Showing posts with label Aktiva Tetap. Show all posts
Showing posts with label Aktiva Tetap. Show all posts
Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

Perolehan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap - Setelah sebelumnya saya memposting tentang perolehan aset tetap yang diperoleh dari pembelian secara tunai, kali ini saya akan memposting mengenai perolehan aset tetap yang diperoleh dengan cara lain. 

Kita tahu, untuk mendapatkan aktiva tetap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Seperti membeli aktiva tersebut secara tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham.
perolehan aset tetap
Perolehan Aktiva Tetap

Aset Tetap Diperoleh dari Pembelian Kredit

Dalam perolehan aktiva tetap dengan membelinya secara kredit (pembayarannya secara cicilan), maka tidak perlu adanya pengeluaran kas sekaligus, tetapi kas dikeluarkan secara bertahap sesuai deal kesepakatan bersama kredito.

Selain itu dengan transaksi pembelian aset secara kredit ini akan menimbulkan bunga yang harus dibayar.
Aktiva tetap yang diperoleh dengan pembelian angsuran, dalam menentukan harga perolehannya tidak termasuk bunga didalamnya.

Bunga yang timbul dibebankan pada saldo yang belum dibayar atas kontrak dicatat sebagai biaya.

Contoh :

Pada tanggal 2 januari 2014 PT. Foraz membeli sebuah gedung dengan cara mencicil seharga Rp. 100.000.000 dengan uang muka Rp. 25.000.000 sisanya diangsur setiap akhir tahun selama tiga tahun dengan bunga 5% per tahun.
Jurnal 2 Januari 2014

Debit | Building Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp25.000.000
Kredit | Contract Payable Rp75.000.000


Jurnal 31 Desember 2014

Debit | Contract Payable * Rp25.000.000
Debit | Interest Expense ** Rp3.750.000
Kredit | Cash Rp28.750.000

Notes :
*     Contract Payable (utang) Rp 75.000.000 dibagi 3 tahun = Rp 25.000.000
 **  Bunga 5% dari Saldo utang kontrak: 5% x Rp 75.000.000 = Rp 3.750.000


Jurnal 31 Desember 2015

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp2.500.000
Kredit | Cash Rp27.500.000


Jurnal 31 Desember 2016

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp1.250.000
Kredit | Cash Rp26.250.000


#Pertanyaan

Mengapa bunga tidak dimasukkan harga perolehan aset tetap berwujud?

Bukankah aset tetap di akui sebesar harga perolehan yang merupakan harga dari barang ditambah semua biaya biaya yang diakibatkan dari transaksi aset tetap hingga aset tersebut siap digunakan/beroperasi?

Untuk hal ini lebih baik dibahas pada lain kesempatan saja. :)

Aset Tetap Diperoleh dengan Pertukaran

Pertukaran aset tetap dengan pertukaran maksudnya ialah aset tetap yang telah dimiliki ditukar dengan aset yang dimiliki oleh entitas/orang lain.

Terdapat beberapa masalah yang muncul dalam penentuan nilai-nya. Hal ini disebabkan berbagai kondisi atas pertukaran aset yang terjadi, dan ini dia beberapa hal/kondisi yang patut diperhatikan:
  1. Apakah pertukaran aset sejenis atau tidak sejenis
  2. Apakah diketahui harga pasar asetnya atau tidak diketahui
  3. Apakah disertai dengan arus kas atau tidak disertai arus kas
Ada beberapa kemungkinan kombinasi yang terjadi atas pertukaran aset tetap diatas, juga bagaimana perlakuan dalam akuntansinya:

# 1. Harga pasar aktiva tetap diketahui dan tidak disertai dengan arus kas

Aset tetap yang diperoleh dicatat sebesar harga pasar aset tetap dan mempunyai bukti transaksi yang memadai. Apabila kedua aset keabsahan buktinya sama sama kuat, maka yang dicatat dan diakui adalah harga pasar aset yang diserahkan, akan tetapi apabila aset yang diterima mempunyai bukti transaksi yang lebih lengkap dan lebih handal keabsahannya maka aset tetap perolehannya diakui sebesar aset yang diterima.

# 2. Harga pasar aset tidak diketahui baik sejenis ataupun beda jenis

Perolehan aset diakui sebesar nilai buku aset tetap yang dikeluarkan. akumulasi penyusutan aset tetap yang dikeluarkan/diserahkan perlu dihapus dalam kasus ini.

Aset tidak sejenis, harga pasar aset diketahui, ada/disertai arus kas

Apabila disertai arus kas, ada dua kemungkinan:
  1. Arus kas masuk, artinya ada laba dari pertukaran aset tetap, diakui laba pertukaran
  2. Arus kas keluar, artinya ada rugi dari pertukaran aset, diakui rugi pertukaran 
Aset yang ditukar sejenis, Harga pasar aset diketahui,disertai arus kas
  1. Indikasi rugi, maka rugi pertukaran diakui
  2. Indikasi laba, maka jangan diakui sebagai laba

Contoh Pertukaran Aset Tetap :

PT. Foraz menukarkan kendaraannya dengan sebuah mesin. Harga perolehan kendaraan Rp. 100.000.000, Akumulasi penyusutan pada saat penukaran adalah Rp. 20.000.000,

Harga Mesin Rp. 45.000.000, dalam pertukaran tersebut perusahaan menambah uang sebesar Rp. 5.000.000

Perhitungan :

- Harga Perolehan Mobil Rp100.000.000
- Akumulasi Penyusutan (Rp20.000.000)
- Nilai Buku Rp80.000.000
- Harga Perolehan Mesin Rp90.000.000
- Pembayaran (Rp5.000.000)
- Harga Pasar Mobil Rp85.000.000
- Laba Pertukaran Rp5.000.000


Jurnal :

Debit | Machine Rp90.000.000
Debit | Accumulation Depreciation Rp20.000.000
Kredit | Automobile Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp5.000.000
Kredit | Gain on Exchange of Plants Assets Rp5.000.000


#Pertanyaan

Ada laba dan rugi dalam pertukaran, dan langsung di akui dalam laporan keuangan.

Masih ingat tentang perolehan aset tetap secara gabungan/lumpsum? Silahkan baca [disini] lebih jelasnya.

Pada tulisan tersebut, apabila terdapat selisih, maka selisih itu di distribusikan kepada aset tetap yang diperoleh, tidak dimasukkan atau dikapitalisasi ke dalam aset tetap.

Sedangkan di sini, kita lihat langsung di akui laba atau rugi jika ada selisih, padahal judulnya sama, "Perolehan Aset Tetap"! perkara itu karena caranya yang berbeda, katakanlah, yang satu dibeli secara tunai, yang satu dengan ditukar. Tapi benang merahnya sama, ada aset yang dikeluarkan untuk memperoleh aset yang baru.

Dan kenapa jika ada selisih, perlakuannya berbeda?

Nah ini juga keanehan dalam metode ini, saya juga bertanya logikanya darimana. next posting jika ada waktu ingin sekali saya bahas. mungkin ada yang bisa bantu menjelaskan?

Baiklah, untuk saat ini sekian dulu mengenai perolehan aset tetap masih ada lagi cara perolehan dengan metode lain. Silahkan anda baca Perolehan Aktiva Dibangun Sendiri dan Perolehan Aktiva melalui Surat Berharga (saham atau obligasi)

Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap (Fixed assets)

Pengertian aset tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu.

Aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa.

Misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.

Sofyan Safri berpendapat bahwa :

"Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus."

Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap adalah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

Karakteristik Aktiva Tetap

Aset Tetap
Aktiva Tetap

Aset tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
  • Mempunyai wujud fisik
  • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
  • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
  • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
  • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) contohnya, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

Pengakuan Aktiva Tetap

Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.

Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :
  • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang. Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
    • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
    Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

    Penggolongan Aktiva Tetap

    Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain.

    Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut.

    Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya.

    Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya.

    Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:
    • Aset tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
    • Aset tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
    • Aset tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.

      Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :

      [1] Sudut substansi aset tetap

      • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
      • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll

      [2] Aset tetap disusutkan atau tidak disusutkan

      • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
      • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah.

      [3] Aset tetap berdasarkan jenisnya

      • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
      • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
      • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
      • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
      • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
      • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
      • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya

      Bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ?

      Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

      Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

      Berbicara aktiva tetap, sudahkan Anda membaca perlakuan akuntansi aktiva tetap ?

      Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling ?

      Bagaimana perlakuan akuntansi aset yang hilang ?
      Aktiva TEtap Hilang TErcuri
      Aktiva Hilang Tercuri

      Aset tetap hilang tercuri ?

      Memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi.

      Hilang karena sistem keamanan yang kendor terhadap pihak luar, bahkan keterlibatan orang orang dalam perusahaan itu sendiri. niscaya bisa terjadi kapan pun.

      Aset tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (plant asset retirement).

      Selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan.

      Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

      Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)

      Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan.

      Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti surat kehilangan dari pihak pihak kepolisian.

      Tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada ?

      Maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya.

      Untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap.
      Contoh Kasus

      Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan mesin printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000.

      Atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014.

      Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus.

      Diperkirakan umur ekonomis mesin printing diperkirakan 4 tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0)

      Bagaimana prosedur penghapusan mesin printing tersebut ?

      Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja:
      Langkah pertama :

      Update nilai buku mesin printing

      Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut.

      Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014:

      Mesin printing telah dipergunakan selama 3 bulan

      Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000

      Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :

      Debit | Depreciation Rp10.000.000
      Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000

      Notes:
      Penjurnalan diatas untuk:
      • Mengakui biaya penyusutan sebesar Rp 10.000.000
      • Mengakui akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.

      Maka, nilai buku handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:
      Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan

      Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000
      = Rp 150.000.000

      Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 

      Langkah berikutnya:

      Hapus nilai mesin printing yang hilang


      Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal :

      Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
      Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
      Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000

               Kesimpulan : kerugian diakui sebesar nilai buku aset tetap yang hilang.

      Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang

      Di akhir periode, mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok pos pos luar biasa (extra ordinary items).

      Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya extraordinary items tersebut.

      Bagaimana perlakuan akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak?

      Silahkan baca disini: Aktiva tetap yang terbakar atau rusak

      Jurnal Penjualan Aktiva Tetap dalam Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

      Jurnal Penjualan Aktiva Tetap dalam Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

      Penghapusan Aktiva - Dalam kondisi tertentu, suatu perusahaan menghadapi kondisi yang tidak biasa dalam operasinya sehingga mengharuskan atau memutuskan untuk melakukan PENJUALAN AKTIVA TETAP.

      Padahal, tujuan awal perusahaan dalam membeli aset tetap tersebut adalah untuk digunakan dalam operasi perusahaan selama umur manfaat ekonominya demi mempertahankan kelangsungan usaha.

      Baik itu untuk tempat, peralatan, untuk produksi maupun kegunaan lainnya.

      Intinya.... aset tetap pada awalnya tidak ditujukan untuk di jual kembali.

      Penghapusan Aktiva

      Penghapusan Aktiva Tetap

      Dalam kondisi tertentu, banyak alasan perusahaan harus memutuskan untuk melakukan penjualan aset tetap, seperti:
      • Perusahaan berganti jenis produk, sehingga mesin atau peralatan tertentu tidak dapat digunakan dan mubazir
      • Membutuhkan dana atau kekurangan dana, untuk bayar utang atau modal kerja
      • Perusahaan ditutup karena alasan tertentu dan tidak berproduksi kembali
      • Upgrade aktiva tetap, misal mobil yang sudah tua yang biaya maintenance-nya mahal diganti dengan yang baru, atau komputer yang sudah tidak mendukung lagi diganti dengan yang lebih canggih
      Penjualan aktiva tetap merupakan salah satu jenis penarikan aktiva.

      Bagaimana prosedur dan perlakuan akuntansi-nya?

      Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset Tetap

      Dua langkah yang dilakukan dalam prosedur penjualan aset tetap:
      1. Update nilai buku aset tetap yang dijual
      2. Hapus aset tetap
      Plus tambahan pelaporan laba atau rugi penjualan aktiva tetap
        Tentu juga dengan beberapa beberapa langkah detilnya

        penghapusan aktiva tetap

        Contoh Kasus:

        Pada tanggal 6 Juli 2015, PT.Bunaji menjual aktiva tetap kendaraan kantor dengan harga Rp 150.000.000.

        Kendaraan ini dibeli pada 02 February 2012 dan saat itu harga pembeliannya menghabiskan dana sebesar Rp 240.000.000.

        Beberapa catatan tambahan:

        PT. Bunaji memakai metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aset tetap tanpa nilai sisa (nilai residu).

        Kendaraan diperkirakan memiliki umur ekonomis 10 Tahun.

        Berikut posisi aset kendaraan PT Bunaji per 31 Des 2014 :

        Nilai buku penjualan aktiva

             
        Langkah Langkahnya:

        # 1. Update Nilai Buku Aset Tetap 

        Menghitung penyusutan dari tangal 01 Januari – 6 Juli 2015

          Aktiva kendaraan perusahaan dijual pada tanggal 6 Juli 2015, dimana tanggal 6 belum melewati setengah bulan, maka untuk bulan Juli dianggap mesin belum digunakann selama 1 bulan penuh, dan bulan juli penyusutan tidak perlu di hitung.

          Penyusutan hanya dihitung hingga bulan juni saja.

          Penyusutan 1 Jan - 6 Juli 2015 = 6/12 x (Rp 240.000.000/10)
          Rp  12.000.000

          Lalu jurnal beban penyusutan tersebut :

          penyusutan penghapusan aktiva tetap

          Jurnal tersebut menambah biaya penyusutan dan menambah akumulasi penyusutan kendaraan sebesar Rp 12.000.000

          Sehingga "Accum Deprec Kendaraan" per tanggal 6 Juli 2015 adalah sebagai berikut :

          Akumulasi / 6 juli 2015 = Penyusutan selama 2014 + Penyusutan selama 2015
          =  Rp 70.000.000 +  Rp 12.000.000>
          = Rp 82.000.000

          Dan nilai buku kendaraan per 6 Juli 2015 adalah :

          Nilai buku mesin per 6 Juli 2015 = Rp 240.000.000 – Rp 82.000.000
          = Rp 158.000.000

          Langkah berikutnya adalah penghapusan aktiva tetap

          # 2. Penghapusan Aktiva Tetap Kendaraan

          Jurnal penghapusan atau penjualan aktiva tetap kendaraan adalah:

          jurnal penjualan aktiva tetap
            Notes:
          • Menghapus aset tetap kendaraan dan juga akumulasi penyusutannya. penghapusan ini terjadi karena posting aset tetap mesin dimasukkan di kredit dan akumulasi penyusutan dicatat ke sisi debit.
          • Mencatat kas masuk/mengakui piutang sebesar harga penjualan. Apabila transaksi penjualannya secara tunai, maka akun kas yang di pakai, tetapi apabila transaksi penjualan secara kredit, maka piutang yang dipakai.
          • Mengakui rugi penjualan aset tetap mesin sebesar selisih nilai buku terbaru/terupdate dengan harga nilai penjualan
          Bagaimana jika aset tetap dijual dengan harga diatas nilai buku aktiva setelah di update?

          Ya tinggal di balik saja jurnalnya, dari rugi menjadi akun laba.

          Misalnya, pada contoh kasus yang sama, namun aktiva dijual seharga Rp 170.000.000 sehingga perusahaan mendapatkan laba seebesar dari penjualan kendaraan tersebut.


          # 3. Pelaporan Laba Rugi Penjualan Aset Tetap

          Laba rugi penjualan aset tetap dilaporkan dalam laporan laba rugi, didalam klasifikasi pendapatan lain lain.
          Akuntansi Peralatan Kecil dalam Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

          Akuntansi Peralatan Kecil dalam Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

          Akuntansi Peralatan Kecil

          Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan.

          Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya.

          Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan.

          Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan.

          Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali.
          Berikut diantarnya:

          Karakteristik Peralatan Kecil

          peralatan kecil
          Peralatan Akuntansi

          [#] Dilihat dari fungsinya

          Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional.

          [#] Dilihat dari umur ekonomisnya

          Nilai umur ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi

          [#] Dilihat dari nilainya

          Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material
          Contohnya seperti gunting, staples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya

          Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membuat kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya !

          Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya.

          Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleh karena melihat nilainya yang amat kecil.

          Tidak material.

          Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "Biaya Peralatan". 

          Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan.

          Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya.
          Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ?

          Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ?

          Bisa menyusahkan nantinya. Apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan.

          Akan sangat merepotkan menghitungnya.
          Lalu bagaimana memperlakukan peralatan kecil?

          Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan.

          Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut

          Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut.

          [1] Telaah umur ekonomis peralatan kecilnya

          Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh.

          Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment.

          Ingat. "berpotensi" !

          Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya.

          [2] Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya !

          Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material

          Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan).

          Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material,

          Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

          Membebankan Peralatan Kecil Gabungan

          Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut.

          Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif.

          Saldo awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut.

          Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut.

          Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan.

          Contoh :

          Nama Peralatan Jumlah awal Jumlah Akhir Terpakai Harga Satuan Nilai Terpakai Nilai Buku
          Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
          Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
          Total 825.000,- 550.000,-

          Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :

          Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
          Kredit | Akm. Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000

          Ok, bisa dicerna kan ?

          Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar.

          Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, semoga bermanfaat.

          Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) dalam Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

          Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) dalam Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

          Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


          ekspenditure aktiva tetap
          Pengeluaran Aktiva Ekspenditure

          Dalam perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. 

          Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

          Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.

          Tapi, pada setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). 

          Agar aktiva tetap bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. 

          Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
          • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
          • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)
            Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.

            Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

            Seperti yang dijabarkan sebelumnya, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang perlu dilakukan.

            Nah pertanyaannya..

            Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN pada periode berjalan atau DIKAPITALISASI ?

            Mari kita simak.

            Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

            Seperti aktivitas pemeliharaan, perbaikan, pergantian komponen, upgrading, turun mesin (over haul) yang semuaya memerlukan biaya.

            # Pemeliharaan | Maintenance

            Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aktiva bisa berfungsi normal seperti biasanya.

            Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.

            Apakah biaya pemeliharaan boleh dikapitalisasi ?

            Ok, yang ini dijawab nanti saja :)

            Contoh Kasus Biaya Maintenance :

            Untuk memberikan oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya.

            Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

            Pengeluaran atas biaya maintenance ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

            Debit | Office Maintenance 400.000
            Kredit | Cash 400.000

            # Perbaikan Aktiva Tetap | Repair

            Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana kegiatan ini lebih besar daripada pemeliharaan (maintenance).

            Apabila aktiva tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

            Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva yang menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tersebut.

            Contoh Kasus :

            Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti oli akan tetapi diketahui komponen saluran oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

            Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-

            Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

            Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

            Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
            Debit | Office Maintenance 400.000
            Kredit | Cash 1.000.000

            Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

            Sabar, tunggu dulu dijawab nanti saja :)

            # Pergantian Komponen Aset 

            Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, kegiatan mengganti satu atau beberapa komponen dari aktiva tetap

            Contoh Kasus :

            Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.

            Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.

            Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- 

            Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

            Debit | Maintenance 70.000
            Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
            Kredit | Cash 1.545.000


            Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

            Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi ?

            Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu dijawabnya :)

            # Pengangkatan Kapasitas 

            Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

            Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

            Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.

            Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

            PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.

            Untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.

            Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.

            Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :

            Pembelian Besi 17.000.000
            Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
            Penadah Batu Bara 6.000.000
            Biaya Lain Lain 2.000.000

            Transaksi tersebut dicatat :

            Debit | Mesin 32.000.000
            Kredit | Cash 32.000.000

            # Turun Mesin | Overhaul

            Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

            Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

            Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

            Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

            Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

            Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

            Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.

            Contoh Kasus Turun Mesin

            PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.

            Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.

            Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.

            Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.

            Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut

            Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

            Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
            Kredit | Cash 8.000.000

            Notes :
            Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

            Masalah berikutnya :
            • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
            • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
            • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
            • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?
                Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

                Sebelum Turun Mesin
                Harga Perolehan 50.000.000
                Umur Ekonomis 10 Tahun
                Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
                Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
                Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000

                Setelah Turun Mesin
                Akumulasi Penyusutan  37.000.000
                Nilai Buku 13.000.000
                Tambahan Umur Ekonomis 5 Tahun
                Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
                Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
                Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000

                Keterangan
                Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
                Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
                Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
                Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
                Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000


                Dari sana kita lihat.

                Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8.000.000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8.000.000

                Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8.000.000 sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :

                Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000

                Nilai Buku menjadi

                Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000

                Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :

                Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000

                5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

                Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :

                Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

                Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

                Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak dikapitalisasi ?

                Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

                Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

                Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,

                Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau dibebankan pada periode tersebut ?

                1. Tingkat Keseringan

                Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

                2. Materialitas

                Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.

                Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.

                Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.

                5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !

                3. Lama Manfaat

                Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.

                Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,

                Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.

                Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

                4. Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap

                Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.

                Dan demikian sebaliknya.

                Bagaimana ?

                Sudah ada gambaran ?

                Contoh Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

                Contoh Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

                metode saldo menurun
                Metode Saldo Menurun

                Penyusutan Aset Tetap Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

                Pada dasarnya, Aset Tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesarnya pada awal awal masa penggunaan.

                Ya ini karena mesin masih dalam kondisi gress, segar dengan kekuatan yang masih optimal.

                Masih jauh dari masa aus (rusak) mesin atau aset tetap yang lainnya.

                Namun, seiring berjalannya waktu, kontribusi aset terbesar tersebut mulai menurun, kinerjanya tak lagi bisa maksimal, mesin tak lagi muda dan turun performa, gedung mulai reyot reyot, kendaraan mulai mogok mogok dan lain sebagainya.

                Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aset tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aset mesin produksi.

                Rumus Depresiasi Saldo Menurun

                Penyusutan = [(100% : Umur Ekonomis) x 2] x Nilai Perolehan/Nilai Buku

                Contoh kasus penyusutan metode saldo menurun:

                Supaya lebih mudah, kita gunakan contoh kasus sebelumnya yang kita kerjakan menggunakan metode garis lurus

                Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000 dan mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun

                Apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan, besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000.

                Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun.

                Penyusutan tahun 2014 = [(100% : 10) x 2 ] x 7/12 x 13.000.000
                = Rp 1.516.710

                Notes :
                Karena selama tahun 2014 aset hanya digunakan 7 bulan, maka dikali 7/12

                Penyusutan tahun 2015 = [(100% : 10) x 2 ] x (13.000.000 - 1.516.710)
                = Rp 2.296.658

                Notes :
                Nilai buku aset tahun 2015 dikurangi penyusutan aset tahun sebelumnya, sebesar Rp 1.516.710

                Untuk tahun tahun setelahnya, cara pengerjaanya sama, hingga 10 tahun masa pengoperasian mesin tersebut.

                Lalu saat pencatatan, jurnal nya adalah sama dengan metode garis lurus, cuma beda di angka saja.

                31 Desember 2014

                Debit | Depreciation Rp 1.516.710
                Kredit | Accumulated Depreciation Rp 1.516.710

                Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

                31 Desember 2015

                Debit | Depreciation Rp 2.296.658
                Kredit | Accumulated Depreciation Rp 2.296.658


                Jurnal jurnal penyusutan tahun tahun berikutnya sama saja, jadi tidak perlu dijelaskan lagi. :)

                # Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian !

                Jurnal penyesuaian ini untuk mengakui adanya beban pada aset mesin ini. penyesuaian atas penyusutan aset tetap ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.

                Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:

                Contoh Jurnal Penyesuaian Aset Tetap Mesin Tahun 2014 :

                Debit | Accunulated Depreciation Rp 1.516.710
                Kredit | Depreciation Expense Rp 1.516.710

                Jurnal Penyesuaian tahun 2015 :

                Debit | Accumulated Depreciation Rp 2.296.658
                Kredit | Depreciation Expense Rp 2.296.658


                Untuk jurnal penyesuaian tahun tahun berikutnya, cara pengerjaanya sama saja.

                Notes:
                Dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ini, jumlah angka penyusutan tiap tahun akan mengalami penurunan penyusutan tiap tahunnya.

                Hal ini menunjukkan bahwa aset tetap (khususnya mesin) memberikan kinerja, manfaat terbaiknya terhadap perusahaan berada pada saat awal awal aset tetap tersebut digunakan, semakin lama semakin menurun kinerja aset tetap tersebut karena keausan.
                Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

                Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

                Penyusutan Metode Garis Lurus

                Seperti di ketahui, metode penyusutan terdiri dari beberapa metode, diantaranya:
                • Metode Penyusutan Garis Lurus
                • Metode Penyusutan Menurun Ganda
                • Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun
                • Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja
                • Metode Penyusutan Satuan Hasil Produksi
                Apapun metode dan jenis aktiva yang digunakan, perusahaan sebaiknya menerapkan salah satu metode yang ada dengan konsisten, tidak mengubah-ubah metode penyusutan yang dipakainya.

                Dan jikapun harus melakukan perubahan metode penyusutan, hendaknya diberikan penjelasan mengenai alasan perubahan metode dalam sistem akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan.

                Metode Penyusutan Garis Lurus | Straight Line Method

                Penyusutan Metode Garis Lurus ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia.

                Metode garis lurus ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata di sepanjang masa penggunaannya.

                Sehingga aset tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode lainnya hingga aktiva tetap tersebut tidak digunakan kembali dalam kegiatan operasional perusahaan.
                Perhitungan penyusutannya:

                penyusutan aset metode garis lurus
                rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

                Bisa juga menggunakan persentase:

                penyusutan aset metode garis lurus
                rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

                Contoh Soal Penyusutan Metode Garis Lurus :

                Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13.000.000

                Mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun.

                Dan apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan (spesialisasi orang madura nih, hehe becanda) besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000.000.

                Dalam pencatatan akuntansi aktiva tetap, perusahaan menggunakan METODE GARIS LURUS

                Perhitungan Penyusutan :

                Beban penyusutan untuk tahun 2014, dihitungan dengan cara :

                Beban Penyusutan = 7/12 x [(Rp 13.000.000 – 1.000.000) : 10 tahun]
                = Rp 699.999

                     *Rp 699.999 kita bulatkan saja menjadi Rp 700.000 untuk memudahkan

                # Tunggu.. Darimana angka 7/12 ?

                Begini... Dalam 1 tahun, terdapat 12 bulan, dan mesin tersebut mulai dioperasikan mulai Bulan Juni

                Jadi selama tahun 2014, mesin tersebut digunakan pada bulan :

                Juni - Juli - Agustus - September - Oktober - November - Desember.

                Jadi pada tahun 2014, Mesin tersebut digunakan selama 7 Bulan

                    Maka penyusutan selama 7 Bulan tersebut : 7/12

                Seandainya mesin tersebut diperoleh tanggal 1 januari, maka pada tahun 2014 mesin tersebut digunakan selama 12 bulan dan dihitung dengan cara :

                12/12 x [(Rp 13.000.000 – 1.000.000) : 10] …….dan seterusnya

                Dan untuk tahun 2015, maka beban penyusutannya selama 12 bulan full jadi menggunakan 12/12
                Atas pembebanan penyusutan tahun 2014 dicatat sebagai berikut :

                31 Desember 2014 :

                Debit |Depreciation Rp  700.000
                Kredit | Accumulated Depreciation Rp  700.000

                Apabila kita teruskan, maka akan penyusutan selama 10 tahun akan terlihat seperti tabel penyusutan dibawah ini
                contoh penyusutan aktiva metode garis lurus
                Tabel penyusutan metode garis lurus

                # Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian. Mengapa?

                Gunanya adalah untuk ini: mencatat nilai buku mesin yang sebenarnya. Seperti diketahui, penyusutan mesin artinya nilai mesin yang berkurang. Jadi bukan hanya mencatat pengakuan beban saja. Tapi juga: berkurangnya nilai mesin itu sendiri.

                Nilai mesin berkurang sebesar akumulasi penyusutan tahun berjalan.

                Pencatatan dalam jurnal penyesuaian 2014:

                Debit | Accumulated Depreciation Rp  700.000
                Kredit | Machine Rp  700.000

                Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design