Showing posts with label Finance. Show all posts
Showing posts with label Finance. Show all posts
Sumber Dana Perusahaan

Sumber Dana Perusahaan

Pengertian Sumber Dana Perusahaan - Agar perusahaan bisa beraktifitas dengan normal, untuk melakukan ekspansi atau pengembangan usaha, atau bahkan hanya untuk bisa bertahan hidup dan bahkan untuk membayar hutang pun. Perusahaan membutuhkan DANA untuk melakukannya.

Seluruh kegiatan perusahaan mulai dari kegiatan kecil hingga transaksi strategis mutlak membutuhkan dana yang cukup.

Darimana perusahaan memperoleh dana tersebut ?
Darimana sumber sumber keuangan perusahaan diperoleh ?

Sumber Dana Perusahaan

Memperoleh sumber pendanaan adalah salah satu dari fungsi manajemen keuangan.

Umumnya, sumber dana perusahaan bisa diperoleh dari 3 kelompok sumber dana. Sumber dana jangka pendek, jangka menengah serta jangka panjang.

Sumber Dana Jangka Pendek

Pendanaan perusahaan yang didapat dari sumber dana jangka pendek umumnya digunakan untuk modal kerja perusahaan. 

Dana yang diperoleh dengan skema ini harus dibayar/dikembalikan dalam rentang waktu setahun buku akuntansi atau kurang.

Tidak boleh lebih dari satu periode akuntansi.

Contohnya adalah pinjaman dari bank jangka pendek. Pendanaan persediaan. Kredit perdagangan.

Sumber Dana Jangka Menengah

Umumnya, perusahaan yang sumber pendanaannya berasal dari sumber dana jangka menengah karena adanya keperluan yang ternyata tidak bisa dipenuhi oleh pendanaan jangka pendek namun terlalu berlebih atau terlalu sulit didapatkan dengan skema pendanaan jangka panjang.

Rentang waktu dalam pengembalian sumber dana jangka menengah adalah lebih dari satu tahun buku akutansi dan tidak lebih dari lima tahun buku.

Contoh dari pendanaan jangka menengah adalah leasing, term loan, equipment loan.

Sumber Dana Jangka Panjang

Manajer keuangan memilih menggunakan pendanaan jangka panjang umumnya karena perusahaan akan melakukan ekspansi usaha yang masif dalam skala perusahaan tersebut. Strategis bagi perusahaan. Walaupun banyak alasan alasan lain yang selain itu. Yang memerlukan pendanaan dalam jumlah yang cenderung besar bagi perusahaan.

Contohnya, perusahaan yang akan melakukan ekspansi usaha dengan mengakuisisi perusahaan sejenis atau perusahaan suplier, membeli atau membangun aset aset tetap jangka panjang seperti tanah, pabrik, mesin ataupun proyek konstruksi yang lain.

Tempo dalam pengembalian pendanaan jangka panjang umumnya lebih dari lima tahun buku.

Jenis pendanaan jangka panjang contohnya adalah penerbitan obligasi, hipotik ataupun listing go public dilantai bursa dengan IPO saham perusahaan.

Asal Sumber Pendanaan Perusahaan

1. Sumber Internal Perusahaan

Pendanaan yang berasal dari internal perusahaan contohnya adalah retained earning (laba ditahan).

Laba ditahan didapat dari besarnya laba perusahaan yang diperoleh pada periodde tertentu.

Laba perusahaan pada periode tertentu belum tentu bisa menjadi laba ditahan yang bisa digunakan untuk pendanaan perusahaan.

Laba perusahaan akan dibagi menjadi 2. Laba ditahan dan deviden yang akan dibagikan kepada pemilik perusahaan.

Besar kecilnya laba ditahan dan deviden diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan.

Persentasenya tergantung pada hasil RUPS, apakah laba akan dibagikan seluruhnya menjadi deviden, atau menjadi laba ditahan atau sekian persen deviden dan sekian persen menjadi laba ditahan.

Semuanya tergantung pada keputusan dalam RUPS perusahaan.

Penyusutan.

Berbagai sumber menyebutkan penyusutan adalah salah satu sumber pendanaan internal. Namun saya pribadi masih belum bisa menjelaskan bagaimana penyusutan bisa menjadi sumber pendanaan yang bisa dipakai oleh manajemen keuangan.

2. Sumber Eksternal Perusahaan

Pendanaan yang berasal dari eksternal perusahaan adalah sumber dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik perusahaan.

Apa ? pemilik perusahsaan adalah sumber eksteral ?

Ya dalam dunia akuntansi, dalam perusahaan yang modern. Pemilik dan perusahaan adalah 2 entitas yang terpisah satu sama lain. Harus dipisahkan dan tidak boleh dicampur-baurkan

Sumber dana perusahaan yang berasal dari kreditur adalah hutang bagi perusahaan. Pendanaan seperti ini biasanya disebut dengan debt financing.

Sumber dana perusahaan yang berasal dari pemilik adalah penambah modal bagi perusahaan. Pendanaan ini bisa mengubah kompisisi ekuitas pada neraca perusahaan. Pendanaan seperti ini biasanya disebut dengan equity financing.

Pihak pihak yang menjadi sumber dana eksternal biasanya terdiri dari :

# Supplier

Supplier umumnya memberikan pinjaman dalam bentuk bukan cash. Namun dalam bentuk pemberian kredit dalam transaksi pembelian barang atau persediaan perusahaan.

Pinjaman ini biasanya untuk jangka pendek atau kurang dari satu tahun buku. Walaupun ada juga yang jangka menengah dan panjang. 

# Bank

Bank adalah sasaran utama manajemen keuangan dalam mencari sumber dana bagi perusahaan. Baik untuk jangka pendek, menengah bahkan jangka panjang sekalipun.

# Pasar Modal

Didalam pasar modal, perusahaan bisa mencari sumber dana dengan cara menerbitkan obligasi ataupun saham baru (IPO atau right isssu).

Obligasi akan menambah hutang perusahaan, dan pernbitan saham baru akan menambah permodalann perusahaan sekaligus mengubah struktur komposisi ekuitas pada neraca perusahaan.

Bergabung dengan pasar modal, perusahaan bisa dengan mudah mendapatkan pendanaan. Dipasar modal sudah siap ribuan kreditor ataupun investor yang akan membeli obligasi, saham ataupun surat berharga yang diterbitkan perusahaan untuk pendanaan mereka.  

Berbagai cara diatas bisa dilakukan oleh manajer keuangan dalam usaha untuk mendapatkan dana perusahaan,

Dengan mendapatkan dana yang dibutuhkan, yang sudah dianggarkan, yang telah direncanakan oleh manajemen keuangan perusahaan. Perusahaan bisa memiliki gerak ruang yang cukup untuk bisa beroperasi, melakukan ekspansi usaha, diversifikasi usaha ataupun hanya untuk sekedar bertahan hidup.

Penggunaan dana yang telah diperoleh ini akan menjadi bahasan menarik lainnya. Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Risikonya

Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Risikonya

Hutang jangka panjang adalah pinjaman yang memiliki tempo pembayaran lebih dari 5 tahun. Umumnya utang jangka panjang memiliki rentang waktu pembayaran 5 - 30 tahun.

Modal (capital) bagi sebuah unit usaha sangat dibutuhkan. Modal dibutuhkan untuk operasional perusahaan, pengembangan usaha dan bahkan untuk mengawali usaha (start-up).

Bagaimana modal bisa diperoleh ?

Salah satu sumber modal adalah utang jangka panjang.

hutang jangka panjang

sumber gambar : moneysave

Hutang Jangka Panjang

Memiliki hutang dalam berbisnis adalah keniscayaan.

Hutang bisa muncul karena adanya kebutuhan.

Kebutuhan untuk operasi perusahaan, kebutuhan untuk memulai usaha, kebutuhan untuk pengembangan usaha, kebutuhan untuk membayar hutang.

Dan kebutuhan perusahaan yang lain.

Perusahaan yang memiliki visi jauh kedepan.

Memikirkan bahwa perusahaan akan terus beroperasi hingga selamanya.

Sudah selayaknya untuk mempertimbangkan opsi memenuhi kebutuhan pendanaan dengan hutang jangka panjang.
"Hutang jangka panjang adalah hutang yang memiliki tengggang waktu pembayaran lebih dari satu tahun buku atau operasional perusahaan. [Kieso]"
Berbeda dengan hutang jangka pendek yang memiliki jatuh tempo atau segera dibayaran selama kurang dari satu tahun buku.

Sumber utang jangka panjang biasanya diperoleh dari bank, investor ataupun perusahaan lain.

Hutang jangka panjang umumnya digunakan untuk keperluan investasi perusahaan.

Investasi yang manfaatnya juga akan dirasakan bukan hanya satu dua periode saja, namun hingga jangka waktu yang relatif lama.

Bisa 10 -50 tahun atau lebih.

Sifatnya lebih permanen.

Contoh investasi seperti membeli tanah, pembangunan pabrik baru, membangun gedung baru, membeli perusahaan supplier, akuisisi perusahaan pesaing.

Dan lain sebagainya.

Contoh Utang Jangka Panjang

Contoh utang jangka panjang adalah hipotik dan obligasi.

#1. Hipotik

Hutang atau pinjaman hipotek adalah hutang yang menggunakan aktiva tetap sebagai jaminan.

 Aktiva tetap yang bisa dijaminkan contohnya gedung atau bangunan, rumah, mesin, tanah dan atau aset tidak bergerak lainnya yang dimiliki oleh perusahaan.

Kreditur atau pemberi pinjaman dapat menyita, mengambil dan menjual barang yang telah dijaminkan tersebut apabila perusahaan tidak bisa melunasinya.

Hutang pinjaman hipotik ini contohnya adalah pinjaman kepada bank.

Untuk memperoleh pinjaman hipotik ini, bank memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Besar kecilnya pinjaman akan menyesuaikan dengan jaminan aset yang tersedia dan juga kemampuan membayar.

Kemampuan membayar ini bisa dilihat dari kelancaran arus kas, laba tahunan yang diperoleh perusahaan dan indikator lainnya yang menjadi pertimbangan pihak bank untuk menyetujui pinjaman.

Jangka waktu pembayaran berdasarkan kesepakatan antara peminjam dan bank yang telah disepakati. Umumnya 5-10 tahun.

#2. Obligasi

Obligasi adalah utang yang diperoleh dengan cara menerbitkan surat berharga obligasi.

Pembeli obligasi dikenal dengan pemegang obligasi yang artinya juga adalah sebagai pemberi hutang (kreditur)

Surat berharga obligasi berisi tentang nominal obligasi, bunga obligasi pertahun, tanggal pelunasan dan hal lain sesuai dengan jenis obligasi yang disepakati oleh penerbit (perusahaan) dengan pembeli (pemberi pinjaman).

Keuntungan Utang Jangka Panjang

Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan pembiayaan utang jangka panjang bagi perusahaan.

#1. Pengurang Pajak

Bunga pinjaman dari hutang jangka panjang adalah biaya yang harus dibebankan kepada perusahaan tiap tahunnya.

Secara pencatatan akuntansi, bertambahnya beban bunga akan mengurangi laba perusahaan yang kemudian memperkecil pajak yang akan dibayarkan.

#2. Biaya Modal Rendah

Biaya modal dari utang jangka panjang seperti obligasi dan hipotik cenderung lebih rendah dibandingkan biaya modal dari pendanaan lain seperti penerbitan saham baru.

Maksud biaya modal adalah biaya yang dikelaurkan untuk mendapatkan modal (dalam hal ini utang)

#3. Biaya Bunga Terbatas

Biaya bunga terbatas maksudnya adalah besar kecil tingkat bunga utang telah ditentukan.

Berapapun laba bersih yang berhasil dibukukan oleh perusahaan, jumlah bunga yang dibayarkan tetap.

Hal ini akan berbeda jika perusahaan mendapatkan dana bukan selain dari utang seperti penambahan saham baru.

Jumlah dividen yang dibayarkan tergantung dari laba bersih yang dihasilkan.

#4. Tidak Mengubah Pengendalian

Pemberi pinjaman atau kreditur dengan skema yang lain tidak memiliki hak suara perusahaan. 

Kreditur tidak bisa mengintervensi kebijakan manajemen perusahaan secara langsung.

Kreditur tidak akan pernah bisa mempengaruhi kebijakan kebijakan yang akan dan sedang dijalankan oleh manajemen.

Hal ini tentu akan berbeda jika perusahaan menerbitkan saham baru dalam pendanaannya.

Penerbitan saham baru akan membuat kepemilikan dan pengendaian perusahaan akan berubah.

#5. Lebih Fleksibel

Struktur keuangan dan struktur modal perusahaan tidak kaku dan bisa diubah kapan saja sesuai dengan keinginan.

Maksudnya...

Ketika perusahaan bisa langsung melunasi utangnya sekaligus tanpa harus menunggu jatuh tempo yang masih lama.

Memang hal ini akan menimbulkan biaya dan denda.

Tetapi paling tidak struktur modal bisa dengan mudah dan cepat bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan risiko.

Namun bila dalam perjanjian utang dengan kreditur memberikan opsi skema penebusan, maka pelunasan utang sebelum jatuh tempo akan jauh lebih mudah.

#6. Kepastian Perencanaan Keuangan

Utang memiliki waktu pembayaran pokok dan bunga yang sudah ditentukan.

Waktu dan nominalnya sudah pasti dan jelas.

Kepastian waktu dan nominal yang akan dibayarkan ini memudahkan manajemen keuangan dalam merencanakan keuangan perusahaan secara pasti.

Risiko Hutang Jangka Panjang

Sisi lain dari keuntungan yang akan diperoleh adalah adanya resiko yang akan mengiringi kebijakan hutang jangka panjang. Seperti ini:
  • Nilai saham perusahaan bisa terkoreksi apabila respon pasar terhadap kebijakan hutang jangka panjang tidak terlalu baik.
  • Menjadi beban tetap setiap tahun yang harus ditanggung oleh perusahaan.
  • Adanya resiko gagal bayar yang bisa membuat perusahaan bisa dipailitkan.
  • Semakin besar dan semakin lama jangka waktu pinjaman membuat resiko juga semakin tinggi.
  • Penggunaan dana hasil pinjaman yang tidak efektif bisa mengganggu performa perusahaan. Terlebih hubungannya dengah arus kas perusahaan.

Mengambil Hutang Jangka Panjang atau Tidak?

Mencapai tujuan jangka panjang dengan sarana utang jangka panjang adalah sebuah opsi.

Keinginan untuk berkembang dan maju memenangi persaingan mendorong manajer keuangan mengambil langkah ini.

Nominal yang besar dan pengembalian dalam tempo yang cukup lama adalah sebuah kesempatan.

Mengukur sebesar apa nominal jumlah utang yang dibutuhkan dan kemungkinan kesanggupan membayar adalah salah satu fungsi pendanaan dari manajer keuangan.

50 Miliar mungkin jumlah yang tidak begitu besar bagi perusahaan sekelas Ciputra Group.

Namun sangat besar diluar jangkauan bagi UD Mekar Jaya, usaha furniture milik Pak Haji Slamet.

Rasio hutang harus dicermati.

Besar kecilnya jumlah utang jangka panjang yang ideal diputuskan dengan melihat struktur modal perusahaan.

Manajemen keuangan semestinya sudah paham, berapa jumlah ekuitas yang ada, berapa jumlah aset yang dimiliki dan termasuk berapa jumlah laba yang dihasilkan atau akan dihasilkan.

Maka muncullah istilah Rasio Solvabilitas.
" Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kesanggupan perusahaan untuk membayar kewajiban atau hutang jangka panjang jika perusahaan dilikuidasi. [Syafri (2008:303)] "
Manajer keuangan sudah selayaknya mengetahui dengan detail rasio yang ada.

Beda perusahaan, beda pula rasionya, beda industri, beda pula rasionya.

Ketidak-akuratan rasio yang dihitung, penggunaan dana dari hutang yang tidak tepat, dan tidak tercapainya target yang diharapkan dengan penggunaan dana dari hutang jangka panjang adalah mimpi buruk.

Telat dan ketidak-sanggupan membayar cicilan merupakan gejala.

Semangat kreditur dalam menuntut pailit perusahaan adalah niscaya.

Namun jika terjadi sebaliknya, tujuan perusahaan dengan mudah bisa dicapai.

Mengenal HIPOTIK, Sebuah Hutang Jangka Panjang

Mengenal HIPOTIK, Sebuah Hutang Jangka Panjang

Pengertian Hipotik

Hipotik adalah utang yang menggunakan aktiva tetap sebagai jaminan. aktiva tetap perusahaan contohnya gedung, bangunan, rumah, mesin, tanah maupun kapal laut.

Perusahaan yang membutuhkan dana untuk berkembang menembuh berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjang. Bisa menempuh cara menambah modal, menggunakan laba yang dihasilkan (retaired earning) ataupun dengan berhutang.

Untuk jangka panjang. Selain obligasi, hipotek atau juga dikenal sebagai mortgage adalah jenis hutang yang paling sering digunakan.

Umumnya, pihak kreditur dengan skema pinjaman hipotik adalah bank. Tentunya dengan syarat syarat perbankan tertentu yang harus dipenuhi apabila ingin mendapatkan pinjaman hipotik.

Jatuh tempo hipotik adalah dalam jangka waktu yang cukup lama. Bisa 15-25 tahun.

Setelah adanya perjanjian hutang hipotik, kreditur atau pemberi pinjaman akan memegang kepemilikin aset perusahaan. Namun selama dalam masa cicilan pembayaran hutang dan bunga. Perusahaan masih bisa menempati, memanfaatkan, mengoperasionalkan aset tersebut seperti aktiva tetap milik perusahaan sendiri.

Pengertian hipotik dikenal juga dengan 'klaim atas properti'. Apabila peminjam tidak bisa melakukan pembayaran hipotik. Kreditur bisa menyita aset yang dijadikan jaminan atas hipotik tersebut.

pinjaman dana hipotek
sumber gambar : shareicon

Bunga Hipotik

#1. Hipotik Bunga Tetap

Dengan skema bunga tetap ini. Peminjam uang akan membayarkan pinjaman pokok dan bunga sesuai yang telah disepakati. Bunga yang dibayarkan tingkat suku bunganya tetap. Tidak berubah-ubah.

Jadi semisal nanti kedepan suku bunga umum naik turun fluktuatif, Tingkat suku bunga utang hipotik tidak akan berubah.

Mungkin bulan depan tingkat suku bunga umum naik, maka suku bunga hutang hipotik tidak ikut naik. Dan begitu pula sebaliknya. Apabila kedepan tingkat suku bunga secara umum turun. Maka tingkat suku hipotik masih tetap.

#2. Hipotik Bunga Mengambang

Mungkin ada istilah lain yang lebih tepat dan lebih umum. Maksudnya bunga mengambang adalah. Besaran tingkat suku bunga yang dibayarkan dengan skema ini adalah tidak tetap alias mengambang. Mengikuti tingkat suku bunga bank yang berlaku dipasaran.

Mungkin pada bulan ini tingkat suku bunga hipotik sebesar sekian persen. Namun pada periode berikutnya, angkanya bisa saja berubah. Bisa turun dan juga bisa naik. Sesuai dengan tingkat suku bunga bank.

Objek Hipotik

Objek utang hipotik adalah aset tidak bergerak yang bisa dipindah-tangankan beserta seluruh perlengkapan yang ada. Misalnya jaminan atas semua tanah yang berstatus hak milik. Hak guna usaha dan hak guna bangunan, Seperti bangunan rumah, pabrik, gudang, hotel dan lain sebagainya.

Hipotik kapal laut.

Di Indonesia, kapal laut bisa menjadi objek hipotik. Ukuran kapal laut yang bisa dijadikan jaminan hipotik adalah kapal laut yang berukuran 20 m3 (kotor) keatas.

Ciri Khas dan Sifat Hipotik

Ciri khas hipotik berdasarkan KUH Perdata adalah sebagai berikut :
  • Ondeelbar, adalah hipotik tidak bisa dibagi-bagikan karena hipotek berada diatas semua aset yang menjadi objeknya. Artinya apabila sebagian hutang hipotik telah dibayar maka sebagian hak hipotik tidak otomatis dihapus.
  • Accecoir, adalah hipotik merupakan sebuah perjanjian tambahan. Perjanjian utamanya adalah perjanjian hutang-piutang.
  • Verhallsrech, Bingung cara membacanya? berhaalsrecht adalah hak mengenai pelunasan hutang saja. Tidak mempunyai hak untuk memiliki benda yang dijaminkan. Tetapi apabila diperjanjikan, kreditur bisa memiliki hak untuk menjual aset jaminan yang disepakatai atas kekuasaan sendiri apabila debitur melakukan kelalaian..
Berdasarkan pada KUH Perdata, sifat yang dimiliki oleh hipotik dari apa yang ada pada hak kebendaan biasanya seperti :
  • Absolut, merupakan hak yang bisa dipertahankan terhadap segala tuntutan dari siapapun.
  • Droit de Suite merupakan hak dimana hak tersebut mengikuti aset yang dijaminkan berada ditangan siapa aset tersebut berada.
  • Droit de Preference, adalah seseorang yang memiliki hak untuk didahulukan pembayaran piutangnya diantara para pemberi hutang lainnya. Hak disini tidak dipengaruhi oleh situasi pailit atau penyitaan yang dilakukan terhadap aset yang dijaminkan.

Asas dalam Hipotik

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan dalam bukunya Hukum Perdata: Hak Jaminan Atas Tanah menjelaskan tentang 3 asas hukum yang berada dalam hipotik adalah

#1 Asas Specialiteit

Asas Specialiteit adalah asas yang menyatakan bahwa utang hipotek hanya bisa dilandasi atas aset aset yang ditunjuk khusus.

Aset tidak bergerak yang yang terikat sebagai tanggungan.

Contohnya aset yang jaminkan hipotik itu wujudnya seperti apa, dimana letak lokasinya, berapakah besar kecil atau luas aset beserta batasan batasannya.

#2. Asas Publicitiet 

Asas Publicitiet merupakan asas dimana hipotik tersebut diwajibkan untuk didaftarkan pada register umum agar bisa diketahui oleh pihak lainnya.

#3. Asas Ondeelbaarheid 

Asas Ondeelbaarheid atau atas tidak bisa dibagi bagi. Artinya hipotik membebani semua aset  yang menjadi jaminan dalam keseluruhan. Aset dan setiap bagian-bagian dari aset bergerak. Apabila hutang hipotik telah dibayar sebagian, maka pembayaran tersebut tidak akan mengurangi sebaian dari aset yang dijaminkan.

    Janji (Bedingen) dalam Hipotik | Bedigen

    Umumnya, pada perjanjian utang hipotik, sudah sangat lazim diadakan perjanjian-perjanjian yang tujuannya untuk melindungi kepentingan peminjam atau kreditur agar tidak dirugikan.

    Perjanjian tersebut harus dicantumkan dengan tegas didalam akta hipotik. Biasanya perjanjian dalam hipotik adalah berisi tentang janji mengenai sewa. Janji untuk tidak dibersihkan. Janji mengenai asuransi. Janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri. Di Indonesia, semua isi perjanjian tersebut sudah diatur dalam undang-undang yang ada.

    Hak dan Kewajiban dalam Hipotik

    Terhitung ketika terjadinya pembebanan hutang hipotik, maka ketika itu pula muncul hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak. Pemberi (penghutang) dan penerima hipotik (kreditur).

    Hak pemberi utang hipotik adalah :
      1. Tetap bisa menggunakan aset.
      2. Tetap menguasai aset, asalkan pemberi pinjaman tidak dirugikan. Seperti merubah aset. Mengurangi nilai, ukuran dan kapasitas aset jaminan.
      3. Mendapatkan dana pinjaman.
        Kewajiban pemberi hutang hipotik adalah :
          1. Membayar cicilan hutang pokok dan bunga pinjaman hipotek.
          2. Jika terjadi keterlambatan pembayaran, peminjam berkewajiban membayar denda.
            Hal hal yang menjadi kewajiban pemberi utang hipotik adalah hak yang akan diterima oleh penerima hutang hipotik seperti hak menerina pembayaran cicilan hutang pokok beserta dengan bunga pinjamannya.

            Menerima pembayaran denda apabila pemberi utang hipotik melakukan keterlambatan pembayaran.

            Kewajiban penerima hipotik, Tentu saja apa saja yang merupakan hak pemberi utang hipotik adalah merupakan kewajiban bagi penerima utang hipotik seperti berkewajiban menberi pinjaman kepada pemberi hipotik.

            Berakhirnya Hipotik

            Bagaimana sebuah perjanjian hutang hipotik bisa berakhir ?

            Ada beberapa hal yang menyebabkan terhentinya sebuah perjanjian utang hipotik adalah :
            • Hutang hipotik beserta bunga telah dibayar lunas oleh pemberi hipotik.
            • Musnahnya aset yang menjadi jaminan pada perjanjian hipotik. Hal ini bisa terjadi misalnya gedung yang hancur karena bencana alam. Kapal yang tenggelam. Tanah yang longsor dan lain lain.
            • Berakhirnya jangka waktu hipotik, maka hapuslah hak hipotik tersebut.
            • Menurut KUH Perdata pasar 1169, penghapusan hak  hipotik juga bisa apabila pemilik aset bergerak yang dijaminkan hanya memiliki hak bersyarat terhadap aset tersebut dan hak bersyarat tersebut terhenti.
            • Bisa juga perjanjian hipotik gugur disebabkan oleh daluarsa yang membuat seseorang bebas dari sebuah kewajiban (daluarsa ekstraktif)
            • Apabila kreditur atau penerima hipotik dengan sukarela melepaskan hak hipoteknya. Pelepasan sukarela seperti ini tidak ditentukan secara bentuk hukumnya. Namun harus diungkapkan dengan tegas dan jelas. 

            Manfaat Hipotik

            Ada beberapa manfaat dari mengambil utang hipotik daripada pendanaan jenis lain. diantarnaya:

            # Manfaat Pajak

            Bunga dari utang hipotik bisa mengurangi pajak.

            Bunga yang harus dibayarkan setiap periode menjadi salah satu pengurang beban pajak perusahaan. Dengan bunga ini, perusahaan dapat membayar pajak lebih kecil daripada yang seharusnya dibebankan jika tanpa adanya bunga.

            Misalnya, perusahaan ingin membeli sebuah gudang. Jika perusahaan tersebut memilih membeli dengan membayar tunai dari kas internal perusahaan. Maka tidak ada bunga.

            Namun apabila perusahaan membeli gudang tersebut dengan meminjman menggunakan hipotik bank misalnya, maka akan ada bunga. Dan bunga ini bisa mengurangi jumlah pajak terutang perusahaan. Terlebih jika dibandingkan dengan pembelian gudang secara tunai.

            Dan umumnya tingkat bunga hipotik lebih rendah dari instrumen lain (karena pinjaman dijamin.) dengan jangka waktu pelunasan yang cukup lama.

            Kelebihan lain adalah jika bunga hipotik diputuskan dalam bentuk bunga tetap (fixed rate) maka ketika suku bunga acuan secara umum naik, bunga hipotik yang dibayarkan masih tetap tidak mengikuti kenaikan.

            Namun minusnya apabila suku bunga turun, sementara bunga hipotik tetap di rate yang lebih diatas.

            Kelebihannya adalah bahwa perusahaan bisa dengan mudah dan presisi merencanakan arus kasnya. berapapun suku bunga dipasaran. P

            erusahaan sudah mempunyai perhitungan yang pasti terhadap pembayaran bunga hipotiknya. Perusahaan mudah melakukan perencanaan pembayaran.

            # Kreditur tidak Memiliki Hak Suara

            Manfaat lain dari pendanaan utang hipotek adalah bahwa pemilik hipotik atau pemberi hutang tidak memiliki suara dalam internal perusahaan.

            Maksudnya, peminjam tidak bisa ikut campur masalah internal perusahaan. Tidak bisa mempengaruhi, mengubah, ataupun mendikte arah jalannya perusahaan.

            Tentu hal ini berbeda jika pendanaan yang dibutuhkan didapat dengan skema penerbitan saham baru dimana para pemilik sahamnya bisa memiliki suara dalam perusahaan.

            Apabila perusahaan sudah merasa tidak membutuhkan utang lagi. Perusahaan bisa memutuskan untuk melunasi sisa hutang yang ada lebih cepat dari durasi hitpotik.

            Kapan saja. Tanpa harus lama menunggu mencicil hingga batas terakhir pelunasan.

            Walaupun munkin nanti ada denda atau segala biaya administrasi yang lain yang mengikutinya.

            # Bisa Memanfaatkan Aktiva Jaminan

            Manfaat hipotik yang lain adalah, perusahaan masih bisa menggunakan, mengoperasikan atau memanfaatkan aset tetap yang telah menjadi jaminan hipotik.

            Dengan menggunakan aset yang dijaminkan, kinerja perusahaan tidak akan terganggu sedikitpun.

            Perusahaan tidak bisa menggunakan aset yang dijaminkan apabila perusahaan tidak mampu untuk melakukan pembayaran pinjaman.

            Namun, walaupun perusahaan bisa memanfaatkan aset yang menjadi jaminan pinjaman hipotik, aset tersebut tidak boleh berubah. Tidak berkurang kapasitasnya. Tidak berkurang ukurannya. Tidak berkurang nilainya akibat penggunaan.

            Kekurangan Hipotik

            Kekurangan pendanaan dari hipotik terdapat pada biaya yang lumayan tinggi dan penggunaan aktiva tetap yang menjadi jaminan dibatasi.

            # Biaya Hipotik

            Sama dengan halnya produk perbankan lain, kelemahan utama utang hipotik adalah adanya biaya yang cukup besar dalam dalam pembayarannya.

            Didalam beberapa kasus, total jumlah pembayaran pinjaman bahkan bisa melebihi harga asli dari aktiva tetap yang dijaminkan oleh perusahaan.

            Kelebihan total pembayaran ini umumnya terdiri atas bunga atas utang hipotek serta biaya premi asuransi aktiva tetap.

            Serta ada tambahan biaya lain yang harus dikeluarkan, peminjam harus membayar biaya notaris, biaya administrasi tambahan bank dan bahkan biaya atas apraisal atau penilaian aktiva tetap yang akan dibeli atau dijaminkan.

            Jumlah dari biaya biaya ini cukup besar jika ditotal.

            # Penggunaan Aktiva Dibatasi

            Kelemahan dari utang hipotek yang lain adalah ketika aktiva tetap yang menjadi jaminan atas utang hipotek, maka penggunaan atas aktiva tetap tersebut akan dibatasi.

            Aktiva tetap tersebut memang masih bisa dipakai, dimanfaatkan, dioperasikan oleh perusahaan. Namun penggunaannya akan terbatas oleh kebijakan bank.

            Aset yang dijaminkan tidak bisa dijual, disewakan, bahkan membuat perubahan yang diperlukan atas aset tersebut tidak bisa dilakukan sampai pinjaman tersebut dilunasi sepenuhnya beserta biaya biaya yang ada didalamnya.

            Perusahaan memang tidak ada niatan untuk menjual atau menyewakan aset tetapnya. Perusahaan memang akan menggunakan aset tetapnya sendiri.

            Namun dalam beberapa kondisi dan situasi tertentu, perusahaan mungkin perlu melakukan hal tersebut. Perusahaan mungkin ingin menjual atau sekedar menyewakan asetnya, tapi itu tidak bisa dilakukan karena asetnya masih berstatus jaminan bank.

            Bahkan misalnya perusahaan memerlukan gudang tambahan agar produksinya bisa meningkat, namun untuk memperluas gudang tambahan, mengupgrade kapasitas mesin atau yang lainnya yang bisa mengubah aktiva tetap yang dijaminkan, maka hal itu tidak bisa dilaksanakan.

            Dengan melihat tentang hipotek diatas, hipotik merupakan sebuah pilihan yang banyak diambil perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjangnya. Fungsi pendanaan yang nanti akan dipakai untuk pengembangan usaha. Apapun bentuknya.

            Hipotik adalah leverage bagi perusahaan ? itu hal yang niscaya bisa terjadi.

            referensi : http://howded.com/id/pages/213501
            http://wardahcheche.blogspot.co.id/2014/04/hipotik.html

            Apa Itu Obligasi dan Definisi dan Keuntungannya

            Apa Itu Obligasi dan Definisi dan Keuntungannya


            Apa itu OBLIGASI ? Apa yang dimaksud dengan obligasi ?

            Obligasi adalah surat hutang. Surat utang yang bagaimana ?

            Pengertian Obligasi 

            Obligasi atau yang juga dikenal dengan istilah bond merupakan sertifikat atau surat berharga yang berisi tentang pengakuan atas hutang oleh penerbit obligasi kepadad investor (pemberi pinjaman).

            Pengertian obligasi adalah sertifikat atau surat berharga yang isinya adalah kontrak antara investor selaku pemegang obligasi dengan perusahaan penerbit obligasi yang menyatakan bahwa pemegang obligasi telah meminjamkan sejumlah dana kepada perusahaan penerbit obligasi.

            Perusahaan penerbit obligasi sebagai peminjam dana, berkewajiban untuk membayar sejumlah bunga secara berkala sesuai dengan tempo yang telah ditetapkan dan juga melunasi pokok pinjaman ketika tanggal jatuh tempo obligasi.

            Utang obligasi umumnya diterbitkan oleh pemerintah dan perusahaan swasta yang membutuhkan dana dari luar perusahaan.

            Kupon obligasi adalah tingkat bunga pinjaman obligasi yang harus dibayarkan oleh debitur kepada kreditur.

            Pada umumnya obligasi diterbitkan pada rentang waktu tertentu. Pinjaman obligasi umumnya berjangka waktu menengah - panjang. Rata rata obligasi di Indonesia memiliki jangka waktu 5 tahun dan yang paling lama 30 tahun.

            Obligasi adalah produk dari pasar modal. Bukan produk dari lembaga keuangan seperti bank atau lembaga keuangan bukan bank.

            Bank biasanya tidak bertanggungjawab terhadap semua tuntutan dan resiko yang muncul dari investasi obligasi. Obligasi tidak termasuk objek program penjaminan simpanan. Bank hanya menjadi agen penjual obligasi.

            Kesepakatan lain dalam obligasi bisa dicantumkan seperti pemegang obligasi atau adanya pembatasan upaya hukum yang dibisa diambil oleh penerbit obligasi.

            Obligasi adalah utang namun dalam bentuk sekuritas. Sama seperti saham, utang obligasi bisa dipindahtangankan. Obligasi bisa diperjual-belikan dipasar sekunder layaknya saham.

            Bagi penerbit, baik pemerintah ataupun perusahaan, obligasi merupakan opsi pendanaan yang menarik karena memiki jangka waktu yang relatif panjang dengan biaya yang relatif murah.

            Dari sudut investor, ketika berinvestasi obligasi. Akan terlihat mirip dengan investasi dideposito bank. Investor akan memperoleh bunga (kupon) secara berkala. Umumnya diberikan setiap tiga (3) bulan, enam (6) bulan atau satu (1) tahun sekali sampai dengan jangka waktu tempo yang telah ditentukan.

            Pengertian Obligasi Menurut Para Ahli

            Berk [2007:212]

            "Obligasi merupakan surat berharga yang diterbitkan (dijual) oleh perusahaan atau pemerintah untuk memperoleh dana dari investor dengan pemberian kompensasi berupa bunga yang dibayarkan berdasarkan perjanjian awal."

            Fahmi [2013:42]

            "Obligasi adalah surat berharga yang didalamnya tercantum berbagai hal yang menjelaskan tentang nilai nominal, tingkat kupon (suku bunga), nama penerbit, jangka waktu serta ketentuan ketentuan lain yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku yang dijual kepada publik."

            Tandelilin [2010:40]

            "Obligasi merupakan sekuritas berisi janji untuk memberi pembayaran tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan."

            Pratomo dan Nugraha [2009]

            "Obligasi merupakan surat hutang berjangka waktu lebih dari satu (1) tahun dengan tingkat suku bunga tertentu yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah untuk memperoleh dana dari masyarakat yang nantinya akan digunakan untuk pembiayaan perusahaan atau anggaran pemerintah."

            Yuliana dkk [2011]

            "Obligasi adalah surat tentang pengakuan hutang yang diterbitkan perusahaan atau pemerintah atau lembaga yang lain sebagai pihak yang berhutang. Memiliki nilai nominal dan kesanggupan dalam pembayaran bunga secara berkala dengan tingkat persentase atau bunga tertentu yang tetap."

            Frank J. Fabozzi

            "Obligasi merupakan jenis hutang atau surat pengakuan utang sebuah perusahaan atau pemerintah yang akan dibayar lunas ketika waktu jatuh tempo sebesar jumlah nominalnya. Penghasilan yang bisa diperoleh dari sebuah obligasi adalah tingkat bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi."

            Keuntungan Obligasi ?

            Perusahaan maupun investor akan mendapatkan keuntungan dengan dengan obligasi.

            Bagi perusahaan, obligasi jelas menguntungkan dengan mendapatkan sumber dana perusahaan yang akan diperlukan untuk kegiatan operasional maupun pengembangan ekspansi perusahaan.

            Obligasi dan saham sering menjadi pertimbangan utama manajemen keuangan dalam mendapatkan sumber dana perusahaan. Ada beberapa keuntungan ketika manajemen memutuskan untuk memilih menerbitkan obligasi daripada saham. Antara lain :
            • Penerbitan obligasi tidak mengganggu hak pengendalian pemegang saham karena pemegang obligasi statusnya adalah kreditur. Tidak mempunyai hak suara didalam perusahaan.
            • Obligasi bisa menghemat pajak. Bunga obligasi adalah beban perusahaan yang bisa menjadi pengurang pajak.
            • Earning Per Share (EPS) lebih tinggi karena tidak terdapat penerbitan saham baru.

            Keuntungan untuk Investor ?


            1. Bunga

            Obligasi memberikan pendapatan bunga untuk investornya. Bunga tersebut umumnya disebut dengan kupon obligasi. Ada 2 jenis kupon dalam obligasi. Fixed coupon (kupon tetap) dan floating coupon (kupon mengambang)

            Kupon obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga deposito bank.

            Perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebut berkewajiban membayar bunga kepada pemilik obligasi dari perusahaan tersebut. Karena pada dasarnya obligasi adalah SURAT UTANG.

            Karena obligasi adalah hutang, maka obligasi mempunyai privelage yang lain. Yakni menjadi prioritas pelunasan apabila jika dibandingkan dengan instrumen lain seperti saham.

            Walaupun obligasi adalah hutang. Namun pada kasus tertentu ada obligasi yang tidak memberikan bunga. Zero Coupon Bond namanya.

                           Baca juga : Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            2. Mudah dijual belikan.

            Obligasi mudah untuk diperjual-belikan atau diperdagangkan dipasar sekunder. Bursa Efek Indonesia (BEI) atau diluar BEI

            3. Capital Gain

            Capital gain merupakan keuntungan yang didapat dari selisih harga obligasi ketika obligasi yang dimiliki diperdagangkan. Contohnya, harga obligasi awal adalah 100 %, dan ketika obligasi tersebut akan dijual, harganya naik menjadi sebesar 120 %. Jika obligasi tersebut terjual, maka pemilik obligasi tersebut akan mendapatkan keuntungan sebesar 20 %.

            4. Dijadikan Agunan. Obligasi bisa dijadikan jaminan seperti obligasi negara.

            5. Aman. Obligasi termasuk investasi yang aman karena pembayaran bunga dan pokok pinjamannya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
            contoh surat perjanjian obligasi

            Pihak yang Menerbitkan Obligasi

            Siapa saja yang bisa menerbitkan obligasi ?

            Tentu saja pihak yang membutuhkan uang. Dengan cara berhutang.

            Umumnya yang menerbitkan obligasi adalah perusahaan yang memerlukan tambahan uang untuk pengembangan usaha. Selain itu pemerintah juga bisa menerbitkan obligasi. Bahkan obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih sering kita dengar.

            Berikut pihak pihak yang biasanya menerbitkan obligasi.
            • Pemerintah
            • Lembaga supranasional. Misalnya Bank Investasi Eropa
            • Lembaga pemerintahan. Umumnya disebut agency bonds
            • Sub-sovereign. Di Indonesia biasa disebut dengan SUN (Surat Utang Negara)
            • Perusahaan swasta
            • Spesial Purpose Vehicles. Sebuah perusahaan yang bertujuan khusus untuk menguasai aset tertentu. Tujuannya untuk penerbitan obligasi yang disebut Efek Beragun Aset 

            Jenis Jenis Obligasi

            Di Indonesia, jenis utang obligasi terdapat beberapa macam. Beberapa jenis obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah di Indonesia contohnya sebagai berikut :
            • Obligasi Rekap. Obligasi yang bertujuan untuk Program Rekapitalisasi Perbankan
            • Obligasi Ritel Indonesia. Obligasi yang bertujuan menutup defisit APBN. Obligasi ini bernominal kecil supaya bisa dibeli secara ritel.
            • Surat Utang Negara. Sama dengan Obligasi Ritel Indonesia, Tujuannya menutup defisit APBN
            • Sukuk atau Obligasi Syariah. Sama seperti Surat Utang Negara namun dengan berdasarkan pada prinsip syariah.

            Pada perusahaan swasta, ada beberapa jenis obligasi yang umum diterbitkan.
            • Secure and Unsecured Bonds, Secure bond merupakan obligasi yang terdapat jaminan aset perusahaan tertentu seperti tanah, pabrik, gedung. Sedangkan Unsecured bond merupakan obligasi yang diterbitkan dngan kredit umum oleh penerbit.
            • Term and Serial Bonds. Term bond adalah obligasi yang memiliki jangka waktu yang spesifik dimasa depan. Serial Bond merupakan obligasi yang dibayar dengan cara cicilan.
            • Registered and Bearer Bonds. Registered bond adalah obliglasi yang diterbitkan menggunakan nama dari pemiliknya. Bearer bond merupakan obligasi yang terdaftar/didaftarkan. Pemegang bearer bond harus menggunakan kupon dalam menerima pembayaran bunganya.
            • Convertible and Callable Bond. Convertible bonds merupakan obligasi yang bisa dikonversi menjadi saham biasa perusahaan. Callable bonds merupakan obligasi yang bisa ditarik dalam jumlah tertentu sebelum obligasi tersebut jatuh tempo.
            Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Investasi Obligasi
            Referensi: www.edukasisaham.co.id, https://binus.ac.id, cermati.com

            Dasar Dasar Keputusan Investasi

            Dasar Dasar Keputusan Investasi

            Dasar Keputusan Investasi - Apabila mendengar kata investasi, maka kata yang selalu mengiringi adalah kata return (keuntungan investasi) dan risk (risiko). Dua kata tersebut merupakan hal dasar dalam pengambilan keputusan investasi.

            Investasi merupakan sebuah upaya penempatan sejumlah dana untuk dikembangkan yang diharapkan akan mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang. Motivasi mengapa melakukan investasi sudah jelas, investor ingin mendapatkan return atau keuntungan dimasa depan.

            Menurut Tandelilin [2005] dasar dasar keputusan investasi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain:
            1. Return (keuntungan)
            2. Risk (resiko)
            3. The Time Factor (faktor waktu)

            1. Return

            Mengapa orang melakukan investasi ?

            Tentu saja karena ingin mendapatkan keuntungan. Apabila sebuah investasi diperkirakan tidak menguntungkan. Maka tidak akan ada orang yang mau berinvestasi.

            Return adalah tingkat keuntungan yang diperoleh dari sebuah investasi. Return yang diinginkan dari sebuah investasi harus dibandingkan dengan kompensasi terhadap biaya peluang (opportunity cost) yang hilang dan resiko adanya perubahan nilai karena inflasi.

            Biaya peluang maksudnya adalah kesempatan mendapatkan keuntungan yang hilang karena telah memilih satu dari beberapa jenis investasi yang ada. Misalkan perusahaan memiliki kas sebesar Rp 1 Milliar. Ada opsi uang tersebut diinvestasikan kedalam deposito, saham, obligasi ataupun properti.

            Instrumen investasi yang mana yang memberikan keuntungan paling banyak dalam tempo yang sama?

            Umumnya, sumber return investasi biasanya berupa Yield dan Capital Gain.

            • Yield

            Yield adalah pendapatan yang diperoleh oleh investor secara rutin (periodik).

            Misalnya, perusahaan yang berinvestasi pada obligasi, maka yield-nya adalah pembayaran bunga atau kupon obligasi yang akan diterima dalam 3 bulan atau 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.

            Atau jika berinvestasi dalam instrumen saham, maka yield-nya berupa deviden yang diperoleh 1 tahun sekali. Tergantung pada kebijakan deviden perusahaan.

            • Capital Gain

            Capital Gain adalah naik turunnya nilai investasi. Umumnya instrumen investasi sekuritas. Contohnya harga saham. Ketika saham dibeli dengan harga X perlembar. Dan kemudian saham tersebut dijual dengan harga diatas harga X. Maka ada selisih yang akan menjadi keuntungan investor. Namun juga sebaliknya, apabila dijual dibawah harga X, maka investor akan mengalami kerugian.

            Dalam kontek keputusan investasi, perlu dibedakan antara keuntungan yang telah terealisasi (realized return) dengan keuntungan yang diharapkan (expected return).

            1.a. Realized Return (keuntungan yang telah terealisasi)

            Realized return atau return yang terealisasi adalah return yang telah terjadi. Keuntungan yang telah diperoleh investor dimasa lalu, diperiode sebelumnya.

            Perhitungan realized return menggunakan data historis masa lalu. Realized return dipakai untuk menjadi salah satu alat ukur kinerja dari sebuah investasi perusahaan.

            Return ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tingkat expected return dan resiko sebuah investasi yang akan datang.

            1.b. Expected Return (ekspektasi keuntungan)

            Expected return atau ekspektasi keuntungan adalah keuntungan yang diharapkan akan didapatkan oleh investor dari sebuah investasi yang dilakukan. Expected return adalah harapan. Keuntungan belum diperoleh. Belum terjadi.

            Tingkat keuntungan yang diinginkan ini bisa dipengaruhi oleh sejauh mana prospek investasi perusahaan di waktu yang akan datang.

            2. Risk (Resiko)

            Ketika berinvestasi selain mengharapkan return tertentu investor juga harus menanggung tingkat risiko.

            Dalam konteks manajemen investasi risiko merupakan penyimpangan/ perbedaan antara return yang diharapkan dengan return yang benar-benar diterima oleh investor (return aktual). Kenyataan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Resiko merupakan sebuah konsekuensi yang sangat tidak menguntungkan dari sebuah investasi.

            Resiko investasi bisa menjadi sebuah kerugian. Semua instruman investasi pasti memiliki resiko. Baik itu resiko kecil atau resiko besar. Untuk itu dalam keputusan investasi, selain return, perhitungan resiko menjadi hal yang wajib dilakukan.

            Jadi, pentingnya memahami sebuah resiko dalam keputusan investasi adalah untuk bisa mengantisipasi dan menghindari atau sekedar meminimalkan kemungkinan kerugian yang bisa terjadi pada investasi yang dijalankan.

            Sudah menjadi idiom umum bahwa high risk high return. Setiap investasi yang menghasilkan return yang tinggi, maka semakin tinggi pula resikonya.

            Secara umum, resiko dalam konsep keputusan investasi bisa digolongkan menjadi dua resiko, Resiko sistematis dan resiko tidak sistematis. Apa itu resiko sistematis dan resiko tidak sistematis ?

            2. A. Systematic Risk (Resiko Sistematis)

            Resiko sistematis adalah resiko yang bersifat makro. Berhubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara keseluruhan dipasar secara umum. Memberikan dampak dihampir seluruh perusahaan yang ada di pasar. Resiko sistematis bisa berakibat pada return investasi yang bisa berubah-ubah.

            Resiko sistematis ini cenderung sulit untuk dihindari. Risiko sistematis ini biasanya berupa resiko suku bunga, resiko pasar, resiko finansial, risiko bisnis, resiko inflasi, resiko politik, resiko nilai tukar,resiko likuiditas.

            # A.1. Resiko Suku Bunga

            Resiko suku bunga adalah resiko yang muncul akibat adanya perubahan tingkat suku bunga rata-rata. Tingkat suku bunga tabungan dan tingkat suku bunga pinjaman, Umumnya resiko ini mempengaruhi instrumen investasi saham, obligasi (bunga mengambang), deposito bahkan properti.

            Misalkan, harga saham akan mengalami penurunan apabila tingkat suku bunga meningkat. Contohnya pada saham, jika suku bunga naik, maka nilai saham akan turun. Hal ini bisa terjadi karena return investasi yang berhubungan dengan suku bunga juga akan mengalami kenaikan, seperti deposito contohnya. Situsasi tersebut bisa membuat investor yang berinvestasi saham akan melepas sahamnya dan mengalihkan dananya kedalam deposito.

            # A.2. Resiko Pasar

            Resiko pasar adalah risiko yang berupa pengaruh transaksi pasar yang fluktuatif secara keseluruhan. Resiko ini bisa mempengaruhi return investasi menjadi berubah-ubah. Fluktuasi kondisi pasar ini bisa diakibatkan oleh kondisi seperti krisis ekonomi, perubahan kebijakan pemerintah, perubahan akibat adanya teknologi baru dan lain sebagainya.

            # A.3. Resiko Bisnis

            Resiko bisnis adalah resiko yang erat kaitannya dengan karakteristik dari sebuah jenis industri tertentu. Resiko ini bisa dipengaruhi oleh persaingan bisnis yang dihadapi makin ketat, harga produk yang tidak terkontrol dan lain sebagainya.

            Industri CPO misalnya, banyak perusahaan yang berinvestasi membuka lahan untuk ditanami sawit, makin banyak perusahaan yang bersaing menanam sawit, sehingga supplay melimpah yang bisa menyebabkan harga komoditas ini berfluktuasi dan anjlok dipasar dunia sehingga membaut industri komoditas ini menjadi kurang menguntungkan.

            # A.4. Resiko Inflasi

            Katakanlah sebuah instrumen investasi bisa menghasilkan return sebesar 5 persen selama 1 tahun, namun dalam 1 tahun tersebut terjadi inflasi sebesar 5 persen. Maka investasi tersebut bisa dibilang tidak menghasilkan apa-apa.

            Parahnya lagi seandainya tingkat inflasi ternyata diatas return investasi yang ditanamkan. Maka hasilnya adalah sebuah kerugian. oportunity cost (biaya peluang)-nya tinggi.

            Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum. Adanya inflasi membuat daya beli masyarakat berkurang. Berkurangnya daya beli membuat penjualan menurun yang akan menyebabkan pendapatan perusahaan menurun.

            # A.5. Resiko Nilai Tukar (Exchange Rate Risk/Currency Risk)

            Resiko nilai tukar adalah risiko yang muncul karena terjadi perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang dari negara lain. Perusahaan ekspor-impor mungkin paling terpengaruh. Resiko ini membuat return yang diterima menjadi lebih kecil nilainya dari return yang diharapkan.

            # A.6. Resiko Politik

            Resiko politik atau country risk adalah resiko yang berhubungan dengan kondisi politik negara, stabilitas ekonomi antar negara, dan bahkan kondisi tingkat keamanan.

            Kestabilan adalah kunci utama, semakin tidak stabil kondisi perpolitikan sebuah negara, semakin besar resiko untuk berinvestasi dinegara tersebut.

            Kebijakan tentang usaha rokok misalnya. Kenaikan cukai rokok, aturan pembatasan pemasaran  dan sosialisasi efek negatif rokok oleh negara mempengaruhi industri rokok. Hal tersebut bisa mengakibatkan pendapatan banyak industri rokok menurun. Dari hulu sampai hilir.

            2.B. Unsystematic Risk (Resiko non Sistematis)

            Resiko tidak sistematis merupakan resiko yang berkaitan dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada perusahaan tertentu secara individual. Cakupan resikonya hanya pada kondisi mikro yang hanya pada return investasi terhadap perusahaan individual tertentu saja.

            Resiko tidak sistematis ini masih bisa dihindari. Resiko tidak sistematis ini contohnya resiko finansial, resiko likuiditas

            # B.1. Resiko Finansial

            Resiko finansial atau resiko keuangan berhubungan dengan struktur modal perusahaan yang digunakan dalam mendanai aktivitas perusahaan.

            Resiko finansial kemungkinan akan muncul apabila perusahaan mencari sumber dana dari pembayaaan utang. Baik berupa utang obligasi ataupun hipotek. Semakin besar utang dan bunga, maka semakin besar pula resiko gagal bayar yang membayangi.

            # B.2 .Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)

            Liquidity risk adalah resiko yang berhubungan dengan tingkat kesulitan dalam mencairkan portofolio investasi atau menjual sahamnya kepihak lain karena sedikit atau tidak ada yang berminat untuk membeli sekuritas tersebut.

            Kecepatan sebuah sekuritas yang diperdagangkan dipasar sekunder merupakan indikator resiko ini. semakin cepat sebuah sekuritas terjual maka semakin kecil resikonya.

            Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Semakin cepat suatu sekuritas diperdagangkan, maka semakin likuid sekuritas tersebut. Resiko ini bisa juga didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau jatuh tempo dengan menggunakan aset yang ada.

            3. The Time Factor (Faktor Waktu)

            The time factor atau faktor waktu dalam berinvestasi sangat berpengaruh dalam menjalankan investasi. Ada beberapa alternatif jangka waktu dalam melakukan investasi. Jangka pendek, menengah atau jangka panjang.
            Jangka waktu investasi yang dipilih bisa berpengaruh pada perilaku investor terhadap kegiatan investasinya. Lama tidaknya investasi bisa mempengaruhi seberapa besar resiko investasi yang membayangi. 

            Waktu investasi juga mempertimbangkan seberapa cepat pengembalian atas investasi yang dikeluarkan kembali lagi seperti semula. Semakin cepat pengembalian dan returnnya, maka investasi tersebut semakin layak untuk dijalankan.

            Time value of money (nilai waktu dari uang) juga sangat diperhitungkan dalam pertimbangan keputusan investasi. Uang Rp 10 juta saat ini, nilainya belum tentu sama dengan Rp 10 juta 5 tahun yang akan datang. Inflasi.

            Tingkat inflasi memiliki keterkaitan yang erat dengan nilai waktu daripada uang. Tentu inflasi menjadi sangat diperhitungkan dalam keputusan investasi.

            Misalnya. Dulu, 15 tahun yang lalu uang Rp 1000 sudah bisa membeli Indomie goreng. Tapi saat ini dengan nominal yang sama tidak bisa membeli barang yang sama. Uang dengan nominal yang sama, belum tentu memiliki nilai yang sama pada masa yang akan datang.

            Hubungan Return dan Risk

            Aturan umum investasi : High risk high return dan juga sebaliknya low risk low return.

            Setuju tidak setuju memang begitulah kecenderungan umumnya,

            Return adalah motif utama mengapa seseorang investor melakukan investasi. Hal tersebut sangatlah wajar. Tetapi, Resiko. sebuah hal lain yang bertolak belakang dengan return, yang selalu mengikut alur investasi harus diperhitungkan. 

            Semakin tinggi resiko investasi, semakin tinggi juga tingkat pengembalian investasinya. Walaupun pada kenyataannya, semua investor berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan return investasi yang tinggi dengan resiko seminimal mungkin.

            Maka untuk itulah fungsi manajemen keuangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara risk dan return yang menjadi dasar dalam keputusan investasi,

            Referensi: http://asriyaqien.blogspot.co.id , pscychologymania.com

            Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

            Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

            Sebagai sebuah utang. Utang obligasi selalu disertai dengan bunga (kupon). Bunga itulah yang bisa menjadi penarik minat investor agar bersedia untuk membeli obligasi atau meminjamkan uangnya pada perusahaan.

            Terdapat beberapa jenis bunga yang bisa ditawarkan pada setiap obligasi. Mulai dari fixed rate (bunga tetap), floating rate (bunga mengambang) maupun kombinasi keduanya.

            Umumnya bunga obligasi akan dibayarkan dalam 3 bulan sekali, ada juga yang dibayarkan 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.
            Misalkan sebuah perusahaan menerbitkan obligasi dengan rentang waktu 5 tahun. Tingkat suku bunga tetap sebesar 10 persen selama 1 tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya menggunakan bunga mengambang satu persen diatas bunga deposito bank.

            Maka pembeli obligasi tersebut akan memperoleh keuntungan bunga (return) sebesar 10 persen pada tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya akan memperoleh return yang berubah-ubah menyesuaikan dengan besar kecilnya bunga deposito bank.

            Tetapi, pada kasus lain terdapat obligasi yang diterbitkan tanap adanya kupon bunga sama sekali.

            Perusahaan penerbit hanya membayarkan pokok utang obligasi ketika jatuh tempo. Obligasi jenis ini disebut dengan Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            Pengertian Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            Mungkin anda bertanya, mungkinkah sebuah utang obligasi tanpa bunga bisa laku terjual dipasaran?

            Apakah investor mau membeli obligasi yang tidak memberikan bunga sama sekali?

            Darimana investor akan mendapatkan hasil dari investasi obligasi seperti ini?

            Pertanyaan yang kerap muncul ketika pertama kali mendengar tentang obligasi tanpa bunga.

            Investor yang membeli obligasi tanpa bunga ini sampai obligasi jatuh tempo memang tidak akan pernah mendapatkan bunga dari penerbit obligasi. 

            Misalnya obligasi yang diterbitkan dalam rentang waktu jatuh tempo 15 tahun. Maka dana investor yang membeli obligasi tersebut akan mengendap selama 15 tahun diperusahaan penerbit. Kecuali investor tersebut menjual kembali obligasinya ke pasar sekunder.

            Ketika obligasi sudah waktunya jatuh tempo, investor hanya akan mendapatkan uangnya kembali tanpa adanya bunga yang menyertainya. Darimana investor mendapatkan keuntungan ?

            Eits, jangan salah. Obligasi tanpa bunga ini bukannya tanpa keuntungan. Obligasi ini juga memberikan keuntungan bagi pemegang obligasi. Hanya saja tidak berupa bunga (kupon obligasi).

            Keuntungan membeli obligasi jenis ini adalah berupa uang cash yang nanti akan dibayar dikemudian hari. Keuntungan pemegang obligas terdapat pada selisih dari harga beli obligasi dengan harga jual obligasinya.

            Pada saat penerbitan, zero coupon bond ditawarkan dengan harga yang lebih rendah daripada nilai nominalnya. dengan kata lain. Harga awal obligasi ini mendapat diskon yang tinggi.

            Ketika awal membeli, calon investor akan membeli obligasi dengan harga diskon. Harga yang lebih rendah dari harga nominal obligasi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka investor akan mendapatkan pembayaran secara penuh.

                      Baca juga Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Kerugiannya

            Ilustrasinya begini.

            Perusahaan PT X menerbitkan zero coupon bond dengan nominal sebesar Rp 1 Trilliun. Masa jangka waktu jatuh tempo obligasi selama 10 tahun. Obligasi ini akan dijual pada harga 70 persen,

            Dengan penawaran harga obligasi tersebut. Investor yang akan membeli obligasi PT X tidak perlu untuk membayar sebesar 1 trilliun. Tidak perlu 100 persen harga nominal obligasi.

            Misalnya investor ingin membeli obligasi PT X sebanyak 100 Miliar, maka investor tersebut hanya membayar 70 persen saja. Cukup membayar Rp 70 Miliar. Jika ingin membeli semuanya Rp 1 Trilliun maka cukup membayar Rp 700 Milliar saja. Tidak perlu membayar penuh sebanyak Rp 1 Trilliun.

            Walaupun investor tersebut hanya membayar sebesar Rp 700 Miliar. Namun ketika obligasi tersebut jatuh tempo 10 tahun kemudian. Investor tersebut akan menerima pembayaran penuh pokok obligasi sebesar Rp 1 Trilliun.

            Jadi selama 10 tahun tersebut. Uang investor akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 300 Miliar.

            Dari sudut pandang investor. Zero coupon bond ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang pengembalian investasinya (return of invesment) tidak bisa diperoleh dengan cepat. Apabila investor obliasi tersebut ingin segera menghasilkan, dan ingin dananya segera kembali, maka satu satunya jalan adalah menjual obligasi tersebut dipasar sekunder.

            Harga obligasi zero coupon bond umumnya akan naik dari waktu kewaktu hingga mendekati jatuh tempo obligasi. Disinilah area keuntungan yang bisa dinikmati oleh investor. Sedangkan bagi perusahaan penerbit obligasi, walaupun nominal obligasi yang ditawarkan mencapai Rp 1 Trilliun. Perusahaan hanya akan mendapatkan dana tunai sebesar Rp 700 Miliar saja.

            Itupun masih belum dipotong biaya biaya yang muncul dalam rangka penerbitan obligasi. Keleibihan bagi penerbit obligasi tanpa bunga adalah bahwa perusahaan penerbit tidak akan dibebankan bunga obligasi yang harus dibayar 3 atau 6 bulan sekali seperti obligasi pada umumnya.

            Perusahaan penerbit hanya akan memikirkan bagaimana caranya ketika obligasi sudah jatuh tempo 10 tahun yang akan datang. Dan harus ada uang tunai sebesar Rp 1 Trilliun untuk melunasi pokok utang obligasi tersebut.

            Semoga artikel ini bisa membantu anda. Terima kasih.
            Referensi : economy.okezone.com

            Keputusan Investasi

            Keputusan Investasi

            Pengertian keputusan investasi adalah kebijakan manajemen dalam menggunakan dana perusahaan yang ada pada sebuah aset yang diharapkan akan memberikan keuntungan dimasa yang akan datang.

            Proses pengambilan keputusan investasi modal umumnya juga sering disebut dengan Capital Budgeting. Capital budgeting merupakan proses perencanaan serta pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pengeluaran dana yang return atau masa kembalinya dalam waktu yang relatif panjang. Lebih dari satu tahun buku.
            Menurut Sutrisno [2007:121-122], sebuah perencanaan kebijakan investasi mempertimbangkan hal-hal seperti ini:
            • Dana perusahaan yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka waktu yang panjang. Perusahaan harus menunggu dalam tempo yang panjang untuk mendapatkan dana tersebut kembali beserta return yang diinginkan.
            • Dana perusahaan yang dikeluarkan dalam investasi nominalnya sangat besar.
            • Keputusan investasi perusahaan mengharapkan keuntungan pada masa yang akan datang. Kesalahan perhitungan bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
            • Keputusan investasi akan berdampak jangka panjang bagi perusahaan. Kesalahan pengambilan keputusan akan berakibat buruk dalam jangka panjang. Tidak bisa diperbaiki tanpa munculnya kerugian yang sangat besar.
            Keputusan investasi yang seperti apa yang harus dijalankan ?

            Kebijakan Investasi yang diambil adalah investasi yang paling menguntungkan. Return yang didapat paling tinggi. Biaya yang paling murah. Waktu pengembalian yang paling cepat dan resiko yang seminimal mungkin.

            Untuk memperoleh return investasi yang paling menguntungkan, ada beberapa informasi dan hal-hal yang diperlukan dalam mengambil keputusan investasi perusahaan:
            1. Alternatif pilihan investasi
            2. Estimasi Arus kas (cashflow)
            3. Penilaian Investasi
            4. Penilaian kembali investasi yang diputuskan

            1. Alternatif Pilihan Investasi

            Jenis investasi yang bisa memberikan opsi alternatif dalam keputusan investasi ada beberapa macam, diantaranya :
            1. Penggantian Aktiva (replacement)
            2. Perluasan (expansion)
            3. Investasi yang tidak dapat diukur (non measurable profit investment)
            4. Investasi yang tidak menghasilkan laba

            # Investasi Penggantian Aktiva (Replacement Investment)

            Penggantian aktiva tetap perusahaan adalah mengganti aktiva perusahaan yang lama dengan yang aktiva baru. Contohnnya mesin dan peralatan. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan mengeluarkan investasi besar untuk mengganti aktivanya. 
            1. Aktiva yang lama sudah tidak sanggup memenuhi peningkatan kebutuhan produksi perusahaan.
            2. Aktiva yang lama dalam operasinya membutuhkan biaya yang tinggi. 
            3. Aktiva yang lama kondisinya sudah terlalu aus. Sering rusak sehingga aktiva tidak bisa beroperasi untuk sementara waktu karena perbaikan.
            4. Aktiva yang lama membutuhkan maintenance yang sering dengan biaya pemeliharaan yang tinggi.
            5. Kualitas atau output yang dihasilkan aktiva lama kurang bagus
            6. Kecepatan operasi aktiva lama tidak cukup cepat. Tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan produksi.
            Perkembangan teknologi yang menghadirkan aktiva sejenis yang lebih unggul dari aktiva perusahaan yang lama akan mendorong perusahaan untuk mengganti aktivanya.

            Aktiva yang sejenis yang mampu berproduksi lebih banyak, lebih cepat, output lebih bagus dengan biaya operasional yang hemat dan biaya perawatan yang minim.

            Penggantian aktiva bisa meningatkan kapasitas produksi perusahaan (baik kuantitas, kualitas) lebih efisien. Menekan biaya produksi sehingga laba perusahaan perusahaan akan meningkat.

            # Investasi Perluasan (Expansion Investment)

            Investasi perluasan adalah investasi yang bertujuan untuk menambah kapasitas produksi perusahaan jauh lebih besar daripada kapasitas sebelumnya. Pengeluaran investasi peluasan bisa berbentuk pembangunan pabrik baru, perluasan atau penambahan gudang, menambah jumlah mesin.

            # Investasi yang tidak bisa diukur labanya (Non-measurable profit investment)

            Sebenarnya investasi ini juga bertujuan utama mencari laba. Namun laba yang yang akan diperoleh oleh investasi ini sangat sulit untuk diukur dengan angka. Misalnya, pengeluaran biaya promosi yang masih untuk jangka panjang, investasi penelitian produk yang bisa memakan banyak biaya dalam waktu yang lama, pengembangan dan penambahan skil karyawan dengan mengadakan program pendidikan karyawan.

            Output investasi yang dilakukan seperti contoh tersebut sulit untuk diukur secara angka-angka. Investasi yang berhasil tentu akan meningkatkan pendapatan perusahaan, berapa angka-angka yang bisa diukur oleh investasi tersebut. Hampir tidak bisa diukur.

            # Investasi yang tidak menghasilkan laba (Non-profit Investment)

            Setiap investasi yang dilakukan perusahaan sudah tentu karena ingin mendapatkan keuntungan. Lho kok ada investasi yang tidak menghasilkan laba ?

            Investasi yang tidak menghasilkan keuntungan kadang harus dilakukan karena adanya paksaan, peraturan atau syarat kontrak yang disetujui perusahaan.

            Contohnya, Investasi pengelolaan air limbah produksi. Pembangunan dan pengelolaan air limbah tentu membutuhkan investasi yang besar tanpa adanya return yang akan didapat tetap harus dilakukan karena adanya peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Tidak melaksanakan maka akan ada sanksi oleh otoritas terkait yang bisa mengancam keberlangsungan hidup perusahaan.

            Umumnya, perusahaan memiliki beberapa usulan proyek investasi,, tidak hanya satu. Tapi karena adanya keterbatasan, perusahaan harus memilih salah satu atau beberapa diantaranya berdasarkan tingkat prioritas kebutuhan perusahaan.

            Terdapat paling tidak 2 jenis penganggaran usulan proyek investasi modal, yaitu:
            1. Proyek Independen (independent project)
            2. Proyek Saling Ekslusif (mutual exclusive project)

            # Proyek Independen (Independent Project)

            Proyek independen adalah investasi modal yang tidak berkaitan dengan proyek perusahaan yang lain. Adanya proyek atau investasi ini tidak akan mempengaruhi proyek atau investasi perusahaan yang lainnya. 

            Contohnya usulan proyek pembelian mesin boiler untuk produksi dan investasi pembangunan gedung kantor.

            Kedua jenis investasi tersebut tidak saling terkait.

            # Proyek Saling Ekslusif (Mutual Exclusive Project)

            Proyek saling eklusif merupakan investasi perusahaan yang saling berkaitan dengan investasi atau proyek perusahaan yang lain. Investasi ini akan menghalangi atau mengganggu proyek perusahaan yang lainnya. 

            Misalnya usulan investasi Container Crane otomatis perusahaan pelabuhan. Container crane otomatis akan berakibat dalam penggunaan container crane manual.

            Penggunaan container crane otomatis akan mengakibatkan container crane manual tidak dijalankan. Kecuali perusahaan memperluas dermaga lagi dan fasilitas pendukungnya sehingga yang manual bisa beroperasi lagi di titik lokasi yang berbeda.

            2. Estimasi Aliran Kas

            Salah satu informasi yang paling dibutuhkan dalam pengambilan keputusan investasi adalah estimasi aliran kas (cashflow). Estimasi arus kas investasi harus memperhatikan hal hal seperti berikut :
            1. Estimasi beban, pendapatan dan pengeluaran modal
            2. Estimasi perkiraan penyesuaian arus kas dengan tingkat inflasi dan pajak.
            Dan secara umum, ada 3 arus kas yang perlu diperhatikan :
            1. Initial Cashflow 
            2. Operatinal Cash flow
            3. Terminal Cash flow

            # Initial Cashflow (Aliran Kas Permulaan)

            Initial cashflow adalah pengeluaran kas yang dibutuhkan pertama kali ketika melakukan investasi. Misalnya ketika perusahaan memutuskan untuk investasi menambah mesin produksi, maka initial casflow yang dimaksud adalah harga perolehan pembelian mesin tersebut hingga mesin tersebut siap untuk dioperasionalkan. Mulai dari harga pembelian, biaya instalasi, biaya uji coba, pajak, balik nama dan yang lainnya.

            # Operational Cashflow (Aliran Kas Operasional)

            Operational cashflow adalah aliran kas keluar yang dibutuhkan selama investasi dijalankan. Estimasi arus kas operasional ini harus diestimasikan dengan tepat karena menyangkut perjalanan investasi yang bisa mempengaruhi hasil dari investasi.

            Misalkan, ketika sebuah perusahaan telah menetapkan keputusan investasi untuk membeli mesin baru, harga mesin baru yang dibayarkan adalah Initial cashflow (aliran kas permulaan) dan ketika mesin tersebut dioperasikan, mesin tersebut membutuhkan biaya operasional, mulai dari biaya bahan bakar, biaya operator, biaya maintenance dan perawatan. Dan bahkan juga biaya perbaikan.

            Biaya biaya tersebut tentu akan mengakibatkan adanya aliran kas keluar yang bisa mempengaruhi laba perusahaan. Biaya-biaya tersebut harus diestimasikan sedetail mungkin agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan keputusan investasi.

            # Terminal Cashflow (Aliran Kas Akhir Investasi)

            Terminal cashflow adalah aliran kas yang akan diterima oleh perusahaan diakhir periode investasi. Bisa juga dikatakan sebagai nilai sisa investasi yang telah berakhir.

            Katakanlah perusahaan menginvestasikan dalam bentuk mesin. Umur ekonomis mesin yang diestimasikan bisa beroperasi secara normal selama 20 tahun. Ketika telah berproduksi selama 20 tahun. Umumnya mesin tersebut masih ada nilainya. Masih ada harganya. Bahkan masih bisa berfungsi secara normal. Itulah terminal cashflow.

            Bahkan tidak bisa berfungsi dan mesin hancur sekalipun masih bisa dijual "kiloan". Masih ada nilainya. Nilai aliran kas terakhir ini harus diestimasikan dengan detail, termasuk juga adanya pengaruh penyusutan mesin karena mungkin saja bisa berpengaruh pada keputusan investasi. Walau dalam kenyataannya nilai sering diabaikan.

            3. Penilaian Investasi

            Penilaian investasi bertujuan untuk menilai usulan keputusan investasi yang seperti apa yang layak dijalankan. Yang memberi keuntungan yang paling maksimal dengan resiko paling minim yang bisa diperoleh perusashaan. 

            Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penilaian keputusan investasi. Seperti estimasi jumlah investasi, estimasi waktu pengembalian investasi, estimasi arus kas, risiko investasi dan bagaimana dampak investasi tersebut terhadap laba bersih perusahaan.

            Ada terdapat 2 kategori metode penilaian investasi yang umum digunakan:
            1. Model Non-Diskonto
            2. Model Diskonto

            A. Model Non-Diskonto

            Model non-diskonto adalah metode penilaian yang tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.

            Metode non diskonto sendiri terdapat 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
            1. Payback period (PP)
            2. Tingkat pengembalian akuntansi (accounting rate of return/ARR)

            # Payback Period

            Analisa penilain investasi metode payback period merupakan metode untuk mengetahui jangka waktu pengembalian sebuah investasi. Seberapa cepat pengembalian dana investasi yang dikeluarkan akan kembali seperti awal seluruhnya.

            Dengan analisa metode payback period juga bisa diketahui berapa cepat waktu investasi bisa dikembalikan saat titik impas atau BEP (break even point)

            Lebih cepat waktu pengembalian investasi, maka risiko investasi semakin kecil dan investasi tersebut semakin layak untuk diambil atau dijalankan. Usulan investasi mana yang paling cepat pengembaliannya, itulah yang akan dipilih.

            # Average Rate of Return /ARR 

            Analisa metode penilaian investasi ARR menilai seberapa besar keuntungan atau laba perusahaan dibandingkan dengan rata-rata nilai dari investasi.

            Metode ARR mengukur dari tingkat laba perusahaan. Bukan arus kas investasi.

            Jika pada hasil perhitungan ARR lebih tinggi dari tingkat return yang diinginkan, maka investasi tersebut laya untuk diijalankan. Berlaku juga sebaliknya.

            B. Model Diskonto

            Model diskonto adalah metode penilaian yang secara tidak langsung memperhatikan nilai waktu dari uang dan melibatkan konsep diskonto arus kas investasi.

            Metode diskonto memiliki 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
            1. Net present value
            2. Internal rate of return

            # Net Present Value (NPV)

            Metode penilaian net present value (NPV) menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan kas return dimasa yang akan datang.

            Metode NPV memerlukan data tentang perkiraan biaya operasiona, pemeliharaan, biaya investasi dan estimasi keuntungan return dari investasi yang direncanakan.

            # Internal Rate of Returrn (IRR)

            Metode internal rate of return (IRR) menghitung tingkat suku bynga yang menyamakan nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang adri penerimaan arus kas dimasa yang akan datang.

            Untuk lebih jelas dan spesifik, bisa dibaca di : Metode Penilaian Investasi

            4. Penilaian Kembali Keputusan Investasi (Pasca Audit)

            Penilaian kembali keputusan investasi (pasca audit) merupakan langkah lanjutan setelah usulan keputusan investasi dipilih dan dijalankan. Pasca audit bertujuan untuk mengetahui kinerja dari sebuah investasi yang dijalankan. Sesuai dengan apa yang diinginkan atau tidak. Mengevaluasi investasi dan bila perlu mengusulkan adanya tindakan perbaikan. Atau bahkan menghentikan proyek.

            Pasca audit juga bisa menjadi indikator apakah informasi dan data-data yang digunakan untuk bahan pertimbangan dalam membuat keputusan investasi cukup akurat atau tidak.

            Dan pasca audit bisa memberikan feedback kepada manajer untuk memperbaiki pengambilan keputusan investasi dimasa yang akan datang.

            Pengertian Kebijakan Dividen

            Pengertian Kebijakan Dividen

            Pengertian Dividen

            Pengertian dividen adalah pembagian laba perusahaan yang diterima para pemegang saham sesuai dengan persentase kepemilikiannya yang berasal dari keuntungan dari hasil operasi perusahaan selama suatu periode.

            Dividen adalah BAGIAN keuntungan dari perusahaan yang diputuskan untuk dibagikan atau didistribusikan kepada para pemilik saham (common stock). Dalam banyak kasus, tidak semua keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibagikan semua kedalam dividen.

            Ada sebagian sebagian yang akan digunakan kembali untuk membiayai kegiatan dan pengembangan usaha perusahaan. Ini disebut dengan Laba Ditahan (retained earning). Besar kecilnya tergantung pada kebijakan dividen dan hasil RUPS perusahaan.

            Dividen adalah hak dari pemegang saham. Dividen hanya akan diperoleh jika perusahaan menghasilkan cukup laba untuk dibagikan dan apabila direksi perusahaan menilai perusahaan sudah layak mengumumkan pembagian dividen.

            Apabila perusahaan telah memutuskan membagi laba, maka semua pemilik saham akan mendapatkan hak yang sama sesuai persentase kepemilikan sahamnya. Namun pembagian dividen pemilik saham jenis preferen akan lebih diprioritaskan dibandingkan pemilik saham biasa.

            Umumnnya macam-macam jenis dividen yang biasa dibagikan oleh perusahaan berbentuk seperti berikut :
            kebijakan dividen

            1. Dividen Kas (Cash Dividend)

            Pembayaran dividen dalam bentuk uang kas. Dibandingkan dengan jenis dividen lain, deviden kas lebih sering digunakan oleh perusahaan dan umumnya juga lebih disukai oleh para pemilik saham.

            2. Dividen Aktiva selain Kas (Property Dividend)

            Dividen yang dibagikan dalam bentuk barang atau aktiva selain kas. Dividen properti ini yang dibagikan adalah bagian dari aktiva yang tidak akan mengganggu keberlangsungan hidup bisnis perusahaan. Dan barangnya bisa dibagi rata kepada para pemegang saham.

            Pemilik saham akan menerima dengan nilai sebesar harga pasar dari aktiva yang dibagikan tersebut.

            3. Dividen Utang (Scrip Dividend)

            Dividen utang adalah janji tertulis untuk membayar jumlah deviden kas tertentu kepada pemilik saham dikemudian hari. Janji ini umumnya berupa surat promes. Deviden utang ini bisa terjadi apabila laba perusahaan mencukupi namun saldo kas perusahaan tidak cukup untuk membayarnya.

            4. Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend)

            Dividen likuidasi adalah deviden yang muncul ketika manajemen direksi ingin melikuidasi usahanya dan mengembalikan seluruh aktiva bersih yang tersisa kepada pemilik saham dalam bentuk kas tunai.

            5. Dividen Saham (Stock Dividend)

            Dividen saham adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham yang pembagiannya sesuai dengan persentase kepemilikan saham. Tidak berbentuk uang kas tunai.

            Jumlah saham yang beredar akan meningkat namun kapitalisasi pasar besarnya tetap tidak berubah karena setiap penambahan saham baru diikuti dengan penurunan nilai saham. Sedikit banyak mirip dengan stock split atau pemecahan saham. Tujuannya untuk bisa mempertahankan tingkat modal perusahaan.

            Pengertian Kebijakan Dividen

            Pengertian kebijakan dividen adalah keputusan direksi apakah laba yang dihasilkan perusahaan pada akhir periode dibagikan kepada para pemilik saham (dividen) atau laba tersebut ditahan sebagai penambah modal perusahaan yang akan digunakan dalam kegiatan, atau investasi pengembangan perusahaan dimasa mendatang.

            Kebijakan dividen selalu berkaitan langsung dengan keputusan pendanaan perusahaan.

            Kebijakan dividen adalah salah satu fungsi manajemen keuangan yang berkaitan erat dengan struktur modal perusahaan.

            Jadi ketika dalam sebuah perusahaan berhasil mendapatkan keuntungan. Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan atas keuntungan yang diraih tersebut :
            1. Laba dibagikan kepada para pemegang saham (dividen)
            2. Laba digunakan kembali untuk kegiatan dan ekspansi usaha (laba ditahan)
            3. Laba dibagi antara dividen dan sebagian lagi digunakan untuk laba ditahan.
            Apabila manajemen perusahaan mengambil laba dibagikan sebagai dividen, maka sumber pendanaan internal akan berkurang. Laba ditahan berkurang.

            Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan memilih opsi untuk tidak membagikan deviden, maka dana internal perusahaan akan membesar.

            Laba ditahan adalah salah satu sumber pendanaan perusahaan yang sangat penting untuk digunakan dalam membiayai pertumbuhan perusahaan. Semakin besar laba ditahan, maka akan semakin kuat struktur modal dan posisi keuangan perusahaan.

            Semua langkah yang diambil dalam kebijakan dividen adalah bahwa setiap keputusan yang diambil harus tetap memperhatikan tujuan utama dari perusahaan, yaitu kesejahteraan pemilik perusahaan dan meningkatkan nilai dari perusahaan.

            Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepentingan para pemegang saham, kepentingan usaha perusahaan dan bahkan kepentingan masyarkat sekitar dan pemerintah.

            Tipe Kebijakan Dividen

            tipe kebijakan dividen

            #1. Kebijakan Dividen Stabil

            Jenis kebijakan dividen yang stabil adalah jumlah nominal dividen yang dibayarkan tetap disetiap periodenya.

            Nominal pembayaran dividen tidak akan naik dan turun. Stabil diangka yang sama.

            Alasan perusahaan yang melakukan kebijakan dividen stabil ini adalah untuk menciptakan kesan terhadap pemegang saham (investor) bahwa pembayaran dividen yang stabil mengindikasikan kinerja perusahaan juga stabil dari tahun ketahun.

            Walaupun perusahaan secara akuntansi mengalami kerugian, pemegang saham akan tetap menerima dividen dengan jumlah sama seperti tahun sebelumnya.

            #2. Kebijakan Dividen Rasio Tetap

            Maksud dari kebijakan dividen rasio yang tetap adalah bahwa dividen dibagikan berdasarkan rasio yang tetap disetiap periodenya.

            Besar kecil jumlah nominal dividen yang dibagikan tidak sama dari tahun ketahun. Tergantung pada laba yang dihasilkan.

            Misalnya, apabila perusahaan menetapkan dividen ratio sebesar 40 persen dari laba bersih yang dihasilkan.

            Maka setiap tahun, dividen yang dibagikan sebesar 40 persen dari laba bersih perusahaan. Setiap tahun, laba yang dihasilkan jumlahnya tentu berbeda beda. Kadang naik kadang turun.

            Maka jumlah nomina dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham akan berbeda beda setiap tahunnya yang diambilkan dari 40 persen dari laba yang dihasilkan.

            #3. Kebijakan Dividen Fleksibel

            Pada tipe kebijakan dividen ini, besar kecil dividen yang dibayarkan setiap tahunnya akan disesuaikan dengan kondisi finansial perusahaan.

            Setiap waktu perusahaan akan selalu mengalami perubahan, baik kondisi internal maupun eksternal. Untuk itu, dividen yang dibagikan akan mengikuti perkembangan kondisi perusahaan yang berbeda beda setiap tahunnya.

            Bahkan apabila kondisi keuangan perusahaan dirasa tidak memungkinkan, maka dividen tidak akan dibayarkan.

            #4. Kebijakan Dividen Residual

            Tipe kebijakan dividen residu adalah dividen dibayarkan hanya apabila ada laba yang tersisa setelah perusahaan melakukan investasi.

            Apabila laba yang diinvestasikan kembali tidak tersisa, maka tidak ada pembagian dividen.

            Jadi laba yang dihasilkan akan digunakan untuk investasi, baru setelah investasi dilakukan dan ternyata masih ada sisa laba, maka sisa tersebut dibagikan dalam bentuk dividen.

            Biasanya, tipe investor yang senang dengan kebijakan dividen residual ini adalah investor jangka panjang yang tidak mengharapkan dividen, namun lebih mengharapkan perkembangan perusahaan.

            #5. Kebijakan Dividen Rendah + Ekstra

            Maksudnya adalah Kebijakan dividen yang dibayarkan secara rutin disetiap periode dengan jumlah yang rendah.

            Ketika kondisi laba normal, dividen yang dibagikan akan tetap rendah.

            Namun walaupun ditetapkan rendah, ketika perusahaan berhasil meraih laba yang tinggi, perusahaan akan menambah "ekstra" dividen tersebut.

            Penambahan dividen ekstra ini biasanya akan direspon baik oleh pasar dan harga saham perusahaan mengalami kenaikan.

            Pengumuman Dividen 

            Pengumuman dividen adalah sebuah informasi yang sangat direspon pasar. Pengumuman laba dan pengumuman dividen sering digunakan manajer perusahaan untuk memberikan informasi bahwa perusahaan tersebut berprestasi dan mempunyai prospek yang cerah.

            Bahkan menurut pendapat Aharony dan Swary [1980] dalam Nurhidayati [2006] menyatakan bahwa informasi pengumuman dividen lebih bernilai daripada pengumuman informasi laba (earning) perusahaan.

            Ada anggapan bahwa dengan adanya pembayaran dividen yang besar ada kecenderungan nilai saham perusahaan akan meningkat. Hal ini adalah anggapan investor yang melihat bahwa perusahaan tersebut mampu untuk membagikan keuntungan.

            Namun pembayaran dividen yang besar juga berdampak pada kemampuan modal perusahaan untuk melakukan pengembangan usaha. Usaha yang tidak berkembang akan menyebabkan turunnya nilai saham perusahaan.

            Pada kondisi pasar modal yang sempurna. Penundaan membayar dividen kepada para pemilik saham yang bertujuan untuk melakukan pengembangan usaha dan investasi yang menguntungkan akan berdampak pada kenaikan nilai saham.

            Sepanjang perusahaan mempunyai rencana pengembangan dan investasi yang returnnya meyakinkan. Perusahaan akan menggunakan laba yang dihasilkan tersebut untuk mendanai rencananya.

            Apabila terdapat kelebihan laba yang digunakan, maka kelebihan laba tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham. Namun apabila tidak ada kelebihan laba maka tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham.

            Walaupun pada kenyataannya, ada sejumlah perusahaan yang membayar dividen dengan stabil dan cenderung menghindari pengurangan dividen yang dibayarkan. Hanya karena manajemen ingin memperlihatkan bahwa perusahaannya memiliki kemampuan menghasilkan laba yang besar dan memiliki prospek yang bagus yang mampu membayar deviden kepada para pemegang sahamnya.

            Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

            Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

            Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen ?

            Kebijakan dividen berhubungan dengan pertanyaan apakah dividen dibagikan atau tidak ?

            Jika dibagikan, berapa nominal dividen yang akan dibagikan?

            Kebijakan dividen perusahaan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Setidaknya ada 8 hal yang harus diperhatikan perusahaan sebelum menetapkan kebijakan dividennya. Ke-8 faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain:
            1. Posisi Likuiditas Perusahaan
            2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Utang
            3. Tingkat Ekspansi Aktiva
            4. Stabilitas Laba
            5. Peraturan Hukum Perundang-undangan
            6. Pengendalian Perusahaan
            7. Pembatasan dalam Perjanjian Utang
            8. Kemampuan untuk Meminjam
            faktor kebijakan dividen
            Sumber gambar : iconfinder.com

            1. Posisi Likuiditas Perusahaan

            Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar.

            Posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan dividen. Semakin lancar likuiditas perusahaan, semakin besar juga kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen.

            Ketika sebuah perusahaan tidak cukup likuid.

            Kas yang masuk sedikit. Dan utang jangka pendeknya harus segera dibayarkan.

            Dalam kondisi seperti itu....

            Apakah perusahaan harus membagikan dividen atau tidak ?    

            Apabila perusahaan membagikan dividen disaat keuangan tidak likuid, resiko gagal bayar hutang akan sangat tinggi.

            Perusahaan akan kesulitan membayar utang dan bahkan kesulitan dalam melakukan kegiatan operasinal seperti biasa.

            Hal Ini karena kondisi keuangan yang sudah tidak bagus, ditambah lagi harus membagikan keuntungan kepada para pemegang saham.

            Umumnya, apabila perusahaan dalam kondisi seperti ini, perusahaan seharusnya memutuskan untuk tidak membagikan dividen dalam bentuk uang tunai. Terlebih apabila perusahaan tersebut sedang tumbuh berkembang dan membutuhkan suntikan dana untuk berinvestasi.

            Jadi, tingkat likuiditas perusahaan sangat berpengaruh terhadap kebijakan dividen perusahaan.

            2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Utang

            Ketika perusahaan menghasilkan laba dan memiliki hutang jangka panjang yang akan jatuh dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan dengan laba yang dihasilkan tersebut?

            Tentu ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan.

            Pertama...

            Perusahaan bisa melunasi utang tersebut menggunakan laba yang dihasilkan. Dan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham.

            Dan jika ada sisa laba dari pelunasan hutang, maka sisa tersebut bisa dibagikan kepada pemilik saham.

            Kedua...

            Perusahaan bisa tetap membagikan dividen tanpa harus memikirkan hutang yang akan segera jatuh tempo.

            Pelunasan hutang bisa menggunakan alternatif pendanaan lain dari luar perusahaan.

            Bisa penerbitan saham baru, melunasi utang dengan hutang baru (menerbitkan obligasi atau hipotik).

            Bahkan bila memungkinkan bisa mengkonversi utang tersebut menjadi saham. Tentunya dengan melalui proses yang panjang.

            Apapun yang ditempuh, laba ditahan mau dipakai untuk membayar utang atau dibagikan dengan dividen, akan memiliki konsekuensi masing masing.

            Yang jelas, apabila perusahaan memilih untuk memakai laba untuk pembayaran utang, maka akan berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen kepada pemegang saham akan semakin kecil.

            3. Tingkat Ekspansi Aktiva | Kebutuhan Dana Perusahaan

            Perusahaan yang sedang berkembang tentu membutuhkan tambahan sumber daya perusahaan. Salah satunya adalah aktiva perusahaan.

            Ketika permintaan semakin tinggi, namun tidak diimbangi dengan aktiva perusahaan yang terbatas, maka perusahaan tidak akan mampu memaksimalkan pendapatannya.

            Salah satu caranya adalah dengan melakukan perluasan usaha.

            Bangun pabrik baru, beli mesin baru, beli tanah baru dan lainnya. Artinya dengan menambah aktiva.

            Darimana pendanaan untuk menambah aktiva perusahaan ?

            Salah satunya adalah kebijakan dividen. Menggunakan laba ditahan.

            Semakin banyak dana yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha, untuk meningkatkan aktiva, maka semakin kecil peluang perusahaan untuk membagikan dividen.

            Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit kebutuhan pengembangan aktiva, maka semakin besar laba ditahan yang bisa dibayarkan dalam bentuk dividen.

            Namun apabila perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen lebih besar kepada pemegang saham, maka sisa laba ditahan yang bisa digunakan untuk pembiayaan pengembangan usaha akan semakin kecil.

            Ketika perusahaan sudah mencapai titik jenuh, dimana pertumbuhannya sudah bisa dikatakan berada pada titik puncak. kondisinya sudah well established, dan bahkan kebutuhannya bisa dipenuhi oleh sumber eksternal, pada umumnya perusahaan akan membayarkan dividen dengan rasio yang cenderung tinggi.

            4. Stabilitas Laba

            faktor kebijakan dividen
            stabilitas harga: faktor kebijakan divien | source

            Perusahaan yang menghasilkan laba yang stabil disetiap periode bisa dengan mudah memprediksi besar kecilnya laba yang akan dihasilkan diperiode yang akan datang.

            Perencanaan mengenai sumber dana dan penggunaannya jauh lebih terarah.

            Bisa terbaca dengan baik.

            Rencana pengembangan usaha, jadwal pembayaran utang, atau anggaran pengeluaran yang lainnya bisa disusun dengan mudah.

            Termasuk juga mengenai kebijakan dividen.

            Besar kecilnya dividen yang dibagikan cenderung stabil dan lebih tinggi.

            Apabila dibandingkan dengan perusahaan yang menghasilkan laba yang tidak stabil disetiap periodenya.

            Misalkan tahun lalu menghasilkan laba 150 persen dan tahun ini rugi 40 persen. Maka proses pengambilan keputusan terhadap hal apapun menyangkut masa depan perusahaan akan menjadi lebih sulit.

            Sulit diprediksi.

            Dan kebijakan dividen pun juga terkena imbasnya.

            Apakah dijadikan laba ditahan atau dibagikan kepemegang saham?

            Manajemen akan mengalami kesulitan dan cenderung untuk bermain aman.

            Pembagian dividen cenderung untuk dihindari. Jikapun dibagikan, biasanya dalam jumlah yang kecil.

            Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga atas kondisi perusahaan yang masih fluktuatif.

            Jadi, tingkat kestabilan laba yang dihasilkan akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan dividen perusahaan.

            5. Peraturan Hukum Perundang Undangan

            Peraturan hukum kebijakan dividen : source

            Peraturan perundang-undangan mengatakan dividen dibayarkan dari laba. Baik laba tahun periode berjalan ataupun laba bersih tahun lalu yang berada di pos laba ditahan.

            Perusahaan tidak serta merta langsung membagikan dividen sesuai keinginan.

            Ada mekanisme peraturan hukum yang membatasi kebijakan dividen perusahaan.

            Ada beberapa batasan hukum tentang dividen. Seperti :
            1. Peraturan tentang laba bersih. Dividen yang bisa dibayarkan berasal dari laba bersih periode berjalan atau periode tahun sebelumnya.
            2. Peraturan larangan pengurangan modal. Aturan ini bertujuan untuk melindungi kreditur (pemberi kredit pinjaman perusahaan) yang melarang adanya pembayaran dividen dengan mengurangi modal. Maksudnya membayarkan dividen dengan modal adalah membagi modal perusahaan. Bukan membagikan laba bersih perusahaan.
            3. Peraturan kepailitan. Aturan ini melarang perusahaan untuk membayarkan dividen ketika perusahaan dinyatakan pailit oleh pengadilan. Membagikan dividen ketika perusahaan dinyatakan pailit berarti membagikan aset perusahaan kepada pemegang saham. Yang pada kenyataanya adalah milik atau hak dari kreditur pemberi pinjaman perusahaan.

            6. Pengendalian Perusahaan

            Terdapat beberapa perusahaan yang memiliki kebijakan yang hanya mengguanakan dana yang berasal dari pendanaan internal saja untuk membiayai aktivitas, investasi atau pengembangan usaha perusahaan.

            Sumber dana hanya berasal dari LABA DITAHAN.

            Pemegang saham tidak mendapatkan pembayaran dividen. Dan sebagian dari mereka senang.

            Lho kok bisa ? Karena struktur modal perusahaan tidak berubah !

            Pemegang saham yang senang adalah pemegang saham mayoritas yang memiliki kendali penuh atas perusahaan. Memiliki suara terbanyak yang tidak ingin kehilangan kendali atas perusahaannya.

            Ketika sebuah perusahaan berencana untuk melakukan pengembangan usaha. Membutuhkan dana yang melimpah. Tapi tidak menggunakan laba ditahan, lebih memilih untuk membagikan dividen.

            Maka akan opsi perusahaan mendapatkan dana berasal dari eksternal perushaan. 

            Berhutang (menerbitkan obligasi atau hipotik) atau menerbitkan saham baru.

            Apabila perusahaan mengambil opsi menerbitkan saham baru. Maka jumlah saham yang beredar akan semakin bertambah.

            Struktur modal perusahaan akan berubah. 

            Dan yang ditakuti oleh pemegang saham mayoritas adalah adanya kemungkinan pemegang saham mayoritas tidak lagi menjadi mayoritas.

            Tidak lagi memiliki suara yang dominan dalam perusahaan karena adanya kepemilikan saham baru oleh orang lain.

            Persentase jumlah saham mereka akan berkurang dan ada kesempatan pemegang saham lain yang membeli saham baru tersebut menjadi pemegang saham mayoritas. Memiliki suara mayoritas. Dan memegang kendali atas perusahaan.

            Apabila manajemen perusahaan memperhatikan pengendalian. Manajemen mungkin akan enggan untuk menerbitkan saham baru dan akan menahan laba ditahan lebih banyak.

            Namun apabila pemegang saham menginginkan adanya pembagian dividen, dan terlebih adanya tekanan dari beberapa pemegang saham yang menginginkan adalah peralihan kekuasaan perusahaan, maka dividen yang dibagikan akan bertambah naik.

            Jadi, pengendalian perusahaan harus dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan dividen

            7. Pembatasan dalam Perjanjian Utang

            Pembatasan-pembatasan perjanjian utang ini biasanya disusun oleh kreditur perusahaan yang telah disetujui oleh perusahaan.

            Pembatasan ini disusun oleh kreditur agar perusahaan tetap mampu melunasi utang dan bunganya.

            Perjanjian utang, khususnya utang jangka panjang sering membatasi atau bahkan melarang perusahaan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham.

            Perjanjian utang tersebut umumnya menyatakan :
            • Dividen tidak bisa dibayarkan jika modal bersih perusahaan berada dibawah jumlah atau titik yang sudah ditentukan.
            • Perusahaan hanya bisa membayar dividen dimasa mendatang dari laba yang diperoleh setelah perjanjian utang telah ditandatangani. Jadi dividen tidak boleh dibayar dari laba ditahan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya
            Sebagai tambahan, umumnya kontrak utang juga sering berisi larangan pembagian dividen jika rasio kemampuan pembayaran bunga, rasio lancar dan rasio-rasio yang lain melewati batas-batas minimal yang telah ditetapkan.

            8. Kemampuan untuk Meminjam (Berhutang)

            Perusahaan yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam memperoleh dana pinjaman, umumnya memiliki kemampuan membayar dividen yang tinggi.

            Apabila perusahaan memutuskan untuk memenuhi segala pendanaan melalui utang, maka besar kecilnya dividen kas yang dibayarkan kepada pemegang saham tidak akan mempengaruhi tingkat llikuiditas perusahaan.

            Itulah 8 faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan. Semoga bermanfaat.

            Referensi: http://odytanpar.blogspot.co.id - http://mimieconomy.blogspot.co.id/
            Manurung Adler Haymans, [2012]. Teori Keuangan Perusahaan. Djakarta :PT Adler Manurung Press

            Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design