Showing posts sorted by relevance for query goodwill. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query goodwill. Sort by date Show all posts
Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

Pengertian Goodwill

Sudah pernah dengar tentang Goodwill ?

Goodwill berasal dari bahasa batak, good yang berarti baik dan will yang berarti akan, jadi goodwill adalah berarti "akan baik".

Kwkwkw itu Definisi Goodwill yang paling dapat diterima ngawurnya.

definisi goodwill

Goodwill adalah bagian aset dalam neraca keuangan perusahaan, diklasifikasikan kedalam aset tak berwujud yang muncul pada saat terjadi akuisisi suatu perusahaan terhadap perusahaan yang lain.

Timbulnya goodwill ketika pembayaran (pembelian) atas perusahaan lain dengan harga diatas harga pasar aset bersih (nilai buku).

Selisih yang timbul inilah yang dinamakan Goodwill !
Goodwill merupakan representasi angka yang lebih besar dari nilai buku yang dibayarkan suatu perusahaan untuk bisa mendapatkan perusahaan lain.
Misalnya Perusahaan A ingin membeli perusahaan B untuk ekspansi usahanya.

Perusahaan B memiliki total Aset sebesar Rp 1.000, total Liabilitas: Rp 350 dan total Equity Rp 650.

Perusahaan B jual mahal terhadap perusahaan A karena tahu posisi mereka strategis buat perusahaan A.

Setelah negosiasi yang cukup melelahkan, akhirnya perusahaan B mau di beli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, dan deal !

Lalu bagaimana?

Mari perhatikan hitung hitungannya:

Harga Beli : 850
Total Aset : 1000
Net Aset : 650

*Net Aset: Total Aset-Total Kewajiban (utang)
Total Aset Bersih Perusahaan B adalah Rp 650 namun dibeli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850.

Ada selisih Rp 200.

Nah, selisih inilah yang kita sebut sebagai "Goodwill".

Apa ini kerugian ?

Mungkin secara angka angka memang lebih mahal.

Tetapi, dengan pembelian perusahaan B ini, perusahaan A akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar kedepannya yang akan mengalir hingga beberapa tahun kedepan.
Secara sederhana perusahaan A melakukan penjurnalan seperti ini :

Debit | Aset Rp 1.000
Debit | Goodwill Rp    200
Kredit | Kas Rp 850
Kredit | Liabilitas Rp 350

Notes:
  • Itu hanya contoh sederhana saja, biasanya ditulis terdiri dari aset apa aja (current aset, fixed asets dll), libilities apa saja, dan detail lain nya serta tentunya lebih kompleks.
Apa sudah ada gambaran apa itu goodwill ?

Bisa dikatakan goodwill adalah aset tak berwujud yang mungkin paling tak berwujud karena goodwill paling susah untuk diukur secara handal. 

# Perolehan Goodwill

Goodwill akan timbul jika ada aktivitas sebuah perusahaan yang membeli perusahaan yang lain, dimana harga yang dibayarkan lebih besar dari harga/kekayaan bersih perusahaan yang dibeli.

Namun, apabila harga belinya dibawah dari kekayaan bersihnya, maka yang muncul adalah goodwill negatif.

Logikanya sama. Hanya dibolak balik saja.

# Amortisasi Goodwill

Amortisasi merupakan istilah lain dari penyusutan, kalau pada aktiva tetap ada istilah penyusutan, dalam aset tidak berwujud seperti goodwill, penyusutan itu disebut dengan amortisasi.

PSAK menyebutkan, amortisasi merupakan alokasi jumlah tersusutkan secara sistematis atas aktiva tak berwujud selama masa manfaat ekonomisnya.

Harga perolehan aktiva tak berwujud dibebankan secara periodik kedalam rugi laba perusahaan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwill atau aset tak berwujud lainnya.

Metode amortisasi yang sering digunakan adalah metode garis lurus (Straight Line Method). Setiap tutup buku, 31 Dec, dilakukan pembebanan amortisasi goodwill kedalam Laporan Laba Rugi dan juga sekaligus nilai buku goodwil pada neraca dikurangi, dengan jurnal

Dec 31:
Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

Rp xxx adalah jumlah goodwill dibagi sebanyak berapa tahun manajemen meng-amortisasi-kan dengan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwillnya

Dan yang penting WAJAR !

Misal seperti contoh di atas, goodwill sebesar Rp 200,

Di amortisasi selama 5 tahun, jadi tiap tahunnya Rp 200/5 = Rp 40.

Dalam penentuan berapa banyak tahun yang dibutuhkan dalam mengamortisasi goodwill ?

Hal ini sebenarnya menjadi banyak perdebatan.

Tambahan :
  • Account akumulasi amortisasi goodwill serta aset tak berwujud yang lain umumnya tidak disajikan dalam neraca tetapi hanya disajikan sebesar nilai buku (nilai perolehan goodwill dikurangi akumulasi amortisassi goodwilla).

# Penghapusan Goodwill | Writte Off

Apa tujuan penghapusan Goodwill ?

Jika seandainya goodwill yang didapat atas pembelian perusahaan terdahulu sudah diakui tidak memberikan manfaat lagi bagi perusahaan.

Lalu untuk apa goodwill dipertahankan ?

Maka untuk itu perlu adanya penghapusan goodwill.
Pencatatan jurnalnya :

Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

* Rp xxx adalah Nilai Buku saat penghapusan

# Penurunan Goodwill | Writte Down

Writte-down diperlukan dan dilakukan jika manfaat yang diberikan oleh Goodwill diakui telah menurun.

Jurnal pencatatan writte-down Goodwill sama dengan jurna pencatatan writte-off, yang berbeda hanya nominalnya.

Nilai penurunan nilai goodwill hanya sebesar nilai yang turun saja, bukan nilai goodwill seluruhnya.
Notes:
  • Writte-off ataupun writte-down bisa dilakukan setelah adanya revaluasi oleh badan appraisal yang independen.
  • Nanti, besaran nilai writte off maupun writte down dari goodwill didapat dari hasil rekomendasi badan appraisal tersebut.

# Polemik Goodwill

Sebenarnya amortisasi goodwill menjadi polemik tersendiri, bahkan menjadi sebuah kontroversi, antara perlu dihapuskan atau tidak dihapuskan.

Bahkan FASB pada tahun 2005 lalu memutuskan amortisasi goodwill tidak diperkenankan untuk dilakukan.

Amortisasi Goodwill-pun tidak boleh diterapkan oleh IAS (International Accounting Standard).

Pendekatan yang boleh diperlakukan atas goodwill hanyalah pendekatan impairment.

Apa itu impairment?

Sepertinya butuh ruang khusus untuk membahas impairment, tidak dipostingan kali ini.
Seberapa Penting Amortisasi Goodwill?

Seberapa Penting Amortisasi Goodwill?

Perlukah Amortisasi Goodwill ?

Sebenarnya tulisan ini adalah saya hanya ingin bertanya saja, mencoba mengeluarkan unek-unek tentang Amortisasi Goodwill, atau penyusutan aset tak berwujud.

Dulu, (tidak tahu sekarang aturannya seperti apa) amortisasi goodwill ini ramai diperdebatkan. Apakah perlu diterapkan atau tidak.

Di luar, IFRS maupun IAS memutuskan untuk tidak membolehkan penerapan amortisasi goodwill dan menggantinya dengan  impairment (revaluasi goodwill)

Indonesia masih memakai perlakuan AMORTISASI untuk goodwill dengan menggunakan metode garis lurus.
amortisasi goodwill
Amortisasi Goodwill
Goodwill merupakan aset tak berwujud yang paling lain, paling tidak memiliki wujud.

Goodwill hanya akan terjadi apabila ada transaksi strategis seperti akuisisi atau merger dengan perusahaan lain.

Goodwill merupkan aset tak berwujud yang sulit untuk diukur secara handal.

Manfaatnya ada di masa mendatang, seperti "nama besar", tingkat ke-strategis-an produk atau perusahaan, kedekatan dengan konsumen, dan yang lainnya.

Kita tak bisa membandingkan sepatu hasil produksi pengrajin di Tanggulangin - Sidoarjo dengan sepatu merk nike maupun adidas.

Mereka sudah punya nama, mereka dengan bahan, kualitas dan tipe yang sama bisa jauh lebih mahal, dan lebih mendatangkan keuntungan dikarenakan "brand" atau nama besar mereka.

Brand atau  nama besar tersebut sudah barang tentu menjadi aset yang bernilai bagi nike ataupun adidas, yang sulit untuk di ukur, ataupun dinilai dalam akuntansi.

Sulit dinilai karena tidak berwujud dan tak ada patokan harga "brand" hari ini, karena manfaatnya di masa mendatang.

Amortisasi goodwill, perlukah ?

Perlakuan goodwill yang di amortisasi sekian tahun, katakanlah 10 tahun. menunjukkan bahwa goodwill merupakan beban suatu perusahaan yang disusutkan atau diakui tiap tahun hingga 10 tahun.

artinya, goodwill = beban.

Lebih tepatnya beban yang di kapitalisasi

Dan beban tersebut dialokasikan setiap periode selama "prediksi" manajemen sampai kapan manfaatnya berakhir

Benarkah goodwill adalah beban ?

Ditentukan dengan apa sehingga di dapat jangka waktu 10 tahun ?
Dan mengapa harus disusutkan ?

Kenapa tidak diakui sebagai beban sekaligus saat tahun diperolehnya goodwill ?

Mengapa harus diamortisasi secara "cicilan" sekian tahun?
Itu menjadi pertanyaan saya, saya cari jawabannya ternyata bikin pusing dan masih belum "ngeh" juga.
Selama ini,goodwill diperlakukan sebagai beban perusahaan.

Beban yang dikapitalisasi dan disusutkan sekian tahun.

Dialokasikan pada periode periode mendatang agar "tak mengganggu" laporan laba rugi saat goodwill diperoleh, karena nilainya yang cukup material dan diprediksi memiliki manfaat di masa datang.

Namun sayangnya dalam goodwill tak ada satu pun yang tahu sampai kapan manfaat itu akan terus diterima oleh perusahaan.

Hal  ini berbeda dengan perusahaan membeli gedung, secara teknis dan handal bisa diperkirakan (prediksi) umur ekonomisnya oleh beberapa ahli.

Konsep goodwill yang di amortisasi sekian tahun, estimasi manfaat goodwill yang habis sekian tahun menjadi tidak relevan.

Goodwill tidak bisa ditentukan berdasarkan "feeling" seorang manajemen kapan goodwill akan habis manfaatnya.

Kita tak bisa pernah tahu kapan brand nike ataupun adidas akan hancur. kapan kedua merek tersebut akan menjadi bukan merek apa-apa layaknya produk sepatu tanggulangin.

Apabila mengacu amortisasi goodwill selama 10 tahun, maka seolah olah setelah 10 tahun, goodwill sudah tak ada manfaatnya lagi, brand sepatu nike dan adidas sudah tak berarti lagi, sama seperti sepatu produk tanggulangin sidoarjo.

Tentu ini sulit untuk diterima dan tak bisa diandalkan sebagai informasi.
Goodwill sangat susah untuk diukur nilainya, sampai kapan berakhir manfaatnya, seperti apa bentuknya.

Misalnya, saya jika ingin membuka usaha, dan saya membeli perusahaan teman saya yang asetnya berupa ruko seharga Rp 50 dan mobil seharga Rp 20, dan saya deal dan membeli perusahaannya dengan harga Rp 100, maka ada selisih 30.

Apakah saya cukup bodoh karena membeli lebih mahal Rp 30?
Apakah saya rugi ?

Mungkin saya rugi secara angka angka, karena saya keluar duit Rp 100 tapi dapat aset cuma Rp 80.

Namun saya punya alasan tersendiri, saya yakin, untuk kedepannya, melihat strategisnya ruko, dan brand usaha temen saya sebelumnya itu mapan dan sudah dikenal khalayak serta memiliki basis konsumen yang sudah setia, akan menguntukan bagi saya, banyak manfaat yang akan saya peroleh nantinya yang tidak dapat saya rasakan saat ini.

Lalu perlakuan akuntansi untuk selisih uang Rp 30 itu bagaimana? Saya tidak bisa meng-amortisasi, karena tidak ada batas waktu manfaat atas goodwill tersebut, saya tidak mungkin tahu sampai kapan manfaat goodwill itu akan habis. 

Saya juga tak bisa membebankan selisih tersebut ke laba rugi operasional karena memang bukan operasional perusahaan.

Impairment ?

Sepertinya tidak,

Bagaimana revaluasinya dan apakah hasilnya akan sesuai kondisi riil lapangan ?

Pembahasan ini akan panjang. lalu bagaimana?

Saya pribadi lebih prefer memasukkannya ke dalam neraca, dalam akun tersendiri misal katakanlah selisih pembelian PT. A atau Selisih Akuisisi dengan catatan khusus.
Jurnalnya kira kira begini :

Debit | Ruko 50
Debit | Mobil 20
Debit | Goodwill 30
Kredit | Kas 100

Lalu pada akhir tahun :

Debit | Selisih Akuisisi 30
Kredit | Goodwill 30

Atau mungkin bahkan Akun Goodwill ditiadakan :

Debit | Ruko 50
Debit | Mobil 20
Debit | Selisih Akuisisi 30
Kredit | Kas 100


Amortisasi Goodwill, perlukah?

Saya pribadi berpendapat tidak perlu, atau bahkan keberadaan goodwill pun kalau bisa tidak perlu dicatat, mungkin banyak yang tidak setuju, itu sudah pasti, tapi saya memiliki alasan tersendiri, cukup panjang. masih belum sempat ditulis.

Sebenarnya masih ingin dijelaskan detailnya, yang berhubungan dengan amortisasi, impairment, goodwill, namun keterbatasan waktu sementara seperti ini dulu.

Mungkin ada pandangan lain mengenai Amortisasi Goodwill ?

Silahkan berkomentar, saya sangat bersenang hati apabila ada pandangan yang berbeda, karena sejujurnya saya juga ingin tahu lebih lanjut.

Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

Baca juga artikel sebelumnya tentang Aktiva Lancar (current assets) dan Aset Tetap (fixed assets).
Kali ini saya akan menulis mengenai jenis aset yang lainnya, yaitu aset tidak berwujud.

aset tak berwujud
aktiva tidak berwujud

Aset tidak berwujud ?

Ya, aset yang tidak terlihat wujud fisiknya secara nyata, tidak bisa disentuh, namun terasa besar manfaatnya.

Keberadaannya bisa menguntungkan bagi perusahaan yang memilikinya.

Apa saja yang termasuk aktiva tidak berwujud ?

Dan jika aset tersebut tidak terlihat, bagaimana cara mengukurnya ?

Bagaimana pula cara menilainya ?

Lalu bagaimana cara menjurnal atau mencatatnya ?

Dan juga cara mendapatkanya ? mari kita simak ...

Pengertian Aktiva Tak Berwujud (Intangible Assets)

Pengertian aktiva tak berwujud menurut PSAK :

"Aktiva tak berwujud adalah aktiva non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan maupun hanya untuk tujuan administrasi."
Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud apabila :
  • Perusahaan berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset tersebut
  • Biaya biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal
Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan.

Kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya.

Didalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya.

Apabila aktiva tak berwujud diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan.

Dan apabila aset tidak berwujud diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

Contoh Aktiva Tak Berwujud

[1] Hak Sewa (Lease Hold)

Hak sewa diperoleh dari transaksi sewa aktiva tertentu, disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu.

Contohnya : sewa gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak berwujud karena:
  • Memberikan kontribusi bagi perusahaan dimasa mendatang.
  • Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Contoh Hak Sewa :
  • PT Nivia Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama 10 tahun
  • PT Nivia Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang berkunjung.
Pencatatan :

Sewa gedung 100.000.000
Kas 100.000.000
Biaya sewa 250.000
Kas 250.000

Kedua transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda :
  • Sewa gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun buku, yaitu selama 10 tahun kedepan.
  • Dalam transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai BIAYA, karena nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau kurang dari satu tahun buku.

[2] Hak Paten

Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu, penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan produk, atau rekayasa.

[3] Trade Mark (Merek Dagang) 

Merek dagang adalah hak yang didapat dari suatu merk komersil tertentu.

Contoh : logo, tulisan, simbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.

[4] Organization Cost

Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum perusahaan beraktivitas operasi.

Contohnya biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.

[5] Copyright (Hak Pengadaan)

Merupakan hak yang diberikan karena suatu penulisan, baik itu puisi, novel, karya ilmiah, nada lagu maupun lirik, skenario film.

Hak pengadaan (copyright) bisa meliputi hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut.

[6] Perijinan (Licences)

Hak yang didapat dari pemerintahan untuk bisa melakukan aktivitas yang terkait dengan bidang usaha perusahaan.

Licences ini ada masa waktunya, apabila telah habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya izin seperti ini mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.

[7] Franchise

Franchise merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya.

Kesemuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba.

[8] Goodwill

Goodwil adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas.

Goodwill diakui apabila terjadi transaksi pada perusahaan yang dinilai lebih oleh entitas lain.

Transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan.

Contohnya keistimewaan perusahaan bisa muncul karena perusahaan mempunyai reputasi yang sangat bagus, mempunyai produk yang tak dimiliki oleh para pesaing maupun letak perusahaan yang strategis.

Perlakuan Akuntansi Aset Tak Berwujud Dalam akuntansi aktiva tidak berwujud, sebenarnya hampir sama permasalahannya dengan aktiva berwujud.
  • Perolehan aset tak berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti aset berwujud).
  • Apabila terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure), biaya biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama seperti tangible asset.
  • Amortisasi aset tidak berwujud, seperti halnya penyusutan pada aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha). 
Pencatatan maupun perhitungan amortisasi sama caranya dengan perhitungan dan pencatatan penyusutan aktiva tetap.
  1. Kecuali trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi merupakan biaya usaha
  2. Metode garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam amortisasi, karena aset tak berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan perusahaan.

Pelaporan Aktiva Tak Berwujud (Disclosure)

Yang dilaporkan aktiva tidak berwujud hanya net value-nya (nilai bersih) setelah dikurangi oleh akumulasi amortisasi.

Akumulasi amortisasi ini tidak disajikan dalam neraca
Khusus mengenai perlakuan goodwill, lebih jauh bisa dibaca disini : Pengertian Goodwill

Konsep Aset Dalam Akuntansi: Pengertian Aktiva

Konsep Aset Dalam Akuntansi: Pengertian Aktiva

Pengertian Aktiva
Pengertian Aset

Pengertian Aktiva | Pengertian Aset

Pengertian aktiva atau aset adalah kekayaan (sumber daya) yang dimiliki oleh entitas bisnis yang bisa diukur secara jelas menggunakan satuan uang serta sistem pengurutannya berdasar pada seberapa cepat perubahannya dikonversi menjadi satuan uang kas.

Misalnya gedung dan uang tunai, diurutkan uang tunai (kas) dulu baru kemudian gedung.

Berdasarkan yang paling lancar dan gedung tentunya bisa di ukur berdasarkan satu satuan uang tunai.

Misalnya katakanlah Rp 40 juta atau Rp 100 juta dinyatakan dalam satuan "Rp" bukan 40 kg atau 100 kg ataupun km.

Kekayaan perusahaan ini bisa berbentuk wujud fisik atau juga non fisik (hak) yang memiliki nilai.

Aktiva adalah sumber daya yang dimiliki karena terjadinya peristiwa dimasa lalu dan manfaat ekonominya diharapkan diperoleh oleh perusahaan di masa yang akan datang.

Aset bermanfaat secara langsung ataupun tak langsung, Sifatnya produktif dan masuk dalam bagian operasi perusahaan dan juga memiliki kemampuan dalam mengurangi pengeluaran kas.

Aktiva memiliki potensi manfaat di masa yang akan datang, potensi manfaat tersebut bisa dalam bentuk hal hal yang produktif yang bisa menghasilkan kas atau setara kas.

Manfaat yang lain dari aktiva adalah aset sebagai penghasil barang dan jasa, dapat ditukar dengan aktiva lain, melunasi kewajiban (hutang).

Ada beberapa cara untuk memperoleh Aset
  • Aktiva bisa diperolah dengan cara diproduksi atau dibangun sendiri, 
  • Bisa didapat dengan dibeli
  • Pertukaran aset maupun sumbangan dari pihak lain.

Jika ditelaah, kepemilikan aset tidak hanya mengenai aset aset yang ber-hak milik saja.

Tetapi bisa juga hak hak yang lain misalnya hak sewa, hak guna bangunan, hak tagih, hak pakai maupun yang lainnya.

Perbedaan hak kepemilikan tersebut nantinya akan mempengaruhi jenis item dan penggolongan aktiva didalam laporan keuangan.

Contoh aktiva misalnya uang tunai (kas), tanah, bangunan, peralatan, perlengkapan, sewa dibayar dimuka, hak paten dan lainnya.

Jenis Jenis Aktiva

Aktiva dalam akuntansi umumnya dikelompokkan ke dalam tiga bagian:

          Aset lancar, aset tetap dan aset tak berwujud.

Penjelasan singkatnya bisa dilihat berikut ini, penjabaran lebih lanjut akan diposting di lain tempat, silahkan klik link yang ada.

Aktiva Lancar | Current Assets

    Aktiva ini biasanya digunakan dan bermanfaat dalam waktu yang relatif singkat, tidak lebih dari satu tahun buku dan bisa dikonversikan ke bentuk uang kas.

    Contoh aktiva lancar seperti uang tunai (kas/cash), temporary invesment ( investasi jangka pendek), accounts receivable (piutang dagang), notes receivable (wesel tagih), inventories (persediaan), accrued receivable (pendapatan yg msih akan diterima), prepaid expense (beban dibayar dimuka).

    Aktiva Tetap | Fixed Assets

      Aktiva tetap merupakan sumberdaya/kekayaan harga yang dimiliki suatu entitas bisnis yang sifatnya permanen dan bisa diukur dengan jelas.

      Aktiva tetap digunakan dan bermanfaat dalam waktu yang relatif lama, lebih dari satu tahun buku.

      Tujuan aktiva tetap diperoleh perusahaan adalah untuk digunakan sendiri dan tidak dijual.

      Kecuali ada hal hal atau kondisi khusus yang mengharuskan perusahaan menjual aktiva tetapnya.

      Contoh aktiva tetap misalnya bangunan, tanah, peralatan kantor, mesin, kendaraan dan yang lainnya.

      Aktiva Tak Berwujud | Iintangible Assets

        Sesuai namanya, wujud aktiva ini tak tampak, tidak bisa disimpan, dipegang bentuknya namun bisa dirasakan manfaatnya.

        Aset tidak berwujud ini bisa merupakan hak hak perusahaan yang kepemilikannya diatur dan dilindungi oleh peraturan perundang undangan.

        Contoh misalnya hak paten, hak guna bangunan, hak sewa atau hak kontrak, franchise, trademark dan goodwill. dll.
          Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

          Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

          Pengertian aset tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu.

          Aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

          Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa.

          Misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.

          Sofyan Safri berpendapat bahwa :

          "Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus."

          Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap adalah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

          Karakteristik Aktiva Tetap

          Aset Tetap
          Aktiva Tetap

          Aset tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
          • Mempunyai wujud fisik
          • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
          • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
          • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
          • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) contohnya, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

          Pengakuan Aktiva Tetap

          Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.

          Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :
          • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang. Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
            • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
            Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

            Penggolongan Aktiva Tetap

            Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain.

            Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut.

            Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya.

            Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya.

            Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:
            • Aset tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
            • Aset tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
            • Aset tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.

              Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :

              [1] Sudut substansi aset tetap

              • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
              • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll

              [2] Aset tetap disusutkan atau tidak disusutkan

              • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
              • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah.

              [3] Aset tetap berdasarkan jenisnya

              • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
              • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
              • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
              • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
              • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
              • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
              • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya

              Bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ?

              Contoh Soal Laporan Keuangan Konsolidasi Akuisisi Saham

              Contoh Soal Laporan Keuangan Konsolidasi Akuisisi Saham

              Konsolidasi atas Akuisisi Saham | Consolidating Stock Acquisition

              Didalam proses akuisisi saham, perusahaan yang mengakuisisi hanya berurusan dengan shareholder atau para pemegang saham, dan tidak berurusan dengan perusahaan yang diakuisisi (investee).

              Contoh Soal: Akuisi Saham | Stock Acquisition

              Kita akan menggunakan contoh soal yang pertama , dipostingan yang sebelumnya tentang akuisisi net asset Disini

              Namun yang di beli bukan net asetnya tetapi adalah sahamnya, dan Rp 500.000 dibayarkan kepada share holder (pemegang saham).

              Ini saya cantumkan kembali neraca sebelum terjadi akuisisi.


              PT Astrea Balance Sheet
              AssetsLiabilities and Equity
              Cash800.000Current Liabilities150.000
              Account Receivable300.000Bonds Payable500.000
              Inventory100.000Common Stock100.000
              Equipment150.000Retained Earnings600.000
              Total1.350.000Total1.350.000
              PT Nick Balance Sheet
              AssetsLiabilities and Equity
              Account Receivable200.000Current Liabilities100.000
              Inventory100.000Common Stock200.000
              Equipment300.000Retained Earnings300.000
              Total600.000Total600.000


              Atas akuisisi saham tersebut PT Astrea akan menjurnalnya sebagai berikut:

              Investmen in Subsidiary 500000
              Cash 500000

              Dan kita perhatikan dalam penjurnalan ini tidak ada mencatat penambahan aktiva ataupun hutang (liabiliteis). Melainkan hanya tercatat sebagai investasi. Mengapa?

              Ini dikarenakan yang diakuisisi hanya saham saja, dimana saham yang senilai Rp 500.000,- merefleksikan atau mencerminkan dari nilai aktiva bersihnya juga. Ini menunjukkan hak kontrol atau hak kendali didapatkan dengan cara membeli saham PT Nick

              Kita memerlukan kertas kerja seperti dibawah ini untuk membuat neraca konsolidasi:

              Trial Balance Elimination & Consolidated
              Adjustment Balance
               Astrea PT Nick Dr Cr Sheed
              Cash 300.000 - - - 300.000
              Account Receivable 300.000 200.000 - - 500.000
              Inventory 100.000 100.000 - - 200.000
              Investment in PT Nick 500.000 - - 500.000 -
              Equipment 150.000 300.000 - - 450.000
              Goodwill - - - - -
              - -
              Current Liabilities -150.000 -100.000 - - -250.000
              Bonds Payable -500.000 - - - -500.000
              Common Stock PT Nick - -200.000 -200.000 - -
              Retained Earning PT Nick - -300.000 -300.000 - -
              Common Stock PT Astrea -100.000 - - - -100.000
              Retained Earning PT Astrea -600.000 - - - -600.000
              Total 500.000 500.000 -


              Melihat kertas kerja laporan konsolidasi diatas. Mungkin ada pertanyaan, mengapa ada perlakuan eliminasi?

              Perlu untuk disadari, PT Nick telah menjadi subsidiary PT Astrea. Neraca konsolidasi diatas disusun oleh PT Astrea (Bukunya PT Astrea) untuk menyatukan laporan keuangan PT Nick dan PT Astrea yang mulanya terpisah.

              Apakah mungkin PT Astrea menanam investasi pada perusahaan dia sendiri?

              Tentu saja tidak, maka dari itu perlu dilakukan eliminasi !

              Pun dengan ekuitas pemegang saham perusahaan investee, perlu dilakukan eliminasi karena aset ataupun kewajibannya adalah milik perusahaan Astrea itu sendiri selaku perusahaan induk.

              Jurnal Eliminasi nya adalah seperti dibawah ini:

              Common Stock PT Nick 200.000
              Retained Earning PT Nick 300.000
              Investmen in PT Nick 500.000

              Saya pikir untuk basic laporan keuangan konsolidasi sudah cukup. Bagaimana apabila nilai buku perusahaan investee tidak sama dengan harga pasarnya?

              Bagaimana apabila proses akuisisi dilakukan dengan cara mengeluarkan bond, saham dan ada extraordinary items?

              Bagaimana apabila hak kempilikan kurang dari 100%? laporan konsolidasi setelah terjadi akuisisi?

              Dan banyak lagi pertanyaan selanjutnya yang lebih kompleks, jika ada waktu saya ingin memberi contoh soalnya juga, namun harap bersabar, karena kesibukan di dunia nyata, tak mungkin saya posting secepat kilat. hehehe

              Pengertian AMORTISASI

              Pengertian AMORTISASI

              Apa Itu Amortisasi ?

              Amortisasi - Pada ilmu akuntansi terdapat istilah penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis yang lama.

              Aset yang mempunyai umur ekonomis lumayan lama adalah aset tetap dan aset tidak berwujud.

              Contoh aktiva tetap misalnya tanah, bangunan, mesin, kendaraan dan yang lainnya

              Contoh aset tak berwujud misalnya hak paten, merk dagang, goodwill dan yang lainnya.

              Semua aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai setiap waktu.

              Nah....

              .... Penurunan nilai dalam pengertian akuntansi ini dikenal sebagai penyusutan (depresiasi) untuk aktiva tetap dan AMORTISASI (amortization) untuk aktiva tidak berwujud.

              pengertian amortisasi
              Amortisasi

              Pengertian Amortisasi

              Depresiasi merupakan alokasi secara sistematis jumlah nominal yang bisa disusutkan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut.

              Sedangkan pengertian amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu aktiva tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu di setiap periode akuntansi.

              Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.
               
              Jadi terlihat bedanya

              Aktiva Tetap : Penyusutan
              Aktiva tak Berwujud : Amortisasi

              Contoh jurnal amortisasi :

              jurnal amortisasi

              Definisi Amortisasi yang lain menyebutkan,

              Amortisasi adalah Non Notification Loan yaitu suatu prosedur akuntansi yang dengan cara bertahap mengurangi nilai biaya dan suatu aset dengan umur ekonomis yang terbatas atau aktiva tak berwujud lain melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan.

                Amortisasi juga bisa memiliki arti pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu hingga pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo.

                Misalnya, apabila biaya sebesar Rp 10 Juta dan harus di amortisasi selama 10 tahun,

                Laporan keuangan nanti akan menyajikan biaya Rp 10 juta /tahun selama 10 tahun.

                Apabila biaya tidak di amortisasi kan, seluruh Rp 10 juta akan muncul di dalam laporan keuangan sebagai beban pada saat tahun pengeluaran itu dilakukan.

                Contoh Soal Laporan Keuangan Konsolidasi Net Aset

                Contoh Soal Laporan Keuangan Konsolidasi Net Aset

                Bagaimana Cara membuat Laporan Keuangan Konsolidasi?

                Setelah kita selesai bicara tentang teori basic, serta tetek bengek pengertian mengenai laporan keuangan konsolidasi atau penggabungan usaha.

                Ada baiknya corat coret tentang contoh soal laporan konsolidasi

                Contoh Soal Laporan Keuangan Konsolidasi

                Contoh soal: Pengambilalihan Aset Bersih

                PT Astrea (A) mengambil-alih Aset Bersih (net assets) PT Nick (N) dengan kas sebesar Rp 500.000. dengan asumsi nilai buku aset sama dengan harga pasar (Fair-Market Value).

                Neraca ke-2 perusahaan sebelum terjadi proses akuisisi terlihat seperti ini:

                PT Astrea Balance Sheet
                Assets Liabilities and Equity
                Cash 800.000 Current Liabilities 150.000
                Account Receivable 300.000 Bonds Payable 500.000
                Inventory 100.000
                Common Stock 100.000
                Equipment 150.000 Retained Earnings 600.000
                Total 1.350.000 Total 1.350.000
                PT Nick Balance Sheet
                Assets Liabilities and Equity
                Account Receivable 200.000 Current Liabilities 100.000
                Inventory 100.000 Common Stock 200.000
                Equipment 300.000 Retained Earnings 300.000
                Total 600.000 Total 600.000


                Dengan terjadinya akuisisi ini, PT Astrea (Parent Company) menjurnal:

                Account Receivable 200
                Inventory 100
                Equipment 300
                Current Liabilities 100
                Cash 500

                Karena nilai buku sama dengan nilai wajarnya, maka tak perlu dilakukan revaluasi juga tidak akan muncul goodwill yang harus di akui

                Sehingga, Neraca setelah adanya konsolidasi PT Astrea (perusahaan induk) dan PT Nick menjadi nampak seperti:

                PT Astrea Balance Sheet
                Assets Liabilities and Equity
                Cash 300.000 Current Liabilitis 250.000
                Account Receivable 500.000 Bonds Payable 500.000
                Inventory 200.000 Common Stock 100.000
                Equipment 450.000 Retained Earning 600.000
                Total 1.450.000 Total 1.450.000


                Apakah laporan konsolidasi sesederhana itu ?
                Iya, ini hanya basic saja untuk memudahkan pemahaman, tentu lebih banyak detail dan lebih kompleks lagi pada realisasinya.

                Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design