tepat sehingga tidak ada sisa.

Jadi perusahaan tidak sempat menahan atau menyimpan persediaan karena bahan baku datang jika hanya dibutuhkan dan dalam jumlah yang pas sehingga tidak ada yang tersisa.

Bagaimana caranya ?

Menjadikan pemasok bahan baku sebagai mitra bisnis yang utama. Bahkan harus dianggap seolah olah pemasok tersebut adalah bagian dari perusahaan. Ingat hanya "seolah-olah"

Pendekatan kepada pemasok ini harus dilakukan agar terjalin hubungan yang inten dan dibina untuk kebutuhan jangka panjang perusahaan.

Pemasok tidak boleh di ekploitasi hanya untuk kepentingan sesaat.

Apabila telah terjalin hubungan yang dekat antara pemasok dan perusahaan, maka berapapun dan kapanpun kebutuhan bahan baku perusahaan perusahaan, pemasok akan selalu berusaha untuk memenuhinya.

#4. Metode analisa ABC

Metode analisa ABC adalah metode penggolongan persediaan yang dibedakan berdasarkan nilai persediaan.

Nilai persediaan yang dimaksud adalah nilai total dari persediaan, bukan nilai atau harga persediaan per unit.

Persediaan akan digolong ke dalam kelas kelas.

Seperti kelas A, kelas B, kelas C dan seterusnya.

Untuk apa ada peng-kelas-an seperti ini?

Pembagian kelas seperti ini untuk memudahkan perlakuan persediaan perusahaan.

Setiap item persediaan memiliki perlakuan yang berbeda-beda.

Misalnya pabrik furniture/mebel.

Persediaan bahan baku bisa berupa kayu, cat (coating), paku dan mur.

Persediaan kayu, walaupun secara jumlah kuantitas tidak sebanyak cat dan paku. Tapi nilai nominal kayu adalah yang paling besar.

Perusahaan bisa menggolongkannya kedalam kelas A.

Perawatan kayu berbeda dengan perawatan cat dan paku. Kayu lebih sulit. Kayu yang berkualitas tinggi tidak boleh ditempatkan ditempat yang lembab. Tidak boleh terkena air. Tidak boleh ditumpuk rapat sehingga memakan banyak tempat digudang. Dijaga agar tidak dimakan rayap. Kadar air kayu harus dijaga dan perlakuan khusus lainnya.

Intinya ada biaya tambahan agar kualitas kayu terjaga.

Cat atau jenis coating lainnya seperti thinner, melamine dan sejenisnya memiliki nilai yang mungkin dibawah kayu namun lebih tinggi nilainya dibandingkan paku yang kuantitas per unitnya sangat banyak.

Cat/Coating bisa dimasukkan ke dalam kelas B

Walaupun ada teknik khusus agar kualitas cat masih terjaga namun secara umum perlakuan penyimpanan cat digudang lebih mudah daripada kayu,

Yang terakhir paku dan mur.

Paku secara kuantitas paling banyak jumlahnya, namun secara nilai, paku nilainya paling sedikit daripada kayu dan cat.

Paku bisa dimasukkan kedalam kelas C

Selain hanya membutuhkan sudut ruangan yang kecil, penyimpanan paku juga sangat mudah, tinggal diletakkan begitu saja. Dimana saja. Tidak memerlukan banyak perlakuan khusus.

Walaupun ada yang hilang atau rusak, nilai nominalnya tidak terlalu material.

Penentuan kelas kelas tersebut tidak mutlak dan bisa berbeda beda tergantung kebijakan manajemen dan perusahaan.

Kelasnya punya pun bisa lebih dari sekedar kelas A, kelas B, kelas C. Bisa kelas D dan seterusnya jika diperlukan.

Yang perlu diperhatikan adalah nilai dari persediaan, biaya persediaan per jenis item, kesulitan dan risiko terhadap kerusakan dalam penyimpanan digudang.

#5. Metode Periodic Review

Pendekatan metode periodic review adalah metode pemesanan barang yang dilakukan dengan jarak waktu atau interval waktu yang sama.

Pemesanan material bahan dijadwal secara rutin sehingga manajer keuangan bisa memperkirakan dan mempersiapkan biaya yang akan dikeluarkan.

Keunggulan metode periodic review ini salah satunya adalah untuk meredam fluktuasi naik turunnya permintaan dan kebutuhan persediaan.

Metode ini juga relatif mudah dilakukan karena tidak membutuhkan proses administrasi yang panjang karena pemesanan persediaan sudah terjadwal secara rutin.

Namun, metode ini juga memiliki sejumlah kelemahan.

Salah satunya adalah setiap kali pemesanan material jumlahnya sangat tergantung pada sisa persediaan yang ada pada saat pemesanan, sehingga ketika pemesanan material dilakukan, jumlah pesanan tidak sama.

Hal ini bisa berpotensi membuat stok persediaan habis terlebih dahulu sebelum waktu pemesanan material berikutnya tiba.

Untuk itu, safety stock atau stok persediaan yang aman untuk berjaga jaga harus besar.

Sehingga terkadang membutuhkan biaya persediaan yang besar pula.

Hubungan Manajemen Persediaan dengan Manajemen Lain

Manajemen persediaan berada diposisi yang penting bagi manajemen manajemen yang lain. Ada beberapa divisi manajemen yang kegiatannya berkaitan dengan persediaan barang seperti:

# Manajemen Pembelian

Manajemen persediaan berhubungan dengan manajer pembelian mengenai prioritas dan orientasi pembelian material dengan kuantitas yang besar supaya bisa mendapatkan potongan harga dari pemasok (supplier).

Semakin banyak barang yang dibeli, biasanya pemasok akan memberikan potongan harga bahkan menggratiskan ongkos pengiriman ke gudang perusahaan.

# Manajemen Produksi

Hubungan ini sangat jelas, manajemen produksi tentu saja membutuhkan persediaan bahan baku untuk memulai aktivitas produksinya.

Manajemen produksi ingin memastikan bahwa kebutuhan bahan baku bisa terpenuhi sesuai dengan standar kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan.

Komunikasi diantara dua divisi ini sangat penting agar kelancaran produksi barang tidak mengalami hambatan dan bisa menghasilkan produk dengan kualitas terbaik.

# Manajemen Keuangan

Hubungan dengan manajemen keuangan tidak jauh dari masalah pembelian material.

Manajemen selalu menyoroti efisiensi anggaran pengeluaran.

Manajemen keuangan lebih tertarik dengan pembelian material dalam jumlah yang besar karena bisa berpotensi mendapatkan potongan harga dari pemasok barang.

Namun dalam hal tertentu manajemen keuangan bisa menyarankan untuk melakukan pembelian dalam jumlah yang kecil, menyesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menyimpan terlalu banyak persediaan.

Peran manajemen persediaan dalam hubungannya dengan manajemen lain adalah menjaga perputaran persediaan dengan rekonsiliasi dengan manajemen yang lain yang berhubungan dengan persediaan.

    Tujuan Manajemen Keuangan Dalam Perusahaan

    Tujuan Manajemen Keuangan Dalam Perusahaan

    Tujuan Manajemen Keuangan - Masalah Keuangan ( Financial Management ) tentu tidak akan pernah terlepas dari kehidupan sehari hari kita sebagai mahluk ekononmi.

    Bukan hanya sebagai seorang individu, namun juga dengan hal yang berskala besar juga pasti berkaitan erat dengan masalah keuangan.

    Supaya bisa berjalan secara efisien dan efektif, maka keuangan harus bisa diatur dengan sedemikian rupa. Ilmu pengaturan keuangan ini umumnya kita sebut dengan Manajemen Keuangan.

    Tujuan Manajemen Keuangan

    Manajemen keuangan perusahaan paling tidak harus memiliki sasaran atau tujuan utama yang jelas agar bisa bekerja secara efektif dan efisien.

    manajemen keuangan
    Manajemen Keuangan

    Tujuan Tradisional

    Tujuan manajemen keuangan secara normatif adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Bisa dikata nilai perusahaan adalah harga saham perusahaan. Peningkatan harga saham yang melantai dibursa efek adalah indikator nilai dari perusahaan.

    Mengapa tujuan manajemen keuangan adalah untuk menaikkan nilai perusahaan ?
    • Harga pasar saham merefleksikan evaluasi oleh pasar terhadap prestasi dari perusahaan tersebut pada saat itu dan masa yang akan datang.
    • Tujuan memaksimalkan harga pasar turut memperhitungkan kapan pengembalian modal (return) akan diterima oleh para investor atau pemilik, rentang jangka waktu terjadinya, resiko atas return tersebut, serta kebijakan mengenai dividen.

    Namun perlu diingat, menaikkan nilai perusahaan tidak berarti menaikkan kenaikan laba perlembar saham (earning per share/EPS). Nilai perusahaan lebih dari sekedar nilai laba perusahaan.

    Tujuan dengan cara menaikkan laba tersebut sebenarnya sudah tidak memadai lagi, karena menurut Hampton, (1995) :
    • Memaksimalkan keuntungan atau laba tidak mempertimbangkan asas nilai waktu dari uang dan jangka rentang waktu pengembalian (return) modal dimasa yang akan datang.
    • Risiko atas pengembalian modal dimasa mendatang tidak diperhitungkan.
    • Kebijakan keputusan dividen yang diabaikan

    Meskipun laba perusahaan bisa mempengaruhi nilai perusahaan, laba perusahaan bukanlah faktor utama apalagi jika laba perusahaan diartikan dengan laba akuntansi. Laba akuntansi hanya melihat nominal pemasukan dibandingkan dengan nominal pengeluaran saja. Tidak melihat sisi dari keekonomian perusahaan. Bahkani banyak "pencatatan laba" yang sengaja "dikecilkan" untuk menghidari pembayaran pajak yang besar.
        Memaksimalkan kesejahteraan para pemegang saham tidak bisa membebaskan perusahaan tersebut dari pertanggung-jawaban sosial.

        Mengapa?  
        • Kesejahteraan para pemegang saham serta kehidupan perusahaan tersebut sangat bergantung pada tanggung jawab sosial dari perusahaan.
        • Perusahaan bisa dipandang memproduksi barang dan jasa pribadi ataupun barang dan jasa sosial yang nantinya akan sangat menguntungkan bagi para pemegang saham.

          Ada beberapa cara manajer keuangan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai perusahaan.
          1. Mengendalikan arus kas
          2. Memaksimalkan keuntungan
          3. Melakukan efisiensi
          4. Kelangsungan hidup perusahaan
          5. Mengurangi resiko operasional
          6. Mengontrol suku bunga

          1. Mengendalikan Arus Kas

          Untuk mencapai tujuan jangka pendek perusahaan, Arus kas keuangan perusahaan harus benar-benar dijaga dengan baik. Arus kas perusahaan bisa diatur dengan mengontrol penggunaan biaya-biaya operasional rutin seperti pembayaran gaji pegawai, beban listrik dan telepon, pembelian bahan baku, dan rutinitas rutin lainnya.

          Melihat pos-pos pengeluaran mana yang bisa ditekan penggunaannya dan juga menambah pos-pos pengeluaran yang dinilai memberikan dampak yang maksimal bagi perusahaan.

          Bukan hanya berbicara pengeluaran. Aliran kas masuk merupakan pos yang harus diawasi dengan baik. Mengambil tindakan atas piutang yang lama tidak tertagih, menegosiasi skema pembayaran yang ada, memberikan potongan pada penjualan tunai dan yang lainnya adalah salah satu contoh mengendalikan arus kas masuk.

          2. Memaksimalkan Keuntungan

          Seorang manajer keuangan dituntut untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin dengan sumber daya yang ada. Baik untuk jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

          Keputusan jangka panjang berhubungan dengan investasi perusahaan. Disemua jenis investasi terdapat ketidakpastian. Pemilihan jenis investas dan kombinasi harus diperhitungkan dengan jeli.
          Manajer keuangan bisa menganalisa data-data keuangan. untuk memutuskan investasi yang mana yang memberikan return yang tinggi dengan resiko seminimal mungkin ?

          Begitupun dengan memaksimalkan keuntungan jangka pendek. Manajer berusaha bagaimana caranya menekan pengeluaran seminimal mungkin, seefisien dan seekfif mungkin yang bisa dilakukan untuk memperoleh pemasukan yang diinginkan.

          3. Melakukan Efisiensi

          Hal ini terkait dengan pemaksimalan keuntungan diatas. Setinggi apapun angka penjualan, sebesar apapun pemasukan akan terasa tidak istimewa apabila pengeluaran yang dilakukan juga tinggi. Bahkan lebih tinggi dari pemasukan.

          Banyak cara dan metode dalam melakukan efisiensi. Bisa dengan langsung melakukan pemangkasan biaya-biaya pada pos-pos tertentu yang dirasa kurang memberikan kontribusi maksimal. Bisa dengan pemilihan metode akuntansi yang ada. Bisa dengan memilih kebijakan pendanaan atau pengadaan aktiva seperti pembelian secara kredit (bunga) ataupun tunai (potongan).

          4. Kelangsungan Hidup Perusahaan

          Prinsip akuntansi dikenal dengan istilah going concern. Prinsip going concern mengasumsikan bahwa perusahaan akan beroperasi secara terus-menerus tidak akan pernah berhenti. Bagaimana langkah manajemen keuangan agar perusahaan terus bisa bertahan hidup sepanjang waktu ?

          Manajemen keuangan hanya bisa memaksimalkan tugas atau kewajiban yang ada pada mereka. Keputusan manajemen keuangan tentang keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan keputusan dalam mengelola aktiva yang ada adalah langkah yang bisa diambil.

          Ancaman kelangsungan hidup perusahaan bisa berasal dari internal dan eksternal perusahaan. Istilah "manajemen bobrok" yang sering menjadi penyebab bangkrutnya perusahaan. Berhentinya kelangsungan perusahaan adalah penyebab internal. Dimana manajemen-manajemen yang ada termasuk manajemen keuangan tidak bisa memberikan tanggungjawab dan kinerja yang maksimal. Beserta koordinasi diantar lini manajemen tidak jalan.

          Kebijakan pemerintah. Kekalahan bersaing dengan perusahaan lain. Karena mininmnya inovasi atas produk, mahalnya biaya produksi, dan pangsa pasar yang dikuasai perusahaan lain adalah bisa menjadi penyebab eksternal dan sekaligus juga internal.

          Perusahaan yang berhasil dipersaingan selalu menjadikan inovasi dan efisiensi sebagai prioritas. Perusahaan bisa menghasilkan temuan baru, produk baru, teknologi baru dengan biaya produksi yang minimal.

          Tugas manajemen keuangan adalah dengan memastikan, mendorong dan memfasilitasi dengan keuangan agar semua itu terjadi melalui dana-dana yang dikelolanya.

          Bagaimana cara menghadapi persaingan dan ancaman peraturan pemerintah yang tidak stabil? Manajemen keuangan harus menyiapkan secara dini kondisi keuangan perusahaan agar segera bisa mencari alternatif ataupun menjaga uang untuk digunakan manufer perusahaan agar bisa berjalan.

          Fluktuasi pasar dan peraturan harus disikapi dengan matang. Manajer keuangan bisa bekerjasama antara industri dan pemerintah. Agar bisa merumuskan peraturan yang bisa menampung kepentingan perusahaan.

          Manajemen keuangan dituntut untuk bisa memaksimalkan keputusan-keputusan yang akan ditempuh dengan berlandaskan pada masa depan perusahaan dimasa yang akan datang.

          5. Mengurangi Resiko Operasional 

          Ketika perusahaan sedang beroperasi, berproduksi, beraktivitas rutin seperti biasa. Mungkin tanpa disadari terdapat banyak resiko yang terus mengikutinya. Resiko fisik ataupun resiko keuangan.

          Penjualan barang secara kredit misalnya. Disana terdapat resiko piutang yang tidak tertagih yang bisa mengurangi pemasukan perusahaan. Mengganggu arus kas perusahaan.

          Contoh lain resiko peralatan produksi yang tidak bisa berjalan optimal yang bisa mengganggu jadwal produksi dan bisa membuat persediaan bahan baku menumpuk. Peristiwa ini selain bisa mempengaruhi arus kas perusahaan, juga bisa membuat jadwal yang tidak akurat, customer bisa komplain yang bisa memepengaruhi reputasi perusahaan. Selain itu dalam kondisi bahan baku tertentu yang tidak tahan lama, tidak segera diproduksi membuat kondisinya tidak maksimal. Ujungnya mempengaruhi kualitas output yang dihasilkan.

          Semua tahapan-tahapan operasional dari awal hingga akhir, hingga penjualan benar-benar dinikmati harus dilakukan dengan kontrol yang rutin dan hati-hati untuk menghindari segala kemungkinan resiko yang mengikuti.

          Koordinasi dengan manajemen lain. khusunya manajemen operasional atau produksi benar-benar terjalin baik. Komunikasi mengenai kebutuhan keuangan operasional harus inten dilakukan.

          6. Mengontrol Struktur Modal

          Struktur modal perusahaan adalah perbandingan atau proprosi antara hutang dan modal perusahaan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

          Hutang yang dimaksud adalah hutang jangka panjang. Hutang jangka pendek tidak termasuk dalam struktur modal karena hutang ini umumnya berubah-ubah sesuai kebutuhan. Sedangkan hutang jangka panjang sifatnya relatif lebih panjang.

          Dalam neraca keuangan, Hutang jangka panjang dan ekuitas (modal) perusahaan berada pada sisi pasiva.

          Pada struktur modal perusahaan, bunga obligasi bisa mempengaruhi nilai perusahaan. Semakin tinggi baiya obligasi (bunga), bahkan melibihi dari yield (penghasilan) dari pemegang saham, maka nilai perusahaan akan turun karena ada kemungkinan investor akan menjual sahamnya lalu ditukar dengan obligasi yang menghasilkan lebih besar.

          Bahwa tujuan manajemen keuangan adalah untuk menaikkan nilai saham bukan berarti harus mengorbankan para kreditur atau pemegang obligasi.

          Tujuan manajemen mengatur struktur modal adalah untuk menggabungkan sumber pendanaan yang akan digunakan perusahaan untuk operasi maupun investasi.

          Pencarian gabungan sumber dana yang memiliki biaya yang paling kecil dan bisa memberikan efek maksimal terhadap harga saham perusahaan adalah sturktur modal yang paling optimal.

          Referensi: http://mysunsetland.blogspot.co.id/2016/09/fungsi-dan-tujuan-manajemen-keuangan.html

          Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design