Showing posts sorted by relevance for query perolehan aset. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perolehan aset. Sort by date Show all posts
Perolehan Aset Tetap Berwujud Dibangun Sendiri

Perolehan Aset Tetap Berwujud Dibangun Sendiri

Perolehan Aktiva Tetap - Aset Tetap bisa diperoleh dengan bermacam cara, beberapa diantaranya ialah: dibeli secara Tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham. Untuk penjelasan mengenai perolehan aset tetap, silahkan baca positingan saya sebelumnya tentang Perolehan Aset Tetap

Pada postingan sebelumnya juga, sudah saya bahas mengenai Perolehan Aset Tetap yang di peroleh dibeli secara Tunai, silahkan bisa di baca di perolehan aset tetap secara pembelian tunai. Perolehan aset tetap yang diperoleh dengan kontrak jangka panjang (dicicil) dan pertukaran, silahkan baca di perolehan aset tetap pertukaran

Perolehan Aset Tetap Di Bangun Sendiri


aktiva dibangun sendiri
Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri

Untuk aset bangunan sering juga diperoleh dengan dibangun terlebih dahulu, tidak membeli bangunan siap pakai. Pada dasarnya, perolehan aset tetap yang dibangun sendiri seperti bangunan sering kali terbagi menjadi dua proses, pertama dibangun menggunakan jasa kontraktor (istilahnya diborongkan) proyeknya, yang kedua dibangun sendiri, tidak diborongkan kepada pihak lain.

Jika perolehan aset tetap diborongkan kepada pihak lain, maka harga perolehan aset tetap tersebut diakui sebesar nilai kontraknya, sesuai kontrak dengan kontraktor yang mengerjakan proyeknya. dan jika dibangun sendiri, maka harga perolehan aset tetap diakui sebesar seluruh pengeluaran atas pembangunan aset tersebut misalkan pembangunan gedung, pabrik tersebut. Dalam pembuatan aset tetap yang tidak diborongkan, biaya biaya seperti upah langsung, bahan material dan biaya produksi langsung dibebankan kedalam harga perolehan.

Jika perolehan aset dengan cara diborongkan, maka akan mudah untuk menentukan harga perolehannya, begitu juga dengan yang dibangun sendiri, tinggal menambahkan semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, tapi,......
Kasus yang lumayan pelik dalam penentuan perolehan aset tetap yang dibangun sendiri adalah, Seandainya pembangunan aset tetap terjadi saat perusahaan sedang beroperasi?

Apanya yang menjadi masalah pelik?

Dalam pembangunan tentu ada banyak pengeluaran, dan pada waktu yang sama pula perusahaan juga sedang beroperasi, sedang melakukan aktivitas produksi, yang juga banyak terjadi pengeluaran biaya di site pembangunan yang searea, pengeluaran bisa campur aduk antara biaya operasional produksi vs biaya pembangunan gedung.

Ok, pengeluaran yang terjadi selama masa pembangunan sama saja dengan pengeluaran-pengeluaran proses produksi di perusahaan, yang terdiri dari 4 kelompok pengeluaran besar :
  • Bahan langsung (material)
  • Upah langsung (direct labour)
  • Biaya Tak langsung (overhead)
  • Biaya operasional (expenses)

Pengeluaran bahan langsung: OK,  ini mudah untuk dipisahkan, tak ada masalah serius.

Pengeluaran Upah langsung: Ok, inipun mudah untuk dipisahkan, 

Pengeluaran Biaya tak Langsung dan Biaya Operasional, Nah ini mungkin agak sulit untuk dipisahkan. hampir pasti perusahaan akan memakai sumber daya yang sama untuk post pengeluaran ini.

Contohnya: penggunaan air, pemakaian telepon, pemakaian listrik, transportasi, biaya satpam, peralatan tertentu, atau bahkan menugaskan karyawan/staf khusus yang bekerja dioperasional perusahaan juga bertugas mengawasi proyek pembangunan aset tetap.

Termasuk akuntan (staff accounting), selain menghandle keuangan dan pembukuan perusahaan yang sedang beroperasi juga harus membukukan semua transaksi yang muncul akibat proses pembangunan aset juga.

Lalu Bagaimana memisahkannya?

Kita menggunakan INCREMENTAL METHOD untuk menjawab masalah ini yaitu dengan cara membandingkan selisih overhead cost antara overhead/expenses sebelum dan sesudah adanya kontruksi pembangunan aset.

Contoh Kasus :

PT Foraz sejak 6 Juni 2014 melakukan perluasan pabrik dengan membangun gedung baru. PT Foraz sudah sejak 10 tahun yang lalu produksinya. Dari Laporan Rugi laba PT. Foraz, didapat data sebagai berikut :

perolehan aktiva tetap dibangun sendiri
Perolehan aset tetap dibangun sendiri
Dengan meliihat perbandingan data tersebut, maka porsi alokasi yang perlu dikapitalisasi bisa ditentukan seperti terlihat dikolom terakhir pada table dibawah ini :

perolehan aset tetap dibangun sendiri
perolehan aset tetap dibangun sendiri

Jurnalnya sudah bisa kita buat

Debit | Electricity 450
Debit | Building 50
Credit | Cash 500

Debit | Water Supplies 250
Debit | Building 50
Credit | Cash 300

Debit | Thelephone 200
Debit | Building 50
Credit | Cash 250


Debit | Overtime 13.000
Debit | Building 2.000
Credit | Cash 15.000


Debit | Office Supplies 250
Debit | Building 150
Credit | Cash 400


Debit | Petrol 50
Debit | Building 50
Credit | Cash 100

Apabila ada pertanyaan ataupun kritik serta koreksi, silahkan tinggalkan dikolom komentar, sekian dulu pembahasan mengenai Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri

Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

Perolehan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap - Setelah sebelumnya saya memposting tentang perolehan aset tetap yang diperoleh dari pembelian secara tunai, kali ini saya akan memposting mengenai perolehan aset tetap yang diperoleh dengan cara lain. 

Kita tahu, untuk mendapatkan aktiva tetap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Seperti membeli aktiva tersebut secara tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham.
perolehan aset tetap
Perolehan Aktiva Tetap

Aset Tetap Diperoleh dari Pembelian Kredit

Dalam perolehan aktiva tetap dengan membelinya secara kredit (pembayarannya secara cicilan), maka tidak perlu adanya pengeluaran kas sekaligus, tetapi kas dikeluarkan secara bertahap sesuai deal kesepakatan bersama kredito.

Selain itu dengan transaksi pembelian aset secara kredit ini akan menimbulkan bunga yang harus dibayar.
Aktiva tetap yang diperoleh dengan pembelian angsuran, dalam menentukan harga perolehannya tidak termasuk bunga didalamnya.

Bunga yang timbul dibebankan pada saldo yang belum dibayar atas kontrak dicatat sebagai biaya.

Contoh :

Pada tanggal 2 januari 2014 PT. Foraz membeli sebuah gedung dengan cara mencicil seharga Rp. 100.000.000 dengan uang muka Rp. 25.000.000 sisanya diangsur setiap akhir tahun selama tiga tahun dengan bunga 5% per tahun.
Jurnal 2 Januari 2014

Debit | Building Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp25.000.000
Kredit | Contract Payable Rp75.000.000


Jurnal 31 Desember 2014

Debit | Contract Payable * Rp25.000.000
Debit | Interest Expense ** Rp3.750.000
Kredit | Cash Rp28.750.000

Notes :
*     Contract Payable (utang) Rp 75.000.000 dibagi 3 tahun = Rp 25.000.000
 **  Bunga 5% dari Saldo utang kontrak: 5% x Rp 75.000.000 = Rp 3.750.000


Jurnal 31 Desember 2015

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp2.500.000
Kredit | Cash Rp27.500.000


Jurnal 31 Desember 2016

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp1.250.000
Kredit | Cash Rp26.250.000


#Pertanyaan

Mengapa bunga tidak dimasukkan harga perolehan aset tetap berwujud?

Bukankah aset tetap di akui sebesar harga perolehan yang merupakan harga dari barang ditambah semua biaya biaya yang diakibatkan dari transaksi aset tetap hingga aset tersebut siap digunakan/beroperasi?

Untuk hal ini lebih baik dibahas pada lain kesempatan saja. :)

Aset Tetap Diperoleh dengan Pertukaran

Pertukaran aset tetap dengan pertukaran maksudnya ialah aset tetap yang telah dimiliki ditukar dengan aset yang dimiliki oleh entitas/orang lain.

Terdapat beberapa masalah yang muncul dalam penentuan nilai-nya. Hal ini disebabkan berbagai kondisi atas pertukaran aset yang terjadi, dan ini dia beberapa hal/kondisi yang patut diperhatikan:
  1. Apakah pertukaran aset sejenis atau tidak sejenis
  2. Apakah diketahui harga pasar asetnya atau tidak diketahui
  3. Apakah disertai dengan arus kas atau tidak disertai arus kas
Ada beberapa kemungkinan kombinasi yang terjadi atas pertukaran aset tetap diatas, juga bagaimana perlakuan dalam akuntansinya:

# 1. Harga pasar aktiva tetap diketahui dan tidak disertai dengan arus kas

Aset tetap yang diperoleh dicatat sebesar harga pasar aset tetap dan mempunyai bukti transaksi yang memadai. Apabila kedua aset keabsahan buktinya sama sama kuat, maka yang dicatat dan diakui adalah harga pasar aset yang diserahkan, akan tetapi apabila aset yang diterima mempunyai bukti transaksi yang lebih lengkap dan lebih handal keabsahannya maka aset tetap perolehannya diakui sebesar aset yang diterima.

# 2. Harga pasar aset tidak diketahui baik sejenis ataupun beda jenis

Perolehan aset diakui sebesar nilai buku aset tetap yang dikeluarkan. akumulasi penyusutan aset tetap yang dikeluarkan/diserahkan perlu dihapus dalam kasus ini.

Aset tidak sejenis, harga pasar aset diketahui, ada/disertai arus kas

Apabila disertai arus kas, ada dua kemungkinan:
  1. Arus kas masuk, artinya ada laba dari pertukaran aset tetap, diakui laba pertukaran
  2. Arus kas keluar, artinya ada rugi dari pertukaran aset, diakui rugi pertukaran 
Aset yang ditukar sejenis, Harga pasar aset diketahui,disertai arus kas
  1. Indikasi rugi, maka rugi pertukaran diakui
  2. Indikasi laba, maka jangan diakui sebagai laba

Contoh Pertukaran Aset Tetap :

PT. Foraz menukarkan kendaraannya dengan sebuah mesin. Harga perolehan kendaraan Rp. 100.000.000, Akumulasi penyusutan pada saat penukaran adalah Rp. 20.000.000,

Harga Mesin Rp. 45.000.000, dalam pertukaran tersebut perusahaan menambah uang sebesar Rp. 5.000.000

Perhitungan :

- Harga Perolehan Mobil Rp100.000.000
- Akumulasi Penyusutan (Rp20.000.000)
- Nilai Buku Rp80.000.000
- Harga Perolehan Mesin Rp90.000.000
- Pembayaran (Rp5.000.000)
- Harga Pasar Mobil Rp85.000.000
- Laba Pertukaran Rp5.000.000


Jurnal :

Debit | Machine Rp90.000.000
Debit | Accumulation Depreciation Rp20.000.000
Kredit | Automobile Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp5.000.000
Kredit | Gain on Exchange of Plants Assets Rp5.000.000


#Pertanyaan

Ada laba dan rugi dalam pertukaran, dan langsung di akui dalam laporan keuangan.

Masih ingat tentang perolehan aset tetap secara gabungan/lumpsum? Silahkan baca [disini] lebih jelasnya.

Pada tulisan tersebut, apabila terdapat selisih, maka selisih itu di distribusikan kepada aset tetap yang diperoleh, tidak dimasukkan atau dikapitalisasi ke dalam aset tetap.

Sedangkan di sini, kita lihat langsung di akui laba atau rugi jika ada selisih, padahal judulnya sama, "Perolehan Aset Tetap"! perkara itu karena caranya yang berbeda, katakanlah, yang satu dibeli secara tunai, yang satu dengan ditukar. Tapi benang merahnya sama, ada aset yang dikeluarkan untuk memperoleh aset yang baru.

Dan kenapa jika ada selisih, perlakuannya berbeda?

Nah ini juga keanehan dalam metode ini, saya juga bertanya logikanya darimana. next posting jika ada waktu ingin sekali saya bahas. mungkin ada yang bisa bantu menjelaskan?

Baiklah, untuk saat ini sekian dulu mengenai perolehan aset tetap masih ada lagi cara perolehan dengan metode lain. Silahkan anda baca Perolehan Aktiva Dibangun Sendiri dan Perolehan Aktiva melalui Surat Berharga (saham atau obligasi)

Perolehan Aset Tetap

Perolehan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap


Banyak macam cara dalam proses perolehan aset tetap, nanti saya akan posting satu satu dan contoh kasusnya, diantaranya
  • Dibeli secara tunai 
  • Dibeli dengan cara mencicil
  • Pertukaran
  • Dibangun sendiri
  • Dibeli dengan saham
Pada konsep dasarnya, perolehan aset tetap diakui sebesar HARGA PEROLEHAN.

Apa itu harga perolehan ?

Harga perolehan adalah SELURUH BIAYA yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap tersebut mulai dari biaya pembelian hingga semua biaya yang timbul hingga aset tetap tersebut siap digunakan atau dioperasikan.

Singkatnya:

Harga beli + semua biaya yang timbul dari proses pembelian hingga aset siap digunakan

perolehan aset tetap
Perolehan Aktiva Tetap

Aset Tetap Dibeli Tunai

Aset tetap yang diperoleh dengan dibeli secara tunai dicatat sebesar nominal yang dibayarkan.

Biasanya terdiri atas harga beli aset tetap termasuk juga didalamnya bea impor dan PPN masukan ditambah dengan semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap tersebut

Seperti beban angkut, biaya pasang, ongkos balik nama, beban bongkar muat, juga biaya seperti membayar profesional yang dibutuhkan.

Dan apabila dalam pembelian tunai aktiva tetap terdiri dari berbagai macam aset tetap, maka harga pokok masing masing aset tersebut ditetapkan berdasar harga pasar relatif.

Apabila harga pasar relatif tidak diketahui, maka alokasi harga perolehan aset bisa dilakukan berdasar surat bukti dari suatu entitas/lembaga independen misalnya pajak.

Contoh Soal

PT Blimbing yang beroperasi di  Kota Malang membeli sebuah mesin dari perusahaan supplier di Surabaya seharga Rp 1000, Pph 22 sebesar 7.5%

PT Blimbing, mesin dikirim via kurir yang ditunjuk, ongkos kirim dari Surabaya ke Malang sebesar Rp 100, dan instalasi pemasangan mesin memakan biaya Rp 50, dan asuransi pengiriman sebesar Rp 15

Bagaimanakan perlakuan akuntansi atas pembelian mesin tersebut ?

* Penilaian Aset:

Jika di uraikan, semua pengeluaran untuk memperoleh mesin tersebut adalah sebagai berikut :

Pembelian 1000
Pph 22 75
Ongkos Kirim 100
Asuransi 15
Biaya Instalasi    50
 Total Biaya 1240

Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.240 merupakan harga perolehan atas mesin tersebut

* Pengakuan Aset (pencatatan)

Pencatatan wajar:

Debit | Mesin Rp1.240
Credit | Kas Rp1.240

Pencatatan tidak wajar:

Debit |Mesin 1000
Debit | Pph 22 75
Debit | Ongkos Kirim 100
Debit | Asuransi 15
Debit | Biaya Instalasi 50
Credit  | Kas 1240


Pertanyaannya: 

Apa alasan mengapa pada penjurnalan yang pertama dikatakan wajar sedangkan penjurnalan kedua tidak wajar ? 

Ini dikarenakan, hendaknya pengeluaran/biaya yang dikeluarkan diakui saat periode dimana manfaat atas pengeluaran tersebut akan didapat/diperoleh.

Dalam contoh tadi, apabila dilakukan penjurnalan seperti yang kedua, maka ketika penutupan buku akan terlihat beban yang sangat tinggi.

Bahkan mungkin bisa menakibatkan PT. Blimbing terlihat seperti mengalami kerugi yang sangat besar karena pembebanan biaya kirim dan biaya instalasi secara bersamaan. 

Sementara itu mesin yang diperoleh masih belum menghasilkan produk (output)

Mesin masih tidak memberikan manfaat 

Sedangkan pada periode berikutnya laba akan nampak tinggi karena biaya yang diakui saat pembelian mesin yang sudah dimanfaatkan tidak ada karena sudah diakui saat periode pembelian..

Pencatatan akan menjadi wajar jika semua biaya biaya yang dikeluarkan tadi dikapitalisi atau diakui sebagai Harga Perolehan mesin 

Kemudian pembebanannya dialokasikan secara bertahap pada periode berikutnya, periode dimana manfaat dari mesin tersebut dirasakan.

Pembelian Aset Tetap secara Gabungan (Lumpsum)


Apabila aset tetap yang dibeli secara gabungan, atau lebih dari satu jenis aset tetap, harga perolehannya dialokasikan atau dibagi kepada masing masing aset tersebut.

Pengalokasian harga perolehan gabungan berdasar pada perbandingan nilai wajar pada tiap aset yang bersangkutan.

Contoh :

Suatu tanah, bangunan dan peralatan diperoleh dengan harga Rp.8000, menurut taksiran fiskus, harga masing-masing aktiva tersebut adalah :

Tanah Rp. 3.100, bangunan Rp. 2.500 dan peralatan Rp. 1.500

Maka untuk menentukan harga perolehan masing-masing aktiva tersebut adalah :

perolehan aset tetap
Perolehan Aset Tetap

Dan jurnalnya sebagai berikut:

Debit | Land 3.500
Debit | Building 2.800
Debit | Equipment 1.700
Credit  |
Cash
8.000

Aset yang di catat adalah harga perolehan bukan taksiran dari fiskus, tapi setelah ditambahi pembagian selisih harga beli secara keseluruhan yang sudah didistribusikan.

Perolehan Aset Tetap Dibeli Dengan Saham (Surat Berharga)

Perolehan Aset Tetap Dibeli Dengan Saham (Surat Berharga)


Perolehan Aktiva Tetap dibeli Saham
Perolehan Aktiva Tetap Dibeli Saham

Aset Dibeli Dengan Saham/Obligasi atau Menerbitkan Surat Berharga (Insuence of Securities)


perolehan aset tetap dibeli dengan saham
aset tetap dibeli dengan saham
Aset yang diperoleh dengan  surat berharga (saham atau obligasi) diakui senilai harga pasar saham/obligasi. Apabila harga pasar sahamnya tak diketahui maka harga perolehan aset diakui sebesar harga pasar dari aset yang diperoleh. Pertukaran aset dengan surat berharga dicatat dalam akun rekening hutang obligasi atau modal saham sebesar nilai nominal. Selisih nilai tukar dengan nilai nominal diakui dan dicatat dalam rekening Premium (Agio Saham) atau Discount (Disagio Saham)

Poin poinnya:
  • Perolehan aest tetap diakui sebesar Harga Pasar saham yang dikeluarkan pada saat pembelian aset terjadi.
  • Apabila harga pasar lebih besar/tinggi dari harga nominalnya maka diakui adanya premiun (Agio Saham)
  • Apabila harga pasar lebih kecil dari harga nominalnya, maka diakui adanya Discount (Disagio Saham)

Contoh Kasus :

            PT. Foraz menukar 2.000 lembar saham biasa dengan nominal Rp 10.000/lembar, diketahui pada saat pertukaran harga pasar saham Rp. 11.000 /lembar, maka

Nilai Kurs : 2.000 x Rp 11.000 = Rp22.000.000
Nilai Nominal : 2.000 x Rp 10.000 = (Rp20.000.000)
Premium on Common Stock = Rp2.000.000

Jurnal :

Debit | Machine Rp22.000.000
Kredit | Common Stock Rp20.000.000
Kredit | Premium on Common Stock Rp2.000.000


#Pertanyaan nyeleneh
Saya lagi lagi bingung, tentang konsep dasar pengakuan perolehan aset tetap, disepakati bahwa aset tetap diakui sebesar harga perolehan, dimana harga perolehan itu menurut definisi dan kesepakatan bersama merupakan semua biaya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap. nah jika kita mendapatkan dengan menggunakan surat berharga, kenapa tidak berlaku harga perolehan?

Mengapa menggunakan harga pasar?
Mengapa tidak konsisten diterapkan konsep perolehan ini?

Saya tak bisa menjawabnya walaupun saya punya pandangan sendiri

Perolehan Aset Tetap dari Sumbangan atau Hadiah ( Donation of Discovery )


Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah harus diakui sebesar nilai pasar wajarnya dan apabila dalam menerima hadiah atau sumbangan tersebut dikeluarkan biaya, maka modal hadiah akan berkurang sebesar biaya tersebut.

Contoh :

PT. Foraz memperoleh sumbangan atau hadiah dari pemerintah berupa tanah dan bangunan dengan nilai masing-masing Rp. 40.000.000,00 dan Rp. 60.000.000,00

Jurnal :

Debit | Land Rp40.000.000
Debit | Building Rp60.000.000
Kredit | Donated Capital Rp100.000.000


Apabila dalam menerima hadiah tersebut dikeluarkan biaya Rp. 2.000.000,00 maka jurnalnya :

Debit | Land Rp40.000.000
Debit | Building Rp60.000.000
Kredit | Donated Capital Rp98.000.000
Kredit | Cash Rp2.000.000


Selesai sudah pembahasan mengenai Perlakuan Akuntansi Perolehan Aset Tetap, semoga tulisan ini bisa bermanfaat, jika ada yang belum dimengerti, silahkan ditanyakan, pasti saya akan kabur..


    Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

    Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

    Pengertian aset tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu.

    Aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

    Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa.

    Misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.

    Sofyan Safri berpendapat bahwa :

    "Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus."

    Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap adalah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

    Karakteristik Aktiva Tetap

    Aset Tetap
    Aktiva Tetap

    Aset tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
    • Mempunyai wujud fisik
    • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
    • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
    • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
    • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) contohnya, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

    Pengakuan Aktiva Tetap

    Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.

    Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :
    • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang. Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
      • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
      Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

      Penggolongan Aktiva Tetap

      Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain.

      Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut.

      Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya.

      Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya.

      Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:
      • Aset tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
      • Aset tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
      • Aset tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.

        Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :

        [1] Sudut substansi aset tetap

        • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
        • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll

        [2] Aset tetap disusutkan atau tidak disusutkan

        • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
        • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah.

        [3] Aset tetap berdasarkan jenisnya

        • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
        • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
        • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
        • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
        • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
        • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
        • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya

        Bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ?

        Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

        Pengertian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Assets)

        Baca juga artikel sebelumnya tentang Aktiva Lancar (current assets) dan Aset Tetap (fixed assets).
        Kali ini saya akan menulis mengenai jenis aset yang lainnya, yaitu aset tidak berwujud.

        aset tak berwujud
        aktiva tidak berwujud

        Aset tidak berwujud ?

        Ya, aset yang tidak terlihat wujud fisiknya secara nyata, tidak bisa disentuh, namun terasa besar manfaatnya.

        Keberadaannya bisa menguntungkan bagi perusahaan yang memilikinya.

        Apa saja yang termasuk aktiva tidak berwujud ?

        Dan jika aset tersebut tidak terlihat, bagaimana cara mengukurnya ?

        Bagaimana pula cara menilainya ?

        Lalu bagaimana cara menjurnal atau mencatatnya ?

        Dan juga cara mendapatkanya ? mari kita simak ...

        Pengertian Aktiva Tak Berwujud (Intangible Assets)

        Pengertian aktiva tak berwujud menurut PSAK :

        "Aktiva tak berwujud adalah aktiva non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara nyata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan maupun hanya untuk tujuan administrasi."
        Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud apabila :
        • Perusahaan berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset tersebut
        • Biaya biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal
        Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan.

        Kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya.

        Didalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya.

        Apabila aktiva tak berwujud diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan.

        Dan apabila aset tidak berwujud diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

        Contoh Aktiva Tak Berwujud

        [1] Hak Sewa (Lease Hold)

        Hak sewa diperoleh dari transaksi sewa aktiva tertentu, disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu.

        Contohnya : sewa gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak berwujud karena:
        • Memberikan kontribusi bagi perusahaan dimasa mendatang.
        • Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
        Contoh Hak Sewa :
        • PT Nivia Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama 10 tahun
        • PT Nivia Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang berkunjung.
        Pencatatan :

        Sewa gedung 100.000.000
        Kas 100.000.000
        Biaya sewa 250.000
        Kas 250.000

        Kedua transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda :
        • Sewa gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun buku, yaitu selama 10 tahun kedepan.
        • Dalam transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai BIAYA, karena nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau kurang dari satu tahun buku.

        [2] Hak Paten

        Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu, penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan produk, atau rekayasa.

        [3] Trade Mark (Merek Dagang) 

        Merek dagang adalah hak yang didapat dari suatu merk komersil tertentu.

        Contoh : logo, tulisan, simbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.

        [4] Organization Cost

        Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum perusahaan beraktivitas operasi.

        Contohnya biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.

        [5] Copyright (Hak Pengadaan)

        Merupakan hak yang diberikan karena suatu penulisan, baik itu puisi, novel, karya ilmiah, nada lagu maupun lirik, skenario film.

        Hak pengadaan (copyright) bisa meliputi hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut.

        [6] Perijinan (Licences)

        Hak yang didapat dari pemerintahan untuk bisa melakukan aktivitas yang terkait dengan bidang usaha perusahaan.

        Licences ini ada masa waktunya, apabila telah habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya izin seperti ini mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.

        [7] Franchise

        Franchise merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya.

        Kesemuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba.

        [8] Goodwill

        Goodwil adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas.

        Goodwill diakui apabila terjadi transaksi pada perusahaan yang dinilai lebih oleh entitas lain.

        Transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan.

        Contohnya keistimewaan perusahaan bisa muncul karena perusahaan mempunyai reputasi yang sangat bagus, mempunyai produk yang tak dimiliki oleh para pesaing maupun letak perusahaan yang strategis.

        Perlakuan Akuntansi Aset Tak Berwujud Dalam akuntansi aktiva tidak berwujud, sebenarnya hampir sama permasalahannya dengan aktiva berwujud.
        • Perolehan aset tak berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti aset berwujud).
        • Apabila terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure), biaya biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama seperti tangible asset.
        • Amortisasi aset tidak berwujud, seperti halnya penyusutan pada aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha). 
        Pencatatan maupun perhitungan amortisasi sama caranya dengan perhitungan dan pencatatan penyusutan aktiva tetap.
        1. Kecuali trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi merupakan biaya usaha
        2. Metode garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam amortisasi, karena aset tak berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan perusahaan.

        Pelaporan Aktiva Tak Berwujud (Disclosure)

        Yang dilaporkan aktiva tidak berwujud hanya net value-nya (nilai bersih) setelah dikurangi oleh akumulasi amortisasi.

        Akumulasi amortisasi ini tidak disajikan dalam neraca
        Khusus mengenai perlakuan goodwill, lebih jauh bisa dibaca disini : Pengertian Goodwill

        Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

        Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

        Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)


        Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap

        Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase
        1. Fase Perolehan Aset Tetap
        2. Fase Penggunaan Aset Tetap
        3. Fase Penarikan Aset Tetap
        akuntansi aset tetap
        Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

        Perolehan Aktiva Tetap 


        Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:
        Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition)
        Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)
        Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

        Penggunaan Aset Tetap 

        Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :
        • Pengeluaran (Expenditure)
        • Penyusutan & Amortisasi
        • Penilaian Kembali (Revaluation)

        Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets

        Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
        • Penjualan Aset Tetap 
        • Penukaran Aset Tetap
        • Laba-Rugi Penarikan Aset Tetap
        Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.

        Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
        • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
        • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
        • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
        Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?

        Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat


        Penyusutan Aset Tetap (Depreciation)

        Penyusutan Aset Tetap (Depreciation)

        Penyusutan Aktiva Tetap

        Penyusutan - Setelah Aset Tetap diperoleh, maka aset tetap tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional dan produksinya.

        Dalam fase ini, perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap ada beberapa perlakuan, salah satu perlakuan akuntansinya adalah PENYUSUTAN AKTIVA TETAP.

        Selain itu, perlakuan yang lainnya seperti expenditure dan revaluasi aset tetap yang akan saya bahas juga nantinya.

        Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi.

        penyusutan aktiva tetap
        Penyusutan


        Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menyatakan penyusutan adalah jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aset tetap menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis.
        Apapun metode penyusutan yang digunakan, didalam dunia akuntansi diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak ataupun tingkat keuntungan perusahaan.

        Ini supaya laporan keuangan nantinya bisa dibandingkan antara periode satu dengan periode yang lain, sebelum atau sesudahnya.

        Dalam bahasa sederhana, penyusutan aset tetap ialah biaya perolehan aset tetap yang dialokasikan kepada Biaya Operasional akibat penggunaan aset tetap.

        Atau dengan kata lain biaya yang dibebankan kedalam harga pokok produksi sebagai akibat dari penggunaan aset tetap dalam proses produksi serta operasional perusahaan secara umum.

        Contoh Jurnal Atas Penyusutan Aset Tetap sebagai berikut:

        Bentuk Jurnalnya :

        Debit | Penyusutan Rp xxx
        Kredit | Akumulasi Penyusutan  Rp xxx

        Biasanya dicatat saat tutup buku, besarnya nilai penyusutan tergantung dari beberapa faktor dan Ini dia beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penyusutan.

        Faktor Faktor Penyusutan Aktiva Tetap

        1. Harga Perolehan [Acquisition Cost]

        Faktor yang sangat berpengaruh atas besaran biaya penyusutan adalah harga perolehan atau acquisition cost.  

        2. Nilai Residu atau Nilai Sisa Aset [Salvage Value]

         Nilai Sisa Aset adalah prediksi atau taksiran potensi arus kas masuk bila aset tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian aset.

        Salvage Value tidak harus/selalu ada, misalnya pada masa penarikannya asetnya tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual. hanya jadi limbah saja (scrap).

        Eh, bahkan scrap pun masih ada nilai jualnya.

        Umur Ekonomis Aset Tetap [Economical Life Time]

         Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.

        Biasanya aset tetap memiliki dua (2) jenis umur:
        • Umur fisik Aset Tetap, berhubungan dengan kondisi fisik suatu aset tetap.
        Suatu aset memiliki umur fisik apabila secara fisik aset tersebut masih baik kondisinya meskipun mengalami penurunan fungsi.
        • Umur Fungsional Aset Tetap, berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. 
        Aset Tetap masih mempunyai umur fungsional apabila aset tetap tersebut masih memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik

        Atau bahkan jika suatu fisik aset perusahaan masih dikatakan baik, tapi karena tidak berkontribusi bagi perusahaan, maka aset belum tentu memiliki umur fungsional.

        Metode Metode Penyusutan Aset Tetap  (Depreciation Method)

        • Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda.
        • Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.
        • Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan.

        Namun, kebanyakan di Indonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan dalam praktenya.

        Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karena mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi.

        Metode Garis Lurus [ Straight Line Method ]

        Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi.

        Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia.

        Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya.

        Contohnya: bangunan, peralatan kantor dll

        Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ]

        Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat terbesarnya pada periode awal masa penggunaan.

        Kemudian akan mengalami penurunan fungsi yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aktiva tetap yang berkurang.

        Jadi semakin lama aktiva digunakan maka kontribusinya akan menurun.

        Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan.

        Contohnya: mesin produksi.
        Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

        Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

        Berbicara aktiva tetap, sudahkan Anda membaca perlakuan akuntansi aktiva tetap ?

        Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling ?

        Bagaimana perlakuan akuntansi aset yang hilang ?
        Aktiva TEtap Hilang TErcuri
        Aktiva Hilang Tercuri

        Aset tetap hilang tercuri ?

        Memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi.

        Hilang karena sistem keamanan yang kendor terhadap pihak luar, bahkan keterlibatan orang orang dalam perusahaan itu sendiri. niscaya bisa terjadi kapan pun.

        Aset tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (plant asset retirement).

        Selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan.

        Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

        Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)

        Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan.

        Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti surat kehilangan dari pihak pihak kepolisian.

        Tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada ?

        Maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya.

        Untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap.
        Contoh Kasus

        Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan mesin printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000.

        Atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014.

        Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus.

        Diperkirakan umur ekonomis mesin printing diperkirakan 4 tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0)

        Bagaimana prosedur penghapusan mesin printing tersebut ?

        Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja:
        Langkah pertama :

        Update nilai buku mesin printing

        Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut.

        Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014:

        Mesin printing telah dipergunakan selama 3 bulan

        Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000

        Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :

        Debit | Depreciation Rp10.000.000
        Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000

        Notes:
        Penjurnalan diatas untuk:
        • Mengakui biaya penyusutan sebesar Rp 10.000.000
        • Mengakui akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.

        Maka, nilai buku handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:
        Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan

        Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000
        = Rp 150.000.000

        Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 

        Langkah berikutnya:

        Hapus nilai mesin printing yang hilang


        Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal :

        Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
        Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
        Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000

                 Kesimpulan : kerugian diakui sebesar nilai buku aset tetap yang hilang.

        Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang

        Di akhir periode, mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok pos pos luar biasa (extra ordinary items).

        Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya extraordinary items tersebut.

        Bagaimana perlakuan akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak?

        Silahkan baca disini: Aktiva tetap yang terbakar atau rusak

        Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design