Showing posts with label Harga Pokok Penjualan. Show all posts
Showing posts with label Harga Pokok Penjualan. Show all posts
Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold - Basic)

Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold - Basic)

Pengertian Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan (cost of good sold) adalah semua biaya yang muncul dalam rangka menghasilkan suatu produk hingga produk tersebut siap dijual.

Harga Pokok Penjualan yang biasa disingkat HPP (COGS) merupakan biaya yang dikeluarkan dalam suatu proses produksi barang dan jasa yang dapat dihubungkan secara langsung dengan aktivitas prosess yang membuat produk barang dan jasa siap jual.

harga pokok penjualan
Harga Pokok Penjualan HPP

Struktur Harga Pokok Penjualan

Dari definisi harga pokok penjualan diatas, bisa kita dapatkan struktur dasar dalam harga pokok penjaualan umumnya terdiri dari tiga elemen besar:
  • Persediaan atau inventori
  • Tenaga kerja langsung (direct labour cost)
  • Biaya overhead (overhead cost)

# 1. Persediaan | Inventory

Dalam perusahaan dagan, element persediaan (inventory) hanya terdiri atas persedian barang jadi saja, dikenal dengan istilah Inventory

Sedangkan pada perusahaan manufaktur, elemen persediaan meliputi:
  • Raw materials (persedian bahan baku)
  • Work in process atau WIP (persediaan barang dalam proses)
  • Inventory (persediaan barang jadi)

Elemen persediaan yang dimaksud adalah besarnya persediaan yang terjual.

Untuk mengetahui jumlah persediaan yang telah terjual, ada beberapa hal yang harus diketahui terlebih dahulu, yaitu:
    1. Persediaan awal
    2. Pembelian (dalam usaha dagang)
    3. Harga pokok produksi (dalam perusahaan manufakture)
    4. Persediaan akhir.
    5. Persediaan yang digunakan atau disebut juga barang tersedia untuk dijual

      1. Persediaan Awal

      Persediaan Awal merupakan nilai jumlah persediaan yang telah dimiliki sebelum proses pada periode berjalan dimulai.

      Artinya, persediaan telah ada dahulu sebelum operasi pada periode sekarag dimulai

      2. Pembeliaan

      Perlu diingat, bahwa yang diakui adalah merupakan pengeluaran atau 'cost yang terjadi'.

      Sehingga jumlah pembelian yang diakui sebesar cost yang muncul saja, ini diwujudkan dalam bentuk pengeluaran kas ataupun pengakuan utang dagang.

      Jadi besarnya nilai pembelian yang diakui sebesar nilai net purchase atau nilai bersihnya saja.

      Hal seperti ini perlu dipertegas karena dalam prakteknya sangat sering perusahaan sbagai pembeli, apakah itu pembelian untuk barang jadi (dalam perusahaan dagnag) ataupun dalam pembelian raw material (bahan baku) dalam perusahaan manufaktur mendapatkan diskon (potongan harga), atau bisa terjadi juga return barang (pengembalian) kepada penjual.

      Untuk mendapatkan nilai bersihnya (net purchase) maka diperlukan struktur menjadi,:
      • Gross purchases (atau biasanya tertulis purchase saja)
      • Discount (potongan harga)
      • Return (pengembalian barang)
      • Net purchase (pembelian bersih)

      3. Persediaan Akhir

      Persedian akhir merupakan besarnya nilai persediaan yang dibukukan sebagai 'persediaan' pada akhir periode

      4. Persediaan yang Digunakan atau Persediaan Tersedia Untuk Dijual   

      5. Persediaan tersedia untuk dijual (BTOD) merupakan besarnya nilai persediaan:

      • Barang dagang yang terjual, ini berlaku untuk usaha dagang
      • Besarnya bahan baku yang digunakan dan barang dagang yang terjual, ini berlaku untuk perusahaan manufaktur.

        # 2. Direct Labour Cost (Tenaga Kerja Langsung)

        Tenaga kerja langsung (TKL) adalah upah yang diberikan atau dibayarkan kepada karyawan/tenaga kerja yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pengolahan barang dagang.

        Disebut biaya tenaga kerja langsung apabila besar kecilnya upah yang dibayar tergantung pada jumlah unit produk yang dihasilkan

        Biaya yang dikelompokkan kedalam direct labor cost merupakan tenaga kerja yang bayarannya berdasarkan pada: upah satuan atau upah harian per jam

        Dalam direct labor yang dibayar dengan upah satuan bisa kita lihat dengan jelas sekali kalau tenaga kerja model ini bisa dibebankan secara langsung pada produk yang dihasilkan

        Apabila upah yang dibayar berdasar pada jumlah jam kerja,maka umumnya perusahaan sudah menentukan satuan jumlah yang harus diproduksi untuk rentang waktu tertentu baik itu perjam atau perhari.

        Sehingga di akhir perhitungan bisa diketahui berapa besar biaya tenaga kerja langsung yang dibebankan untuk satu unit produk dan total biaya tenaga kerja langsung untuk akumulasi produk yang diproduksi/dihasilkan.

        Dalam perusahaan dagang yang kecil, biaya tenaga kerja langsung cenderung sulit agar dapat dialokasikan dengan semestinya, sehingga biaya tenaga kerja langsung hanya dapat ditemukan pada perusahaan manufaktur atau perusahaan tambang.

        # 3. Overhead Cost

        Biaya overhead adalah biaya yang muncul selain dari elemen elemen yang telah disebut diatas, biasanya diistilahkan dengan indirect cost atau biaya tidak langsung.

        Jenis biaya overhead sangat bervariasi tergantung dari skala usaha, jenis usaha serta jenis sumber daya yang digunakan oleh perusahaan.

        Biaya overhead yang paling sering ditemui dalam usaha manufaktur ataupun usaha dagang contohnya:
          1. Biaya sewa (rental cost)
          2. Depresiasi mesin dan peralatan (depreciation) 
          3. Penyusutan gedung pabrik (depreciation)
          4. Biaya listrik dan air pabrik (factory’s utilities)
          5. Biayta pemeliharaan pabrik dan mesin (maintenance)
          6. Biaya opngemasan (packaging)
          7. Gudang
          8. Sampel produksi (preproduction sampling)
          9. Ongkos kirim
          10. Kontainer (Continer)

            Siklus serta Alur Jurnal Harga Pokok Penjualan

            # Inventory

            Inventori yang ada pada neraca periode sebelumnya menjadi persediaan awal di periode saat ini.

            Apabila persediaan berhasil terjual diperiode berjalan, maka persedian tersebut di-biaya-kan serta diakui sebagai HPP (harga pokok penjualan).

            Proses pembebanan persediaan dilakukan saat barang diserahkan (terjual) dengan penjurnalan seperti ini:

            Debet | HPP
            Kredit |
            Inventory

            Notes:
            Untuk membebankan persediaan terjual kedalam HPP, jurnal tersebut:
            • Sisi Debet akan menambah HPP pada laporan laba rugi
            • Sisi Kredit akan menguraangi persediaan dalam neraca pada akhir periode.
            Jurnal diatas berpasangan dengan jurnal:

            Debit|Kas atau Piutang
            Kredit|Penjualan

            Notes: Untuk mengakui adanya penjualan serta piutang atau penerimaan kas pada periode tersebut.

            Apabila dalam periode yang sama ada penambahan persediaan karena pembelian barang dagang, maka pembelian itu menambah jumlah nilai inventory (persediaan barang dagang).

            Jurnal atas pembelian tersebut dicatat:

            Debit|Inventory
            Kredit|Kas / Utang Dagang


            Notes:

            Sisi debit menambah nilai persediaan dalam neraca
            Sisi kredit mengurangi kas atau menambah akun utang dagang di neraca

            Dan apabila sebagian dari barang tersebut terjual, maka bagian persediaan yang terjual akan dibebankan kepada HPP seperti alur pertama tadi dan jurnalnya sama saja.

            # Barang Dalam Proses dan Bahan Baku (Work In Process dan Raw Material)

            Dalam perusahaan manufakture, selain persediaan barang jadi, terdapat juga work in process atau persediaan barang dalam proses serta persediaan raw material (bahan baku)

            Persediaan barang dalam proses dan raw material yang ada dalam neraca periode lalu akan jadi persediaan awal di periode berjalan.

            Apabila persediaan terpakai ketika aktivitas pada periode berjalan, maka persediaan yang telah terpakai tersebut dibebankan pada harga pokok penjualan, dengan penjurnalan:

            Jurnal untuk bahan baku:

            Debit | Persediaan barang dalam proses
            Kredit | Persediaan bahan baku

            Jurnal untuk barang dalam proses:

            Debit | Inventory
            Kredit | Persediaan barang dalam proses


            Apabila terjadi suatu pembelian bahan baku, maka pembelian itu akan menambah persediaan bahan baku didalam neraca.

            Pembelian tersebut dijurnal dengan:

            Debit | Bahan baku
            Kredit | Kas / utang dagang


            Selanjutnya, apabila sebagian dari bahan baku yang dibeli tadi digunakan, maka dicatat dengan jurnal sama seperti pembebanan persedian bahan baku kedalam persediaan barang dalam proses diatas.

            # Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Biaya Overhead (direct labor cost and over head cost)

            Biaya tenaga kerja langsung diakumulasikan raw material usage serta work in proces usage akan menghasilkan harga pokok produksi, dan selanjutnya harga pokok produksi dan inventori akan menghasilkan harga pokok penjualan

            Perhitungan Dasar HPP | Harga Pokok Penjualan

            Perhitungan HPP bisa dirumuskan dengan berikut ini:

            HPP = Inventory Usage + Direct Labor Cost + Overhead Cost

            Inventory usage bisa diturunkan menjadi:

            Saldo Awal + Pembelian  - Saldo Akhir

            Pembelian bisa diturunkan menjadi:

            Pembelian - Potongan Pembelian - Return Pembelian

            Format Pelaporan Harga Pokok Penjualan

            Melihat Struktur, alur serta perhitungan HPP seperti tadi, maka format laporan HPP bisa kita susun.

            Namun contoh bentuk laporannya nanti saja pada postingan berikutnya..
            Harga Pokok Penjualan Metode FIFO

            Harga Pokok Penjualan Metode FIFO

            Perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS) Metode FIFO


            Setelah sebelumnya perhitungan harga pokok penjualan metode rata rata (average), kali ini kita bahas contoh soal harga pokok penjualan metode FIFO.

            FIFO yang merupakan akronim dari First In First Out, adalah barang dagang yang masuk lebih dulu, itulah yang harus dijual lebih dulu.

            Contoh Soal:

            Masih dengan contoh soal yang sama dengan sebelumnya, pada Harga Pokok Penjualan metode rata rata (average method), saya akan tulis kembali:

            UD Albirin Asri yang merupakan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000.

            Tampak beberapa transaksi yang terlihat pada buku catatan UD Albirin Asri seperti berikut:

            Date Transaksi Qty Unit Price Jumlah
            01-Apr Penjualan 40 4.500 180.000
            10-Apr Pembelian 30 3.100 93.000
            10-Apr Penjualan 65 4.650 302.000
            20-Apr Pembelian 25 3.200 80.000
            30-Apr Pembelian 40 3.250 130.000
            30-Apr Penjualan 25 4.875 121.875

            Dan inilah rangkumannya
            Qty Jumlah
            Total Pembelian 95 303.000
            Total Penjualan 130 604.000
                   * Agar lebih mudah total penjualan yang 603.875 saya bulatkan menjadi 604.000

            Transaksi pada 1 April :
            Karena persediaan barang pada tanggal 1 April 2015 hanya bersaldo awal 100 kg
            Maka 40 kg dijual menggunakan unit cost

            Saldo Awal = Rp 300.000 / 100
            = Rp 3.000

            Total COGS 1 April = Rp  3.000 x 40 kg
            = Rp 120.000

            Persediaan Akhir = Rp 300.000 - 120.000
            = Rp 180.000

            Transaksi 10 April :
            1. Pembelian barang dagang 30 kg senilai Rp 3.100 per kg, total pembelian : Rp 93.000
            2. Terjual barang dagang 65 kg.
            Unit cost yang mana yang digunakan ?

            Karena pada 01 April telah terjual 40 kg, sisa barang dagang yang sebelumnya menggunakan unit price hanya sisa 60 kg, dan tidak cukup untuk menutupi transaksi penjualan yang sebanyak 65 kg, jadi:
            • 60 kg barang dagang menggunakan unit price Rp 3.000
            • 5 kg barang dagang mempergunakan unit price Rp 3.100

            Total COGS 10 April 2015:

            60 x Rp 3.000  = Rp180.000
            5 x Rp 3.100  = Rp  15.000 (+)
            Total COGS Rp195.500

            Apabila dibuatkan tabel, akan tampak seperti ini:

            FIFO METHOD
            Date/Acc 01-Apr 10-Apr 10-Apr 20-Apr 30-Apr Total
            Opening Balance Qty 100 60 30 25 50
            Rp 300.000 180.000 93.000 77.500 157.500
            Purchase Qty 30
            25 40 95
            U/Prx 3.100
            3.200 3.250
            Rp 93.000
            80.000 130.000 303.000
            Sold (COGS) Qty 40 60 5 25 130
            U/Prx 3.000 3.000 3.100 3.100
            Rp 120.000 180.000 15.500 77.500 393.000
            Closing Balance Qty 60 30 25 50 65 65
            Rp 180.000 93.000 77.500 157.500 210.000 210.000

            Summary
            Opening Balance100300.000
            Purchase95303.000
            Sold (COGS)130393.000
            Closing Balance65210.000

            Notes:
            Coba perhatikan summarynya, Bila hendak diuji, silahkan pergunakan rumus COGS seperti yang telah dilakukan pada postingan sebelumnya pada metode Average Method

            Itulah sekilas contoh soal harga pokok penjualan metode FIFO.
            Bagaimana dengan Harga Pokok Penjualan Metode LIFO ?

            Sekaligus mengenai kajian pajak tentang harga pokok penjualan pada usaha dagang ?
            Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang

            Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang

            Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang - Setelah sebelumnya saya membahas tentang basic mengenai Harga Pokok Penjualan (Cost of Good Sold) atau yang biasa di singkat HPP atau COGS. Sekarang saya akan membahas mengenai Harga Pokok Penjualan untuk Perusahaan Dagang. kali ini bahasan akan mengenai alur COGS, jurnalnya, perhitungan dan juga pelaporan HPP-nya.


            Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang

            Pada postingan sebelumnya, untuk perusahaan dagang, ntah itu berbentuk wholesaler ataupun retailer, penghitungan harga poko penjualan-nya lebih mudah, juga lebih sederhana dibanding perhitungan harga pokok penjualan pada perusahaan manufakture (industri), tetapi meskipun begitu, dalam usaha dagang mempunyai karakteristik yang khas:
            • Dalam perusahaan dagang tidak menggunakan mesin untuk produksi, maka dari itu tidak akan muncul penyusutan atas mesin. tapi mungkin akan ada beban penyusutan atas peralatan, contohnya peralatan packing.
            • Tidak ada Direct Labour Cost ( Tenaga Kerja Langsung),  sekalipun ada tenaga kerja yang terlibet secara langsung membawa barang dagang menjadi barang siap jual, biayanya susah untuk di-alokasi-kan sebagai upah/biaya direct labour cost (tenaga kerja langsung). maka dari itu, upah seperti ini umumnya dibebankan menjadi bagian biaya overhead yaitu ongkos packing
            • Cost dalam perusahaan memiliki siklus yang lebih pendek
            • Untuk usaha dagang yang menjual barang dagang yang relatif sama dalam jenis barang, ukuran serta kualitas akan jadi masalah tersendiri. maka dari itu dibutuhkan penerapan metode tertentu untuk bisa menilai barang persediaan, hal ini tentu akan berpengaruh secara langsung terhadap pembebanan biaya persediaannya atau inventori cost'nya

            Struktur dari Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang


            COGS atau harga pokok penjualan perusahaan dagang terdiri atas dua kelompok, Inventory (persediaan barang) dan Overhead.

            Persediaan Barang [inventory]


            Inventory merupakan persediaan barang dagang yang didapat/diperoleh dari sisa persediaan barang pada periode yang lalu. Didalam akuntansi biasa kita sebut opening balance (saldo persediaan awal) ditambahkan dengan pembelian barang dagang pada periode berjalan, dikurangi saldo akhir (sisa persediaan). Nah, itulah Inventori Cost yang harus dibebankan menjadi Harga Pokok Penjualan

            Apabila dibuat strukturnya, akan nampak seperti ini

            A. Opening Balance.

            B. Purchases
            • Purchasse
            • Freigth In
            • Discont
            • Return.
            C. Sales.

            D. Clossing Balance.

            Overhead


            Elemen Harga Pokok Penjualan [COGS] perusahaan dagang berikutnya ialah overhead. overhead merupakan cost yang memiliki pengaruh secara tidak langsung atas HPP. beberapa overhead berikut yang umumnya muncul dalam usaha dagang:
            • Packing.
            • Warehousing
            • Frieght Out
            Total akumulasi dari semua elemen biaya diatas adalah Harga Pokok Penjualan [COGS] dari usaha dagang.

            Siklus serta Alur Transaksi dan Jurnal


            Diatas telah disebutkan bahwa elemen pembentuk harga pokok penjualan usaha dagang terdiri atas inventori dan juga biaya overhead (overhad cost)

            Alur serta siklus dari transaksi Inventory Cost :

            Tiap-tiap prosess akuntansi yang berkaitan dengan Neraca slalu diawali dari: Opening Balance (saldo awal), kemudian dilanjutkan Current Activitiies (traksaksi debet-transaksi kredit) yang pada ujungnya bermuara ke Neraca lagi berupa Closing Balance (saldo akhir).

            Pun sama halnya dengan inventori yang juga merupakan bagian dari sebuah Neraca. maka alurnya juga berawal dari opening balance (saldo awal) inventory. selanjutnya apabila ada aktivitas pembelian barang dagang, maka saldonya juga akan bertambah. dicatat dengan jurnal:

            Debit | Persediaan (menambah persediaan di neraca)
            Kredit | kas / utang dagang (mengurangi saldo kas di neraca)

            Dan apabila ada transaksi penjualan barang dagang, maka saldo persediaan akan berkurang. Nah ketika terjadi transaksi penjualan barang dagang inilah Inventoroy Cost kita akui, dengan menjurnal:

            Debit | HPP (cogs) (menambah saldo HPP di lap. L/R)
            Kredit | Persediaan (mengurangi persediaan di neraca)

            Notes:
            HPP atau COGS merupakan biaya yang akan menjadi salah satu faktor pengurang laba, kita ketahui bersama laba adalah elemen Neraca. persediaan yang berkurang pada aktiva diseimbang-kan oleh laba pada pasiva yang juga berkurang sehingga laporan Neraca selalu dalam keadaan balance.

            Dan karena ini adalah juga sebuah transaksi penjualan, maka di waktu yang sama penjualan harus diakui, dicatat dengan jurnal:

            Debit | Kas / Piutang (Menambah Kas/Piutang di Neraca)
            Kredit | Penjualan (Menambah Saldo Penjualan di Laporan Laba Rugi)


            Notes:
            Penjualan adalah pendapatan yang merupakan salah satu faktor yang menambahkan Laba. laba merupakan elemen dari Neraca. kas atau piutang yang berkurang didalam aktiva akan diseimbang-kan oleh laba pada sisi pasiva yang bertambah.
            Apabila bisa digambarkan dalam suatu skema, maka transaksi COGS atau harga pokok penjualan memiliki alur seperti ini:

            harga pokok penjualan usaha dagang
            harga pokok penjualan usaha dagang

            Contoh Soal Perhitungan Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang

            Contoh Soal Perhitungan Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang

            Perhitungan Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang

            Tulisan ini adalah lanjutan tulisan pada postingan sebelumnya tentang harga pokok penjualan dalam perusahaan dagang.

            Kali ini akan dibahas tentang contoh perhitungan harga pokok penjualan (HPP) dalam usaha dagang atau yang juga dikenal dengan Cost of Goods Sold (COGS)

            Perhitungan COGS atau HPP usaha dagang ini rumusnya sederhana:

            Harga Pokok Penjualan = Inventory Cost + Biaya Overhead 

            Inventory Cost = Persediaan Awal + Pembelian - Persediaan Akhir

            Pembelian = Pembelian + Ongkos Angkut - Potongan Harga - Pengembalian (return)

            Contoh Kasus Perhitungan COGS 

            UD Ali Sejahtera bergerak dibidang pedagang furniture di salah satu pusat perbelanjaan, pada awal bulan tanggal 01 Maret 2015 mempunyai persediaan furniture senilai 1.000.000.

            Sepanjang bulan Maret 2015 UD Ali Sejahtera membeli persediaan barang dagangannya dari pengrajin furniture sebesar Rp 48.000.000 dengan ongkos kirim yang ditanggung sebesar Rp 1.000.000.

            Pada bulan yang sama, UD Ali Sejahtera mencatat transaksi penjualan sebanyak Rp 65.000.000.

            Pada akhir periode bulan maret, tanggal 31 Maret 2015 terjadi beberapa aktivitas:
            • UD Ali Sejahtera membayar beban listrik sebesar Rp 350.000, 
            • Biaya Air PAM sebesar Rp 50.000, 
            • Membayar uang sewa lapak tenant sebesar Rp 10.000.000, 
            • Membayar gaji pegawai/penjaga toko sebesar Rp 800.000 
            • Membayar biaya ongkos kirim furniture antar ke pelanggan Rp 500.000
              Ketika dilakukan penghitungan fisik furniture, saldo akhir persediaan furniture diketahui hanya tersisa lemari kecil seharga Rp 300.000 saja.

              Permasalahan :
              1. Berapa HPP (COGS) UD Ali Sejahtera pada periode bulan Maret 2015?
              2. Berapa besaran Laba Kotor UD Ali Sejahtera pada bulan Maret 2015?

                Penyelesaian:

                1. Harga Pokok Penjualan (HPP)

                COGS = Inventory Cost + Biaya Overhead

                Inventory Cost : Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
                : Rp 1.000.000 + (Rp 48.000.000 + Rp 1.000.000) - Rp 300.000
                : Rp 49.700.000

                Biaya Overhead, mari kita pilah terlebih dahulu :
                • Listrik, apakah termasuk biaya overhead ? 
                Tidak termasuk, karena berapapun nominal yang dibayarkan untuk listrik tetap
                • Biaya Air PAM, apakah termasuk overhead ? 
                Tidak termasuk, alasannya sama, berapapun jumlah nominal yang dibayar untuk PDAM tetap
                • Sewa Tenant, apakah termasuk overhead ? 
                Tidak Termasuk, Alasannya juga sama
                • Gaji Penjaga Toko, apakah termasuk overhead ?
                Tidak Termasuk, alasannya sama, gaji penjaga toko berapapun jumlah yang dihasilkan, gajinya tetap sama.
                • Ongkos kirim furniture sampai ketempat pelanggan ?
                Ya, ini termasuk sebesar Rp 500.000
                  Total Biaya Overhead dicatat sebesar Rp 500.000

                  Jadi Harga Pokok Penjualan bisa kita hitung:

                  COGS : Inventory Cost + Biaya Overhead
                  : Rp 49.700.000 + Rp 500.000
                  : Rp 50.200.000

                  2. Laba Kotor Bulan Maret 2015

                  Laba Kotor : Penjualan – Harga Pokok Penjualan
                  : Rp 65.000.000 - Rp 50.200.000
                  : Rp 14.800.000


                  Bagaimana, Tidak sulit bukan?

                  Yap, pada umumnya tipe tipe contoh kasus yang sering kali kita temui memang semudah itu.

                  Tapi apakah pernah terpikirkan darimana asalnya saldo persediaan akhir senilai Rp 300.000 itu didapat?

                  Ini dia kuncinya..!

                  Penilaian Persediaan dan Penentuan Harga Pokok Penjualan


                  Untuk menilai sebuah persediaan barang mungkin gampang - gampang susah.

                  Dimana letak gampangnya ?

                  Apabila jenis barang dagang tersebut memiliki sifat yang unik, artinya barang yang satu dengan barang yang lain berbeda baik itu dari harga, ukuran barang, kualitas, harga unitnya, tentu bisa dengan mudah kita memanagenya, apalagi barangnya berjumlah sedikit.

                  Kita bisa tinggal pasang hanging tag atau sticker pada tiap tiap barang, spesifikasi dan harga unit ditiap tiap sticker.

                  Lalu kemudian pada akhir periode kita bisa lakukan perhitungan fisik (physical count).

                  Selesai sudah.. dalam akuntansi, ini biasanya diistilahkan dengan Physical Count Method

                  Lalu diamana letak susahnya ?

                  Bagaimana apabila barang dagangnya tunggal dan juga tidak unik.

                  Karakter barang memiliki bentuk fisik yang sama, warnanya sama, bentuk dan ukurannya pun tak berbeda, kualitas barang relatif sama, yang dijual hanya barang itu saja dari waktu ke waktu,

                  Akan tetapi harga beli berbeda, bervariasi.

                  Harga jualnya pun tentu berbeda beda

                  Lalu bagaimana cara menghitungnya ?

                  Bagaimana cara dalam penentuan inventorynya?

                  Bagaimana penentuan inventory costnya ?

                  Lho bukannya harga beli sudah diketahui, harusnya bisa ditentukan besaran inventory costnya (?)

                  Sekedar ilustrasi
                  UD Ali Sejahtera pada tanggal 3 Januari memiliki stok lemari kecil sebanyak 5 buah dengan harga kulakan sebesar Rp 400.000 per lemari kecil

                  Pada tangal 8 Januari kulakan lagi sebanyak 7 buah dengan harga Rp 450.000 per lemari kecil

                  Tanggal 10 Januari, UD Ali Sejahtera berhasil menjual sebanyak 11 lemari

                  Lalu yang menjadi pertanyaan.

                  Harus dihitung berapakah HPP nya?
                  Rp 400.000  atau Rp 450.000 ?

                  OK, Akuntansi mempunyai 3 metode yang bisa dipilih dan diterapkan dalam penentuan Harga Pokok juga sekaligus nilai persediaan barang pada akhir periode:
                  • Metode Rata - Rata (Average Method)
                  • Metode FIFO (FIFO Method)
                  • Metode LIFO (LIFO Method)
                  Bagaimana penerapan ketiga metode diatas?

                  Contoh Soal Harga Pokok Penjualan Metode Rata Rata (Average Method)

                  Contoh Soal Harga Pokok Penjualan Metode Rata Rata (Average Method)

                  Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang harga pokok penjualan pada perusahaan dagang

                  Penilaian Persediaan dan Penentuan Harga Pokok Penjualan

                  Seperti yang telah dijelaskan pada postingan sebelumnya, ada tiga metode yang bisa kita gunakan dalam penentuan besaran Harga Pokok Penjualan dalam usaha dagang sekaligus nilai persediaan pada akhir periode.

                  1. Metode Rata Rata (average method)
                  2. Metode FIFO 
                  3. Metode LIFO
                  Kita langsung pada Contoh Kasus

                  UD Albirin Asri yang merupkan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000. tampak beberapa transaksi yang terlihat pada buku catatan UD Albirin Asri seperti berikut:

                  Date Transaksi Kuantitas Unit Price Jumlah
                  01-Apr Penjualan 40 4.500 180.000
                  10-Apr pembelian 30 3.100 93.000
                  10-Apr Penjualan 65 4.650 302.250
                  20-Apr pembelian 25 3.200 80.000
                  30-Apr pembelian 40 3.250 130.000
                  30-Apr Penjualan 25 4.875 121.875

                  Dan apabila kita rangkum, maka akan menjadi seperti ini:

                  Rangkuman
                  Total Pembelian 95 303.000
                  Total Penjualan 130 604.125


                  Permasalahan:
                  • Berapakah Inventory Cost UD Albirin Asri pada akhir periode bulan April ?
                  • Berapakah Nilai Persediaan UD Albirin Asri pada akhir periode bulan April ?
                  • Berapakah Laba Kotor UD Albirin Asri apabila tidak ada biaya overhead ?

                  Seperti telah dijelaskan sebelumnya, persediaan tipe seperti ini bisa diukur dengan menggunakan tiga metode.

                  Saya akan mencoba untuk menggunakan ketiga metode diatas. untuk kali ini saya akan menggunakan metode rata rata (average method), untuk metode FIFO dan LIFO akan saya posting pada postingan berikutnya.

                  Average Method (Metode Rata rata)


                  Penentuan Harga Pokok dari barang yang telah terjual per-unitnya dengan menjumlahkan saldo awal barang dengan jumlah nilai pembelian, kemudian dibagi dengan kuantitas saldo akhir ditambah kuantitas barang yang dibeli.

                  Rumusnya sebagai berikut:

                  HPP per Unit = [Rp Saldo awal + Rp Pembelian] : [Qty saldo awal + Qty pembelian]

                  Total HPP yang terjual =  HPP per Unit x Qty Terjual

                  Saldo Akhir = Saldo Awal + Pembelian - Penjualan

                  Dalam contoh kasus UD Albirin Asri tadi diatas :

                  HPP per Unit penjualan 01-April:

                  HPP per Unit = (Rp 300.000 + 0) : (100 + 0)
                  HPP per Unit = Rp 300.000 : 100 
                  Rp 3.000

                  Total Harga Pokok Penjualan terjual :

                  Rp 3.000 x 40 = Rp 120.000

                  Saldo Akhir :
                  Rp 300.000 + 0 - 120.000 
                  Rp 180.000

                  Demikian seterusnya sampai dengan akhir periode.
                  Apabila diteruskan semua transaksi tersebut, maka akan didapat tabel seperti ini :

                  Average Method

                  Date/Acc
                  01-Apr
                  10-Apr
                  20-Apr
                  30-Apr
                  Total
                  Opening Balance
                  Qty
                  100
                  60
                  25
                  50
                  50

                  Rp
                  300.000
                  180.000
                  75.833
                  155.833
                  155.833
                  Pembelian
                  Qty


                  30
                  25
                  40
                  95

                  U/Prx


                  3.100
                  3.200
                  3.250


                  Rp


                  93.000
                  80.000
                  130.000
                  303.000
                  Sold (COGS)
                  Qty
                  40
                  65


                  25
                  130

                  U/Prx
                  3.000
                  3.033


                  3.175


                  Rp
                  120.000
                  197.167


                  79.398
                  396.565
                  Closing Balance
                  Qty
                  60
                  25
                  50
                  65
                  65

                  Rp
                  180.000
                  75.833
                  155.833
                  206.435
                  206.435

                  Summary
                  Openin Balance 100 300.000
                  Purchase 95 303.000
                  Sold (COGS) 130 396.565
                  Closing Balance 65 206.435

                  Notes:
                  Coba Perhatikan rangkuman (summary)
                  Sold (COGS) adalah sebesar Rp 396.565
                  Closing Balance (persediaan akhir) adalah sebesar Rp 206.435

                  Bisa kita UJI menggunakan rumus :
                  Persediaan Akhir = Persediaan awal + Pembelian - HPP
                  Persediaan Akhir = Rp 300.000 + 303.000 - 396.565
                  Persediaan Akhir = Rp 206.435

                  Hasilnya tetap sama :) 
                  Contoh Soal Harga Pokok Penjualan Metode LIFO

                  Contoh Soal Harga Pokok Penjualan Metode LIFO

                  Harga Pokok Penjualan Metode LIFO 

                  LIFO, yang berakronim Last In First Out, adalah barang yang terakhir masuk, akan dijual paling awal (lebih dahulu). aneh? bisa dibilang iya, karena dengan metode ini akan membuat HPP akan menjadi tidak realistis. Coba dipikirkan, biaya yang dibebankan mempergunakan cost dari pembelian yang terakhir dan tidak memperhitungkan bahwa ada kemungkinan barang dagang yang dijual bercampur antara persediaan barang yang menggunakan harga yang lama dengan persediaan barang baru dengan harga yang berbeda (harga baru). di Amerika, metode LIFO ini tidak dianjurkan untuk diimplementasikan dan dianggap sebuah praktek yang ilegal, pun bila ada yang menggunakan metode LIFO akan diawasi dengan sangat ketat oleh pemerintah disana.

                  Baiklah, mari kita mencoba hitung Harga Pokok Penjualan atau HPP dengan metode LIFO ini. saya akan tulis kembali soal yang sama seperti pada metode rata rata dan metode FIFO.

                  UD Albirin Asri yang merupakan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000. tampak beberapa transaksi yang terlihad pada buku catatan UD Albirin Asri seperti berikut:

                  DateTransaksiKuantitasUnit PriceJumlah
                  01-Apr
                  Penjualan
                  404.500180.000
                  10-Apr
                  pembelian
                  303.10093.000
                  10-Apr
                  Penjualan
                  664.650302.000
                  20-Apr
                  pembelian
                  253.20080.000
                  30-Apr
                  pembelian
                  403.250130.000
                  30-Apr
                  Penjualan
                  254.875121.875

                  dan inilah rangkumannya

                  Rangkuman
                  Total Pembelian 95 303.000
                  Total Penjualan 130 604.000

                  Transaksi pada 1 April:
                  Kita bisa mengetahui hasilkan akan sama dengan metode metode sebelumnya, jadi kita lewati saja

                  Transaksi 10 April 2015:
                  Opening Balance (saldo awal) 60 kg dengan unit cost Rp 3.000
                  Purchase (pembelian) 30 kg dengan harga Rp 3.100 per kg, jadi total pembelian sebesar Rp 93.000
                  yang berhasil dijual sebanyak 65 kg, unit cost mana yang digunakan?

                  dengan konsep LIFO, maka :

                  30 kg x Rp 3.100 = Rp   93.000
                  35 kg x Rp 3.000 = Rp 105.000
                                                 --------------- (+)
                         Total COGS =  Rp 198.000

                  dan bila dibuatkan tabel, akan nampak seperti dibawah ini:

                  LIFO METHOD
                  Date/Acc 01-Apr 10-Apr 10-Apr 20-Apr 30-Apr Total
                  Opening Balance Qty 100 60 60 25 50 50
                  Rp 300.000 180.000 180.000 77.500 155.000 155.000
                  Purchase Qty
                  30 25 40 95
                  U/Prx
                  3.100 3.200 3.250
                  Rp
                  93.000 80.000 130.000 303.000
                  Sold (COGS) Qty 40 30 35 25 130
                  U/Prx 3.000 3.100 3.000 3.200
                  Rp 120.000 93.000 105.000 80.000 398.000
                  Closing Balance Qty 60 60 50 50 65 65
                  Rp 180.000 180.000 155.000 157.500 205.000 205.000


                  Summary :
                  Opening Balance 100 300.000
                  Purchase 95 303.000
                  Sold (COGS) 130 398.000
                  Closing Balance 65 205.000

                  Notes: Jangan Lupa perhatikan summarynya juga

                  Kesimpulan:

                  Dengan Mempergunakan tiap masing masing metode, baik metode rata rata, metode FIFO, Metode LIFO pada postingan sebelumnya, dengan soal yang sama, hasilnya: 

                  summary-nya saya pindahkan kesini, coba perhatikan pada summary-nya masing masing

                  Summary Average Method FIFO Method LIFO Method
                  Qty Value Qty Value Qty Value
                  Opening Balance 100 300.000 100 300.000 100 300.000
                  Purchase 96 303.000 96 303.000 96 303.000
                  Sold (COGS) 130 396.565 130 393.000 130 398.000
                  Closing Balance 65 206.435 65 210.000 65 205.000

                  Opening Balance (Saldo Awal) tetap sama:
                  Qty = 100 kg - Rp 300.000

                  Purchase (Pembelian) tetap sama:
                  Qty = 95 kg - Rp 303.000

                  Kuantitas HPP sama yakni 135 kg, tetapi value (nilainya) berbeda:
                  Average : 396.565
                  FIFO : 393.000
                  LIFO : 398.000

                  Closing Balance (Saldo Akhir) Qty sama, yakni 65 kg namun nilainya berbeda - beda:
                  Average : 206.435
                  FIFO : 210.000
                  LIFO : 205.000

                  Kajian Perpajakan


                  Akuntansi Perpajakan bisa memainkan HPP, Harga Pokok Penjualan (COGS) bersifat sangat vital pengaruhnya dalam besaran perhitungan pajak. nilai besar kecilnya PPh yang akan di tanggung nantinya sangat dipengaruhii oleh besaran HPP.  

                  Dengan angka penjualan yang sama, makin besar harga HPP nya, maka laba yang diperoleh semakin kecil, dan sudah barang tentu pajak yang harus ditanggung akan makin kecil juga.

                  Berikut beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan:
                  • Freight, elemen pembentuk HPP, pengakuan biaya ini harus sesuai
                  • Discount dan Retur Pembelian:
                  Discount atau potongan harga haruslah dihitung dengan semestinya, apabila lupa dalam menghitung potongan harga, maka akibatnya pembebanan HPP akan jadi lebih tinggi dari yang semestinya. HPP yang lebih tinggi akan mengakibatkan pajak yang dibayarkan tentu lebih rendah, dan apabila ditjend pajak tidak mengetahui hal ini, ya bersukurlah, namun apabila ketahuan,makan hal ini menjadi koreksi ketika pemeriksaan.

                  Metode dalam Penentuan Harga Pokok Penjualan dan Penilaian Persediaan


                  Apabila diperhatikan dari kesimpulan tadi, bisa dilihat dengan jelas bahwa metode LIFO adalah metode yang menghasilkan HPP yang paling tinggi, ini karena harga pembelian trendnya kan akan terus meningkat. perlu diingat, dalam konsep LIFO, biaya unit yang digunakan sebagai dasar perhitungan HPP merupakan harga pembelian yang palint terkini (most recent). kita semua juga tahu, dinegara ini tingkat inflasi terus cenderung menigkat dari waktu ke waktu. jarang sekali ada kejadian sebuah harga mengalami penurunan. dengan demikian, metode LIFO adalah metode yang akan memghasilkan PPh yang paling kecil.!

                  HPP yang paling tinggi berikutnya ialah Metode Rata Rata (Average Method), hampir mendekati metode LIFO, hanya saja, nilai yang diambil adalah nilai tengahnya

                  Metode FIFO merupakan penggunaan metode yang paling kecil HPP-nya dan juga sekaligus paling realistis.

                  Metode apa yang akan anda gunakan? beralih ke metode LIFO?

                  Apapun metode yang digunakan, ntah itu LIFO, FIFO, Average terserah saja, sepanjang metode itu diterapkan dengan konsisten


                  Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design