Showing posts sorted by relevance for query amortisasi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query amortisasi. Sort by date Show all posts
Pengertian AMORTISASI

Pengertian AMORTISASI

Apa Itu Amortisasi ?

Amortisasi - Pada ilmu akuntansi terdapat istilah penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis yang lama.

Aset yang mempunyai umur ekonomis lumayan lama adalah aset tetap dan aset tidak berwujud.

Contoh aktiva tetap misalnya tanah, bangunan, mesin, kendaraan dan yang lainnya

Contoh aset tak berwujud misalnya hak paten, merk dagang, goodwill dan yang lainnya.

Semua aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai setiap waktu.

Nah....

.... Penurunan nilai dalam pengertian akuntansi ini dikenal sebagai penyusutan (depresiasi) untuk aktiva tetap dan AMORTISASI (amortization) untuk aktiva tidak berwujud.

pengertian amortisasi
Amortisasi

Pengertian Amortisasi

Depresiasi merupakan alokasi secara sistematis jumlah nominal yang bisa disusutkan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut.

Sedangkan pengertian amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu aktiva tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu di setiap periode akuntansi.

Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.
 
Jadi terlihat bedanya

Aktiva Tetap : Penyusutan
Aktiva tak Berwujud : Amortisasi

Contoh jurnal amortisasi :

jurnal amortisasi

Definisi Amortisasi yang lain menyebutkan,

Amortisasi adalah Non Notification Loan yaitu suatu prosedur akuntansi yang dengan cara bertahap mengurangi nilai biaya dan suatu aset dengan umur ekonomis yang terbatas atau aktiva tak berwujud lain melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan.

    Amortisasi juga bisa memiliki arti pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu hingga pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo.

    Misalnya, apabila biaya sebesar Rp 10 Juta dan harus di amortisasi selama 10 tahun,

    Laporan keuangan nanti akan menyajikan biaya Rp 10 juta /tahun selama 10 tahun.

    Apabila biaya tidak di amortisasi kan, seluruh Rp 10 juta akan muncul di dalam laporan keuangan sebagai beban pada saat tahun pengeluaran itu dilakukan.

    Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

    Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

    Pengertian Goodwill

    Sudah pernah dengar tentang Goodwill ?

    Goodwill berasal dari bahasa batak, good yang berarti baik dan will yang berarti akan, jadi goodwill adalah berarti "akan baik".

    Kwkwkw itu Definisi Goodwill yang paling dapat diterima ngawurnya.

    definisi goodwill

    Goodwill adalah bagian aset dalam neraca keuangan perusahaan, diklasifikasikan kedalam aset tak berwujud yang muncul pada saat terjadi akuisisi suatu perusahaan terhadap perusahaan yang lain.

    Timbulnya goodwill ketika pembayaran (pembelian) atas perusahaan lain dengan harga diatas harga pasar aset bersih (nilai buku).

    Selisih yang timbul inilah yang dinamakan Goodwill !
    Goodwill merupakan representasi angka yang lebih besar dari nilai buku yang dibayarkan suatu perusahaan untuk bisa mendapatkan perusahaan lain.
    Misalnya Perusahaan A ingin membeli perusahaan B untuk ekspansi usahanya.

    Perusahaan B memiliki total Aset sebesar Rp 1.000, total Liabilitas: Rp 350 dan total Equity Rp 650.

    Perusahaan B jual mahal terhadap perusahaan A karena tahu posisi mereka strategis buat perusahaan A.

    Setelah negosiasi yang cukup melelahkan, akhirnya perusahaan B mau di beli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, dan deal !

    Lalu bagaimana?

    Mari perhatikan hitung hitungannya:

    Harga Beli : 850
    Total Aset : 1000
    Net Aset : 650

    *Net Aset: Total Aset-Total Kewajiban (utang)
    Total Aset Bersih Perusahaan B adalah Rp 650 namun dibeli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850.

    Ada selisih Rp 200.

    Nah, selisih inilah yang kita sebut sebagai "Goodwill".

    Apa ini kerugian ?

    Mungkin secara angka angka memang lebih mahal.

    Tetapi, dengan pembelian perusahaan B ini, perusahaan A akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar kedepannya yang akan mengalir hingga beberapa tahun kedepan.
    Secara sederhana perusahaan A melakukan penjurnalan seperti ini :

    Debit | Aset Rp 1.000
    Debit | Goodwill Rp    200
    Kredit | Kas Rp 850
    Kredit | Liabilitas Rp 350

    Notes:
    • Itu hanya contoh sederhana saja, biasanya ditulis terdiri dari aset apa aja (current aset, fixed asets dll), libilities apa saja, dan detail lain nya serta tentunya lebih kompleks.
    Apa sudah ada gambaran apa itu goodwill ?

    Bisa dikatakan goodwill adalah aset tak berwujud yang mungkin paling tak berwujud karena goodwill paling susah untuk diukur secara handal. 

    # Perolehan Goodwill

    Goodwill akan timbul jika ada aktivitas sebuah perusahaan yang membeli perusahaan yang lain, dimana harga yang dibayarkan lebih besar dari harga/kekayaan bersih perusahaan yang dibeli.

    Namun, apabila harga belinya dibawah dari kekayaan bersihnya, maka yang muncul adalah goodwill negatif.

    Logikanya sama. Hanya dibolak balik saja.

    # Amortisasi Goodwill

    Amortisasi merupakan istilah lain dari penyusutan, kalau pada aktiva tetap ada istilah penyusutan, dalam aset tidak berwujud seperti goodwill, penyusutan itu disebut dengan amortisasi.

    PSAK menyebutkan, amortisasi merupakan alokasi jumlah tersusutkan secara sistematis atas aktiva tak berwujud selama masa manfaat ekonomisnya.

    Harga perolehan aktiva tak berwujud dibebankan secara periodik kedalam rugi laba perusahaan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwill atau aset tak berwujud lainnya.

    Metode amortisasi yang sering digunakan adalah metode garis lurus (Straight Line Method). Setiap tutup buku, 31 Dec, dilakukan pembebanan amortisasi goodwill kedalam Laporan Laba Rugi dan juga sekaligus nilai buku goodwil pada neraca dikurangi, dengan jurnal

    Dec 31:
    Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
    Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

    Rp xxx adalah jumlah goodwill dibagi sebanyak berapa tahun manajemen meng-amortisasi-kan dengan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwillnya

    Dan yang penting WAJAR !

    Misal seperti contoh di atas, goodwill sebesar Rp 200,

    Di amortisasi selama 5 tahun, jadi tiap tahunnya Rp 200/5 = Rp 40.

    Dalam penentuan berapa banyak tahun yang dibutuhkan dalam mengamortisasi goodwill ?

    Hal ini sebenarnya menjadi banyak perdebatan.

    Tambahan :
    • Account akumulasi amortisasi goodwill serta aset tak berwujud yang lain umumnya tidak disajikan dalam neraca tetapi hanya disajikan sebesar nilai buku (nilai perolehan goodwill dikurangi akumulasi amortisassi goodwilla).

    # Penghapusan Goodwill | Writte Off

    Apa tujuan penghapusan Goodwill ?

    Jika seandainya goodwill yang didapat atas pembelian perusahaan terdahulu sudah diakui tidak memberikan manfaat lagi bagi perusahaan.

    Lalu untuk apa goodwill dipertahankan ?

    Maka untuk itu perlu adanya penghapusan goodwill.
    Pencatatan jurnalnya :

    Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
    Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

    * Rp xxx adalah Nilai Buku saat penghapusan

    # Penurunan Goodwill | Writte Down

    Writte-down diperlukan dan dilakukan jika manfaat yang diberikan oleh Goodwill diakui telah menurun.

    Jurnal pencatatan writte-down Goodwill sama dengan jurna pencatatan writte-off, yang berbeda hanya nominalnya.

    Nilai penurunan nilai goodwill hanya sebesar nilai yang turun saja, bukan nilai goodwill seluruhnya.
    Notes:
    • Writte-off ataupun writte-down bisa dilakukan setelah adanya revaluasi oleh badan appraisal yang independen.
    • Nanti, besaran nilai writte off maupun writte down dari goodwill didapat dari hasil rekomendasi badan appraisal tersebut.

    # Polemik Goodwill

    Sebenarnya amortisasi goodwill menjadi polemik tersendiri, bahkan menjadi sebuah kontroversi, antara perlu dihapuskan atau tidak dihapuskan.

    Bahkan FASB pada tahun 2005 lalu memutuskan amortisasi goodwill tidak diperkenankan untuk dilakukan.

    Amortisasi Goodwill-pun tidak boleh diterapkan oleh IAS (International Accounting Standard).

    Pendekatan yang boleh diperlakukan atas goodwill hanyalah pendekatan impairment.

    Apa itu impairment?

    Sepertinya butuh ruang khusus untuk membahas impairment, tidak dipostingan kali ini.
    Seberapa Penting Amortisasi Goodwill?

    Seberapa Penting Amortisasi Goodwill?

    Perlukah Amortisasi Goodwill ?

    Sebenarnya tulisan ini adalah saya hanya ingin bertanya saja, mencoba mengeluarkan unek-unek tentang Amortisasi Goodwill, atau penyusutan aset tak berwujud.

    Dulu, (tidak tahu sekarang aturannya seperti apa) amortisasi goodwill ini ramai diperdebatkan. Apakah perlu diterapkan atau tidak.

    Di luar, IFRS maupun IAS memutuskan untuk tidak membolehkan penerapan amortisasi goodwill dan menggantinya dengan  impairment (revaluasi goodwill)

    Indonesia masih memakai perlakuan AMORTISASI untuk goodwill dengan menggunakan metode garis lurus.
    amortisasi goodwill
    Amortisasi Goodwill
    Goodwill merupakan aset tak berwujud yang paling lain, paling tidak memiliki wujud.

    Goodwill hanya akan terjadi apabila ada transaksi strategis seperti akuisisi atau merger dengan perusahaan lain.

    Goodwill merupkan aset tak berwujud yang sulit untuk diukur secara handal.

    Manfaatnya ada di masa mendatang, seperti "nama besar", tingkat ke-strategis-an produk atau perusahaan, kedekatan dengan konsumen, dan yang lainnya.

    Kita tak bisa membandingkan sepatu hasil produksi pengrajin di Tanggulangin - Sidoarjo dengan sepatu merk nike maupun adidas.

    Mereka sudah punya nama, mereka dengan bahan, kualitas dan tipe yang sama bisa jauh lebih mahal, dan lebih mendatangkan keuntungan dikarenakan "brand" atau nama besar mereka.

    Brand atau  nama besar tersebut sudah barang tentu menjadi aset yang bernilai bagi nike ataupun adidas, yang sulit untuk di ukur, ataupun dinilai dalam akuntansi.

    Sulit dinilai karena tidak berwujud dan tak ada patokan harga "brand" hari ini, karena manfaatnya di masa mendatang.

    Amortisasi goodwill, perlukah ?

    Perlakuan goodwill yang di amortisasi sekian tahun, katakanlah 10 tahun. menunjukkan bahwa goodwill merupakan beban suatu perusahaan yang disusutkan atau diakui tiap tahun hingga 10 tahun.

    artinya, goodwill = beban.

    Lebih tepatnya beban yang di kapitalisasi

    Dan beban tersebut dialokasikan setiap periode selama "prediksi" manajemen sampai kapan manfaatnya berakhir

    Benarkah goodwill adalah beban ?

    Ditentukan dengan apa sehingga di dapat jangka waktu 10 tahun ?
    Dan mengapa harus disusutkan ?

    Kenapa tidak diakui sebagai beban sekaligus saat tahun diperolehnya goodwill ?

    Mengapa harus diamortisasi secara "cicilan" sekian tahun?
    Itu menjadi pertanyaan saya, saya cari jawabannya ternyata bikin pusing dan masih belum "ngeh" juga.
    Selama ini,goodwill diperlakukan sebagai beban perusahaan.

    Beban yang dikapitalisasi dan disusutkan sekian tahun.

    Dialokasikan pada periode periode mendatang agar "tak mengganggu" laporan laba rugi saat goodwill diperoleh, karena nilainya yang cukup material dan diprediksi memiliki manfaat di masa datang.

    Namun sayangnya dalam goodwill tak ada satu pun yang tahu sampai kapan manfaat itu akan terus diterima oleh perusahaan.

    Hal  ini berbeda dengan perusahaan membeli gedung, secara teknis dan handal bisa diperkirakan (prediksi) umur ekonomisnya oleh beberapa ahli.

    Konsep goodwill yang di amortisasi sekian tahun, estimasi manfaat goodwill yang habis sekian tahun menjadi tidak relevan.

    Goodwill tidak bisa ditentukan berdasarkan "feeling" seorang manajemen kapan goodwill akan habis manfaatnya.

    Kita tak bisa pernah tahu kapan brand nike ataupun adidas akan hancur. kapan kedua merek tersebut akan menjadi bukan merek apa-apa layaknya produk sepatu tanggulangin.

    Apabila mengacu amortisasi goodwill selama 10 tahun, maka seolah olah setelah 10 tahun, goodwill sudah tak ada manfaatnya lagi, brand sepatu nike dan adidas sudah tak berarti lagi, sama seperti sepatu produk tanggulangin sidoarjo.

    Tentu ini sulit untuk diterima dan tak bisa diandalkan sebagai informasi.
    Goodwill sangat susah untuk diukur nilainya, sampai kapan berakhir manfaatnya, seperti apa bentuknya.

    Misalnya, saya jika ingin membuka usaha, dan saya membeli perusahaan teman saya yang asetnya berupa ruko seharga Rp 50 dan mobil seharga Rp 20, dan saya deal dan membeli perusahaannya dengan harga Rp 100, maka ada selisih 30.

    Apakah saya cukup bodoh karena membeli lebih mahal Rp 30?
    Apakah saya rugi ?

    Mungkin saya rugi secara angka angka, karena saya keluar duit Rp 100 tapi dapat aset cuma Rp 80.

    Namun saya punya alasan tersendiri, saya yakin, untuk kedepannya, melihat strategisnya ruko, dan brand usaha temen saya sebelumnya itu mapan dan sudah dikenal khalayak serta memiliki basis konsumen yang sudah setia, akan menguntukan bagi saya, banyak manfaat yang akan saya peroleh nantinya yang tidak dapat saya rasakan saat ini.

    Lalu perlakuan akuntansi untuk selisih uang Rp 30 itu bagaimana? Saya tidak bisa meng-amortisasi, karena tidak ada batas waktu manfaat atas goodwill tersebut, saya tidak mungkin tahu sampai kapan manfaat goodwill itu akan habis. 

    Saya juga tak bisa membebankan selisih tersebut ke laba rugi operasional karena memang bukan operasional perusahaan.

    Impairment ?

    Sepertinya tidak,

    Bagaimana revaluasinya dan apakah hasilnya akan sesuai kondisi riil lapangan ?

    Pembahasan ini akan panjang. lalu bagaimana?

    Saya pribadi lebih prefer memasukkannya ke dalam neraca, dalam akun tersendiri misal katakanlah selisih pembelian PT. A atau Selisih Akuisisi dengan catatan khusus.
    Jurnalnya kira kira begini :

    Debit | Ruko 50
    Debit | Mobil 20
    Debit | Goodwill 30
    Kredit | Kas 100

    Lalu pada akhir tahun :

    Debit | Selisih Akuisisi 30
    Kredit | Goodwill 30

    Atau mungkin bahkan Akun Goodwill ditiadakan :

    Debit | Ruko 50
    Debit | Mobil 20
    Debit | Selisih Akuisisi 30
    Kredit | Kas 100


    Amortisasi Goodwill, perlukah?

    Saya pribadi berpendapat tidak perlu, atau bahkan keberadaan goodwill pun kalau bisa tidak perlu dicatat, mungkin banyak yang tidak setuju, itu sudah pasti, tapi saya memiliki alasan tersendiri, cukup panjang. masih belum sempat ditulis.

    Sebenarnya masih ingin dijelaskan detailnya, yang berhubungan dengan amortisasi, impairment, goodwill, namun keterbatasan waktu sementara seperti ini dulu.

    Mungkin ada pandangan lain mengenai Amortisasi Goodwill ?

    Silahkan berkomentar, saya sangat bersenang hati apabila ada pandangan yang berbeda, karena sejujurnya saya juga ingin tahu lebih lanjut.

    Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

    Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

    Baca juga artikel sebelumnya tentang Aktiva Lancar (current assets) dan Aset Tetap (fixed assets).
    Kali ini saya akan menulis mengenai jenis aset yang lainnya, yaitu aset tidak berwujud.

    aset tak berwujud
    aktiva tidak berwujud

    Aset tidak berwujud ?

    Ya, aset yang tidak terlihat wujud fisiknya secara nyata, tidak bisa disentuh, namun terasa besar manfaatnya.

    Keberadaannya bisa menguntungkan bagi perusahaan yang memilikinya.

    Apa saja yang termasuk aktiva tidak berwujud ?

    Dan jika aset tersebut tidak terlihat, bagaimana cara mengukurnya ?

    Bagaimana pula cara menilainya ?

    Lalu bagaimana cara menjurnal atau mencatatnya ?

    Dan juga cara mendapatkanya ? mari kita simak ...

    Pengertian Aktiva Tak Berwujud (Intangible Assets)

    Pengertian aktiva tak berwujud menurut PSAK :

    "Aktiva tak berwujud adalah aktiva non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan maupun hanya untuk tujuan administrasi."
    Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud apabila :
    • Perusahaan berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset tersebut
    • Biaya biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal
    Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan.

    Kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya.

    Didalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya.

    Apabila aktiva tak berwujud diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan.

    Dan apabila aset tidak berwujud diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

    Contoh Aktiva Tak Berwujud

    [1] Hak Sewa (Lease Hold)

    Hak sewa diperoleh dari transaksi sewa aktiva tertentu, disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu.

    Contohnya : sewa gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak berwujud karena:
    • Memberikan kontribusi bagi perusahaan dimasa mendatang.
    • Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
    Contoh Hak Sewa :
    • PT Nivia Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama 10 tahun
    • PT Nivia Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang berkunjung.
    Pencatatan :

    Sewa gedung 100.000.000
    Kas 100.000.000
    Biaya sewa 250.000
    Kas 250.000

    Kedua transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda :
    • Sewa gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun buku, yaitu selama 10 tahun kedepan.
    • Dalam transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai BIAYA, karena nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau kurang dari satu tahun buku.

    [2] Hak Paten

    Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu, penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan produk, atau rekayasa.

    [3] Trade Mark (Merek Dagang) 

    Merek dagang adalah hak yang didapat dari suatu merk komersil tertentu.

    Contoh : logo, tulisan, simbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.

    [4] Organization Cost

    Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum perusahaan beraktivitas operasi.

    Contohnya biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.

    [5] Copyright (Hak Pengadaan)

    Merupakan hak yang diberikan karena suatu penulisan, baik itu puisi, novel, karya ilmiah, nada lagu maupun lirik, skenario film.

    Hak pengadaan (copyright) bisa meliputi hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut.

    [6] Perijinan (Licences)

    Hak yang didapat dari pemerintahan untuk bisa melakukan aktivitas yang terkait dengan bidang usaha perusahaan.

    Licences ini ada masa waktunya, apabila telah habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya izin seperti ini mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.

    [7] Franchise

    Franchise merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya.

    Kesemuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba.

    [8] Goodwill

    Goodwil adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas.

    Goodwill diakui apabila terjadi transaksi pada perusahaan yang dinilai lebih oleh entitas lain.

    Transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan.

    Contohnya keistimewaan perusahaan bisa muncul karena perusahaan mempunyai reputasi yang sangat bagus, mempunyai produk yang tak dimiliki oleh para pesaing maupun letak perusahaan yang strategis.

    Perlakuan Akuntansi Aset Tak Berwujud Dalam akuntansi aktiva tidak berwujud, sebenarnya hampir sama permasalahannya dengan aktiva berwujud.
    • Perolehan aset tak berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti aset berwujud).
    • Apabila terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure), biaya biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama seperti tangible asset.
    • Amortisasi aset tidak berwujud, seperti halnya penyusutan pada aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha). 
    Pencatatan maupun perhitungan amortisasi sama caranya dengan perhitungan dan pencatatan penyusutan aktiva tetap.
    1. Kecuali trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi merupakan biaya usaha
    2. Metode garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam amortisasi, karena aset tak berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan perusahaan.

    Pelaporan Aktiva Tak Berwujud (Disclosure)

    Yang dilaporkan aktiva tidak berwujud hanya net value-nya (nilai bersih) setelah dikurangi oleh akumulasi amortisasi.

    Akumulasi amortisasi ini tidak disajikan dalam neraca
    Khusus mengenai perlakuan goodwill, lebih jauh bisa dibaca disini : Pengertian Goodwill

    Pengantar Akuntansi Biaya

    Pengantar Akuntansi Biaya

    Pengertian Akuntansi Biaya

    Pengertian akuntansi biaya adalah suatu proses pencatatan, pengolongan, peringkasan serta penyajian atas biaya pembuatan (produksi) dan penjualan produk atau jasa dengan menggunakan cara tertentu serta penafsirannya.

    Akuntansi biaya ini bisa digunakan dalam pemenuhan kebutuhan pihak eksternal (investor atau kreditor) dan pihak internal (manajemen) perusahaan.

    Informasi biaya untuk internal perusahaan biasanya disajikan menyesuaikan dengan kebutuhan manajemen.

    Sedangkan yang disajikan untuk pihak eksternal berbentuk laporan laba rugi dan neraca perusahaan.

    Khusus manajemen perusahaan, informasi biaya ini begitu penting dan sangat membantu mereka dalam pengambilan sebuah keputusan dalam operasional perusahaan.

    akuntansi biaya


    Abdul Halim menambahkan mengenai definisi dari akuntansi biaya, menurutnya :

    "Akuntansi biaya adalah akuntansi yang berbicara mengenai penentuan harga pokok (cost) atas suatu produk yang dihasilkan (atau produk yang dijual dipasar) baik itu untuk pemenuhan pesanan dan para pemesan ataupun untuk dijadikan persediaan barang dagang yang nantinya akan dijual".

    Tujuan Akuntansi Biaya 

    Tujuan akuntansi biaya antara lain:

    #1. Perencanaan serta pengendalian biaya

    Manajemen menyusun estimasi pendapatan dan biaya dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan perusahaan.

    Dasar estimasi biaya tersebut adalah data historis, namun fakor lain yang berpotensi memiliki pengaruh terhadap biaya juga dipertimbangkan.

    Kemudian manajemen akan menelaah apakah biaya-biaya yang terjadi telah sesuai dengan perencanaan estimasi biaya yang telah disusun.

    Apabila ada penyimpangan maka manajemen harus menganalisa apa yang menjadi penyebabnya dan memepertimbangkan tindakan koreksi yang dibutuhkan
    • Untuk menentukan harga pokok dari suatu produk ataupun jasa yang diproduksi oleh perusahaan dengan tepat serta teliti serta meringkas semua biaya produksi atau penyerahan jasa. 
    Biaya yang disajikan merupakan biaya historis perusahaan. Umumnya penentuan harga pokok produknya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dari manajemen puncak dan pihak eksternal.

    Maka dari itu, proses penyusunan akuntansi biaya ini dalam penentuan harga pokoknya berdasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku

    #3. Pengambilan Keputusan Manajemen

      Keputusan khusus ini menyangkut masa mendatang. Maka informasi akuntansi yang relevan dengan pengambilan suatu keputusan khusus selalu berhubungan dgn informasi yang akan datang.

       Laporan akuntansi biaya yang bertujuan untuk pengambilan sebuah keputusan merupakan bagian dari "akuntansi manajemen"

      Pengklasifikasian Biaya

      Pengklasifikasian atau penggolongan biaya merupakan suatu proses mengelompokkan dengan sistematis atas seluruh elemen yang ada menjadi kelompok kelompok tertentu agar lebih ringkas supaya bisa menyajikan informasi yang lebih rinci

      Biaya merupakan suatu pengorbanan dari sumber ekonomi yang bisa diukur dalam satuan uang yang sudah terjadi atau mungkin akan terjadi untuk suatu tujuan tertentu.

      Unsur unsur pokok dari biaya adalah:
      • Biaya adalah pengorbanan suatu sumber ekonomi
      • Diukur dengan satuan uang
      • Sudah terjadi atau berpotensi terjadi
      • Untuk suatu tujuan tertentu

      Dalam akuntansi biaya, biaya dikelompokkan kedalam berbagai macam cara,

      Umumnya biaya ditentukan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan pengelompokan tersebut. Didalam akuntansi biaya biasa dikenal dengan istilah different costs for different purposes. 

      Ada 5 cara dalam penggolongan biaya:

      1. Berdasarkan Obyek Pengeluaran.

      Nama objek pengeluaran adalah dasar penggolongan biaya.

      Contohnya bahan bakar, maka seluruh pengeluaran yang terkait dengan bahan bakar disebut dengan biaya bahan bakar

      2. Berdasarkan Fungsi Pokok dalam Perusahaan.

      Pada perusahaan manufakture, terdapat 4 fungsi pokok, diantaranya: fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi, dan fungsi keuangan


      A. Fungsi Produksi

      Fungsi Produksi merupakan fungsi yang selalu berhubungan dengan aktivitas pengolahan raw material (bahan baku) menjadi produk yang siap jual.

      Berdasar pada fungsi produksi, biaya produksi bisa dikelompokkan kedalam beberapa kelompok:
        Biaya Bahan Baku, bahan yang diproses (diolah) menjadi bagian produk selesai, pemakaian-nya bisa diidentifikasi atau merupakan bagian integral pada product tertentu.

        1. Biaya Tenaga Kerja Langsung, merupakan imbalan (balas jasa) yang diberikan kepada tenaga kerja (karyawan) pabrik yang manfaatnya terasa secara langsung pada produk yang dihasilkan perusahaan

        2. Biaya Overhead Pabrik, merupakan biaya produksi yang selain dari biaya tenaga kerja langsung (BTKL) dan biaya bahan baku (BB). memiliki elemen-elemen yang bisa digolongkan kedalam:

        Biaya bahan baku penolong. Biaya listrik, air pabrik
        Biaya tenaga kerja tak langsung Biaya insurance pabrik
        Biaya depresiasi dan amortisasi aset tetap pabrik Biaya overhead lain - lain
        Biaya reparasi dan maintenance aset tetap pabrik

        B. Fungsi Pemasaran

        Fungsi pemasaran merupakan fungsi yang terkait dengan aktivitas penjualan produk jadi siap jual dan bisa mendapatkan laba yang sesuai dengan keinginan.

        Biaya pemasaran merupakan biaya untuk menjalankan aktivitas pemasaran, misalnya :

        Biaya iklan Biaya angkut penjualan
        Biaya promosi Biaya gaji bagian pemasaran

        C. Fungsi Administrasi dan Umum

        Fungsi ini merupakan fungsi yang terkait dengan aktivitas dalam penentuan suatu kebijakan, pengarahan, serta pengawasan aktivitas perusahaan secara menyeluruh suapa bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

        Berdasarkan fungsi administrasi dan umum, biaya bisa digolongkan kedalam biaya administrasi dan umum.

        Yaitu biaya yang dikorbankan dalam mengkoordinir aktivitas produksi dan pemasaran.

        Contohnya, biaya gaji divisi keuangan, akuntansi, biaya pemeriksaan akuntan, biaya personalia dan lain lain


        D. Fungsi Keuangan

        Fungsi keuangan merupakan yang berkaitan dengan aktivitas keuangan, penyediaan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan.

        Biaya ini dinamanakan biaya keuangan.

        Contohnya biaya bunga.

        3.  Berdasarkan Hubungan Biaya dengan yang Dibiayai

        Pusat biaya bisa dihubungkan dengan produk yang diproduksi (dihasilkan), departemen yang terdapat pada pabrik, wilayah pemasaran ataupun bagian-bagian didalam perusahaan.

        Pengelompokan biaya berdasarkan objek atau pusat biaya bisa dibagi menjadi;
        • Direct Cost (Biaya Langsung), merupakan biaya yang manfaatnya bisa diidentifikasi dalam objek tertentu
        • Indirect Cost (Biaya tak Langusng), merupakan biaya yang manfaatnya tidak bisa diidentifikasi dalam objek tertentu, atau dengan kata lain, biaya dimana manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya
        Dalam kaitannya dengan produk, biaya bisa dibagi 2, yaitu:
        • Biaya Langsung Kepada Product, biaya raw material (bahan baku) dan biaya tenaga kerja langung adalah biaya langsung terhadap product karena bisa diidentifikasi secara langsung pada produk.
        • Biaya Tidak Langsung kepada Product, Biaya overhead pabrik adalah biaya tidak langsung kedalam produk karena tidak bisa diidentifikasi secara langsung pada produk

        Dilihat kaitannya dengan departemen-departemen yang terdapat dalam pabrik, biaya bisa digolongkan menjadi biaya langsung departemen dan juga biaya tidak langsung departemen.

        Tujuan dari sebuah departementalisasi adalah untuk ketelitian pembebanan harga pokok serta untuk pengendalian atas biaya.

        Departement dalam pabrik bisa digolongkan menjadi 2 kelompok:
        • Departemen produksi, departement produksi adalah bagian yang ada dalam pabrik diaman dilaksanakan pengolahan bahan baku (raw material) menjadi  produk jadi.
        • Departmen jasa, merupakan bagian yang ada dalam pabrik yang menghasilkan jasa yang nantinya akan dimanfaatkan oleh departemen yang lain. baik departemen produksi ataupun departemen jasa yang lainnya.

        4. Berdasarkan perilaku biaya yang berkaitan dengan perubahan volume aktivitas

        Pengelompokan biaya sesuai dengan perubahannya pada kegiatan utama yang bertujuan untuk perencanaan serta pengendalian biaya, dan juga pengambilan suatu keputusan.

        Tendensi perubahan suatu biaya terhadap aktivitas bisa digolongkan menjadi:

        a. Biaya tetap
        • Biaya yang jumlahnya tetap tidak dipengaruhi perubahan atas volume kegiatan hingga suatu tingkatan tertentu.
        • Biaya satuan akan mengalami perubahan yang berbanding terbalik dengan perubahan atas volume aktivitas.
        b. Biaya variabel
        • Biaya dimana jumlahnya akan mengalami perubahan secara proporsional dengan perubahan volume aktivitas.
        • Biaya satuan tak terpengaruh oleh perubahan volume aktivitas/kegiatan.
        c. Biaya semi-variabel
        • Biaya dimana jumlahnya berubah sesuai dengan perubahan volume aktivitas/kegiatan, namun perubahannya tak sebanding.
        • Biaya satuan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan volume aktivitas/kegiatan namun sifatnya tak sebanding.

        5. Berdasarkan Jangka Waktu Manfaat

        Biaya bisa dibagi menjadi dua jika berdasarkan pada jangka waktu manfaatnya:
        • Capital Expenditures (pengeluaran modal), merupakan pengeluaran suatu biaya yang memiliki manfaat lebih dari satu tahun buku (periode akuntansi). Ketika pengeluaran ini terjadi, dikapitalisasi kedalam harga perolehan aset dan pembebanannya pada periode akuntansi diaman aset tersebut dimanfaatkan. Silahkan baca bahasan ini lebih lengkap dan perlakuan akuntansinya di: pengeluaran modal.
        • Revenue Expenditures (Pengeluaran Pendapatan), pengeluaran ini memberikan manfaatnya pada waktu periode akuntansi dimana pengeluaran itu terjadi. Umumnya, pengeluaran ini langsung dibebankan pada periode tersebut.
        Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

        Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

        Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)


        Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap

        Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase
        1. Fase Perolehan Aset Tetap
        2. Fase Penggunaan Aset Tetap
        3. Fase Penarikan Aset Tetap
        akuntansi aset tetap
        Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

        Perolehan Aktiva Tetap 


        Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:
        Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition)
        Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)
        Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

        Penggunaan Aset Tetap 

        Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :
        • Pengeluaran (Expenditure)
        • Penyusutan & Amortisasi
        • Penilaian Kembali (Revaluation)

        Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets

        Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
        • Penjualan Aset Tetap 
        • Penukaran Aset Tetap
        • Laba-Rugi Penarikan Aset Tetap
        Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.

        Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
        • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
        • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
        • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
        Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?

        Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat


        Rumus dan Contoh Soal Menghitung Laba Bersih

        Rumus dan Contoh Soal Menghitung Laba Bersih

        Laba bersih adalah selisih antara seluruh pendapatan dan seluruh beban yang dihasilkan oleh perusahaan.

        Konsep laba adalah selisih pendapatan lebih besar daripada beban.

        Apabila selisih pendapatan ternyata lebih kecil daripada beban, maka itu adalah rugi.

        Dan apabila pendapatan sama besar dengan jumlah beban yang dikeluarkan, maka itu adalah impas (break even point)

        Langkah 1 : Mencari Laba Kotor

        Untuk mencari laba bersih, langkah pertama adalah mencari laba kotor terlebih dahulu.

        Pada dasarnya, laba kotor adalah selisih dari hasil penjualan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan/mendapatkan produk barang/jasa.

        Rumus Laba Kotor   

        Laba Kotor = Penjualan Bersih - HPP (Harga Pokok Penjualan)

        rumus laba kotor
        Keterangan

        # Penjualan Bersih

        Penjualan bersih bisa dikatakan sebagai pendapatan perusahaan hasil dari penjualan setelah dikurangi oleh semua biaya yang dikeluarkan dalam transaksi penjualan.

        Seperti ketika dilakukan penjualan perusahaan memberikan diskon, ada biaya angkut dari gudang ke tempat pembeli dan adanya barang yang direturn oleh pembeli karena barang tidak sesuai dengan spesifikasi atau cacat.

        Jadi, rumus untuk mencari penjualan bersih adalah

        Penjualan Bersih = Penjualan - Potongan Penjualan - Return Penjualan

        Catatan tambahan:

        Penjualan bersih tidak selalu berupa kas, tapi juga bisa berupa piutang.

        Hal ini karena penjualan yang dilakukan tidak harus transaksi tunai, penjualan secara kredit juga diakui sebagai penjualan.

        # HPP (Harga Pokok Penjualan)

        HPP (harga pokok penjualan) atau COGS (cost of god sold) adalah semua biaya yang berkaitan dengan barang produksi atau barang yang dijual (wikipedia).

        Pada perusahaan dagang, HPP atau biaya yang berkaitan dengan barang dagang meliputi biaya pembelian barang dagang, termasuk persediaan barang dagang yang dibeli pada periode sebelumnya

        Jadi rumus untuk mencari HPP adalah

        HPP = Persediaan Awal - Pembelian Bersih - Persediaan Akhir

        Sedangkan jumlah pembelian bersih dipengaruhi oleh pembelian, ongkos angkut pembelian, return dan potongan pembelian.

        Jadi rumus pembelian bersih :

        Pembelian Bersih = Pembelian + Ongkos Angkut - Return Pembelian - Potongan Pembelian

        Namun, untuk HPP pada perusahaan industri manufaktur akan berbeda.

        Pada industri manufaktur, barang dagang dibuat/diproduksi sendiri.

        Dalam memproduksi terdapat biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead.

        Rumusnya HPP pada industri manufaktur adalah:

        HPP = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead

        Langkah 2: Menghitung Laba Bersih 

        Laba bersih adalah laba kotor dikurangi oleh semua biaya yang dikeluarkan seperti biaya operasional dan biaya non operasional.

        Ditambah pendapatan yang diperoleh dari kegiatan non operasional JIKA ADA. Seperti pendapatan bunga atau pendapatan hasil dari penjualan aktiva tetap perusahaan.

        Biaya operasional contohnya adalah biaya pemasaran, biaya administrasi, biaya penyusutan.

        Sedangkan biaya non operasional contohnya adalah biaya bunga (interest), dan pajak (tax).

        # Rumus Laba Bersih


        rumus laba bersih

        Keterangan:

        EBITDA = Earning before Interest, Tax, Depreciation and Amortation (Laba sebelum Bunga, Pajak, Penyusutan dan Amortisasi)

        EBIT = Earning before Interest and Tax (Laba sebelum Bunga dan Pajak)

        EBT = Earning before Tax (Laba sebelum Pajak)

        Contoh Laporan Laba Rugi Bersih PT WIKA Realty

        Berikut contoh laporan laba rugi pada perusahaan PT WIKA Realty, anak perusahaan dari PT WIKA yang bergerak dibidang property.

        contoh laporan laba bersih

        Terlihat pada contoh laporan laba rugi PT WIKA Realty tersebut

        Untuk mencari laba bersih pertama kali adalah menghitung laba kotor yang diperoleh dari penjualan bersih dikurangi oleh HPP.

        Kemudian laba kotor akan dikurangi oleh beban usaha, beban bunga dan beban pajak.

        Teori Laporan Keuangan Konsolidasi

        Teori Laporan Keuangan Konsolidasi

        Laporan Keuangan Konsolidasi | Teori

        Postingan kali ini adalah lanjutan dari postingan laporan keuangan konsolidasi part 1 sebelumnya, juga sangat berhubungan dengan postingan tentang Merger dan Akuisisi.

        Sebelum membahas teknikal-nya. Mari kita membahas teorinya terlebih dahulu mengenai laporan keuangan konsolidasi karena akan susah mengetahui tentang detail langkah teknis-nya sebelum mengetahui teorinya bukan ?

        Sebelum-nya saya sudah pernah sampaikan tentang merger dan akuisisi, penggabungan usaha memiliki berbagai skema yang bisa dilakukan sesuai dengan tujuan dan maksud dari penggabungan itu sendiri.

        Memperoleh kendali entitas usaha lain merupakan salah satu tujuan penggabungan entitas usaha.

        Biasanya dilakukan dengan membeli mayoritas saham perusahaan investee dengan tanpa melikuidasi/membubarkan-nya.



        Syarat wajib laporan konsolidasi hrus disusun adalah saat salah satu entitas yang bergabung mempunyai kendali atas entitas usaha (perusahaan) lain.

        Perusahaan investor atau yang bisa disebut sebagai acquirer (perusahaan induk) adalah yang menyusun-nya.

        Pengendalian atas perusahaan investee diperoleh jika salah satu entitas usaha yang bergabung memiliki lebih dari 50 persen hak suara pada perusahaan yang lain

        Kecuali jika bisa dibuktikan sebaliknya bahwa tidak terdapat pengendalian walaupun kepemilikan lebih dari 50 %.

        Laporan tersebut harus didasarkan pada substansi dari peristiwa ekonomi dan tidak menyesatkan pihak yang berkepentingan. Apabila saham yang dibeli seluruhnya (100%), maka laporan keuangan konsolidasi mudah saja disusun.

        Kita hanya menggabungkan saja kedua atau lebih hasil operasional perusahaan, guna menghasilkan 1 laporan keuangan, (skema perusahaan induk - perusahaan cabang).

        Akan tetapi, persoalan muncul manakala investor membeli saham perusahaan investee kurang dari 100 persen

        Artinya masih ada hak bagi perusahaan investee walaupun kecil atau sangat kecil (minoritas). Persoalan seperti itu pada akhirnya menimbulkan teori-teori dalam proses penyusunan lap. keuangan konsolidasi, berikut di antarnya:

        #1. Teori Perusahaan Induk [Proprietary Theory]

        Teori ini merupakan teori yang pertama diaplikasikan dalam sejarah penyusunan laporan konsolidasi.

        Teori berdasar pada asumsi bahwa laporan keuangan konsolidasi merupakan perluasan dari laporan keuangan induk perusahaan.

        Maka dari itu laporan keuangan konsolidasi dibuat berdasarkan sudut pandang pemegang saham perusahaan induk.

        Artinya bahwa laporan keuangan konsolidasi hanya dibuat untuk kepentingan pemegang saham perusahaan induk.

        Termasuk laba bersih laporan keuangan konsolidasi adalah ukuran laba rugi untuk perusahaan induk saja. Namun sayangnya, teori ini menjadi tidak aplikatif saat kepemilikan atas perusahaan investee tidak sampai 100 persen. maka akan muncul ketidak-konsistenan pada perlakuan akuntansi-nya. contoh:
        • Kepemilikan yang minoritas merupakan kewajiban dilihat dari sudut pandang pemegang saham perusahaan induk (kepemilikan minoritas dimasukkan dalam kelompok kewajiban), namun pada kenyataannya kewajiban yang dimaksud di sini bukanlah kewajiban yang berdasarkan pada konsep kewajiban pada umumnya atau yang lazim
        • Laba kepemilikan minoritas dianggap sebagai beban dari sudut pandang stockholder induk perusahaan, beban yang dimaksud tidaklah memenuhi kriteria lazimnya beban (beban yang lazim)

        #2. Teori Entitas [Entity Theory]

        Teori ini hendak menjawab solusi atas persoalan yang muncul dalam teori perusahaan induk [Proprietary Theory]
        • Teori Entitas merefleksikan sudut pandang keseluruhan perusahaan (induk-anak)
        • Laba kepemilikan minoritas merupakan distribusi total laba laporan konsolidasi
        • kepemilikan minoritas adalah bagian dari ekuitas pemegang saham konsolidasi
        • Ekuitas dan laba anak perusahaan ditentukan terhadap seluruh pemegang saham sehingga laba secara total dapat di distribusikan secara konsisten kepada pemegang saham mayoritas juga pemegang saham minoritas.
        • Seluruh aset bersih perusahaan anak di-konsolidasi-kan pada nilai wajar berdasarkan pada harga yang dibayar oleh perusahaan induk untuk kepemilikannya. Hal ini bertujuan untuk menjamin konsistensi penilaian aset bersih kepemilikan mayoritas dan juga kepemilikan minoritas
        Kita bisa lihat, Teori Entitas ini seolah memaksakan kepemilikan minoritas berkepentingan atas laporan keuangan konsolidasi.

        Padahal sebenarnya kepemilikan minoritas tidak memerlukan-nya.

        Laba bersih dianggap suatu komponen dari ekuitas di neraca laporan keuangan konsolidasi.

        Dan ini tidaklah relevan.

        #3. Teori Kontemporer [Contemporary Theory]

        Teori Kontemporer ini berada diantara teori perusahaan induk dan teori entitas.

        Hal ini bisa kita lihat dari pendekatan yang dipakai dalam penyusunan laporan konsolidasi:
        • Dalam laporan keuangan konsolidasi, posisi keuangan disajikan sebagai hasil operasional usaha dari perusahaan tunggal, akan tetapi disusun terutama buat kepentingan pemegang saham dan kreditor perusahaan induk.
        • Laba bersih konsolidasi merupakan laba untuk stockholder induk perusahaan.
        • Laba kepemilikan minoritas merupakan pengurang dalam penentuan laba bersih konsolidasi, tapi bukan berarti menjadi beban seperti Teori Perusahaan Induk. Ini sebagai perwujudan alokasi realisasi laba perusahaan keseluruhan kepada pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas.
        • Ekuitas kepemilikan minoritas dianggap sebagai bagian dari ekuitas konsolidasi, dan dilaporkan dalam jumlah tunggal karena laporan konsolidasi tidak akan memberikan manfaat kepada kepemilikan minoritas
        • Aset bersih anak perusahaan di-konsolidasi-kan pada nilai buku aset ditambahkan dengan kelebihan investasi induk perusahaan atas nilai buku aset anak perusahaan. dan selisih-nya di amortisasi pada periode periode berikutnya.

        Ketiga teori di atas merupakan teori tentang dasar penyusunan laporan konsolidasi yang menuai banyak pro dan kontra, namun, FASB cenderung lebih ada di tengah-tengahnya, seperti dalam statemen FASB No 94 yang menyatakan bahwa :
        • Kepemilikan minoritas dimasukkan sebagai komponen yang terpisah dari ekuitas neraca konsolidas
        • Laba kepemilikan minoritas bukanlah beban atau kerugian, tapi sebagai pengurang laba bersih konsolidasi untuk menghitung besaran laba mayoritas
        • Laporan konsolidasi harus menyajikan laba bersih untuk kepemilikan mayoritas dan juga laba bersih untuk kepemilikan minoritas.

        Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design