Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts
Keputusan Investasi

Keputusan Investasi

Pengertian keputusan investasi adalah kebijakan manajemen dalam menggunakan dana perusahaan yang ada pada sebuah aset yang diharapkan akan memberikan keuntungan dimasa yang akan datang.

Proses pengambilan keputusan investasi modal umumnya juga sering disebut dengan Capital Budgeting. Capital budgeting merupakan proses perencanaan serta pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pengeluaran dana yang return atau masa kembalinya dalam waktu yang relatif panjang. Lebih dari satu tahun buku.
Menurut Sutrisno [2007:121-122], sebuah perencanaan kebijakan investasi mempertimbangkan hal-hal seperti ini:
  • Dana perusahaan yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka waktu yang panjang. Perusahaan harus menunggu dalam tempo yang panjang untuk mendapatkan dana tersebut kembali beserta return yang diinginkan.
  • Dana perusahaan yang dikeluarkan dalam investasi nominalnya sangat besar.
  • Keputusan investasi perusahaan mengharapkan keuntungan pada masa yang akan datang. Kesalahan perhitungan bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
  • Keputusan investasi akan berdampak jangka panjang bagi perusahaan. Kesalahan pengambilan keputusan akan berakibat buruk dalam jangka panjang. Tidak bisa diperbaiki tanpa munculnya kerugian yang sangat besar.
Keputusan investasi yang seperti apa yang harus dijalankan ?

Kebijakan Investasi yang diambil adalah investasi yang paling menguntungkan. Return yang didapat paling tinggi. Biaya yang paling murah. Waktu pengembalian yang paling cepat dan resiko yang seminimal mungkin.

Untuk memperoleh return investasi yang paling menguntungkan, ada beberapa informasi dan hal-hal yang diperlukan dalam mengambil keputusan investasi perusahaan:
  1. Alternatif pilihan investasi
  2. Estimasi Arus kas (cashflow)
  3. Penilaian Investasi
  4. Penilaian kembali investasi yang diputuskan

1. Alternatif Pilihan Investasi

Jenis investasi yang bisa memberikan opsi alternatif dalam keputusan investasi ada beberapa macam, diantaranya :
  1. Penggantian Aktiva (replacement)
  2. Perluasan (expansion)
  3. Investasi yang tidak dapat diukur (non measurable profit investment)
  4. Investasi yang tidak menghasilkan laba

# Investasi Penggantian Aktiva (Replacement Investment)

Penggantian aktiva tetap perusahaan adalah mengganti aktiva perusahaan yang lama dengan yang aktiva baru. Contohnnya mesin dan peralatan. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan mengeluarkan investasi besar untuk mengganti aktivanya. 
  1. Aktiva yang lama sudah tidak sanggup memenuhi peningkatan kebutuhan produksi perusahaan.
  2. Aktiva yang lama dalam operasinya membutuhkan biaya yang tinggi. 
  3. Aktiva yang lama kondisinya sudah terlalu aus. Sering rusak sehingga aktiva tidak bisa beroperasi untuk sementara waktu karena perbaikan.
  4. Aktiva yang lama membutuhkan maintenance yang sering dengan biaya pemeliharaan yang tinggi.
  5. Kualitas atau output yang dihasilkan aktiva lama kurang bagus
  6. Kecepatan operasi aktiva lama tidak cukup cepat. Tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan produksi.
Perkembangan teknologi yang menghadirkan aktiva sejenis yang lebih unggul dari aktiva perusahaan yang lama akan mendorong perusahaan untuk mengganti aktivanya.

Aktiva yang sejenis yang mampu berproduksi lebih banyak, lebih cepat, output lebih bagus dengan biaya operasional yang hemat dan biaya perawatan yang minim.

Penggantian aktiva bisa meningatkan kapasitas produksi perusahaan (baik kuantitas, kualitas) lebih efisien. Menekan biaya produksi sehingga laba perusahaan perusahaan akan meningkat.

# Investasi Perluasan (Expansion Investment)

Investasi perluasan adalah investasi yang bertujuan untuk menambah kapasitas produksi perusahaan jauh lebih besar daripada kapasitas sebelumnya. Pengeluaran investasi peluasan bisa berbentuk pembangunan pabrik baru, perluasan atau penambahan gudang, menambah jumlah mesin.

# Investasi yang tidak bisa diukur labanya (Non-measurable profit investment)

Sebenarnya investasi ini juga bertujuan utama mencari laba. Namun laba yang yang akan diperoleh oleh investasi ini sangat sulit untuk diukur dengan angka. Misalnya, pengeluaran biaya promosi yang masih untuk jangka panjang, investasi penelitian produk yang bisa memakan banyak biaya dalam waktu yang lama, pengembangan dan penambahan skil karyawan dengan mengadakan program pendidikan karyawan.

Output investasi yang dilakukan seperti contoh tersebut sulit untuk diukur secara angka-angka. Investasi yang berhasil tentu akan meningkatkan pendapatan perusahaan, berapa angka-angka yang bisa diukur oleh investasi tersebut. Hampir tidak bisa diukur.

# Investasi yang tidak menghasilkan laba (Non-profit Investment)

Setiap investasi yang dilakukan perusahaan sudah tentu karena ingin mendapatkan keuntungan. Lho kok ada investasi yang tidak menghasilkan laba ?

Investasi yang tidak menghasilkan keuntungan kadang harus dilakukan karena adanya paksaan, peraturan atau syarat kontrak yang disetujui perusahaan.

Contohnya, Investasi pengelolaan air limbah produksi. Pembangunan dan pengelolaan air limbah tentu membutuhkan investasi yang besar tanpa adanya return yang akan didapat tetap harus dilakukan karena adanya peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Tidak melaksanakan maka akan ada sanksi oleh otoritas terkait yang bisa mengancam keberlangsungan hidup perusahaan.

Umumnya, perusahaan memiliki beberapa usulan proyek investasi,, tidak hanya satu. Tapi karena adanya keterbatasan, perusahaan harus memilih salah satu atau beberapa diantaranya berdasarkan tingkat prioritas kebutuhan perusahaan.

Terdapat paling tidak 2 jenis penganggaran usulan proyek investasi modal, yaitu:
  1. Proyek Independen (independent project)
  2. Proyek Saling Ekslusif (mutual exclusive project)

# Proyek Independen (Independent Project)

Proyek independen adalah investasi modal yang tidak berkaitan dengan proyek perusahaan yang lain. Adanya proyek atau investasi ini tidak akan mempengaruhi proyek atau investasi perusahaan yang lainnya. 

Contohnya usulan proyek pembelian mesin boiler untuk produksi dan investasi pembangunan gedung kantor.

Kedua jenis investasi tersebut tidak saling terkait.

# Proyek Saling Ekslusif (Mutual Exclusive Project)

Proyek saling eklusif merupakan investasi perusahaan yang saling berkaitan dengan investasi atau proyek perusahaan yang lain. Investasi ini akan menghalangi atau mengganggu proyek perusahaan yang lainnya. 

Misalnya usulan investasi Container Crane otomatis perusahaan pelabuhan. Container crane otomatis akan berakibat dalam penggunaan container crane manual.

Penggunaan container crane otomatis akan mengakibatkan container crane manual tidak dijalankan. Kecuali perusahaan memperluas dermaga lagi dan fasilitas pendukungnya sehingga yang manual bisa beroperasi lagi di titik lokasi yang berbeda.

2. Estimasi Aliran Kas

Salah satu informasi yang paling dibutuhkan dalam pengambilan keputusan investasi adalah estimasi aliran kas (cashflow). Estimasi arus kas investasi harus memperhatikan hal hal seperti berikut :
  1. Estimasi beban, pendapatan dan pengeluaran modal
  2. Estimasi perkiraan penyesuaian arus kas dengan tingkat inflasi dan pajak.
Dan secara umum, ada 3 arus kas yang perlu diperhatikan :
  1. Initial Cashflow 
  2. Operatinal Cash flow
  3. Terminal Cash flow

# Initial Cashflow (Aliran Kas Permulaan)

Initial cashflow adalah pengeluaran kas yang dibutuhkan pertama kali ketika melakukan investasi. Misalnya ketika perusahaan memutuskan untuk investasi menambah mesin produksi, maka initial casflow yang dimaksud adalah harga perolehan pembelian mesin tersebut hingga mesin tersebut siap untuk dioperasionalkan. Mulai dari harga pembelian, biaya instalasi, biaya uji coba, pajak, balik nama dan yang lainnya.

# Operational Cashflow (Aliran Kas Operasional)

Operational cashflow adalah aliran kas keluar yang dibutuhkan selama investasi dijalankan. Estimasi arus kas operasional ini harus diestimasikan dengan tepat karena menyangkut perjalanan investasi yang bisa mempengaruhi hasil dari investasi.

Misalkan, ketika sebuah perusahaan telah menetapkan keputusan investasi untuk membeli mesin baru, harga mesin baru yang dibayarkan adalah Initial cashflow (aliran kas permulaan) dan ketika mesin tersebut dioperasikan, mesin tersebut membutuhkan biaya operasional, mulai dari biaya bahan bakar, biaya operator, biaya maintenance dan perawatan. Dan bahkan juga biaya perbaikan.

Biaya biaya tersebut tentu akan mengakibatkan adanya aliran kas keluar yang bisa mempengaruhi laba perusahaan. Biaya-biaya tersebut harus diestimasikan sedetail mungkin agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan keputusan investasi.

# Terminal Cashflow (Aliran Kas Akhir Investasi)

Terminal cashflow adalah aliran kas yang akan diterima oleh perusahaan diakhir periode investasi. Bisa juga dikatakan sebagai nilai sisa investasi yang telah berakhir.

Katakanlah perusahaan menginvestasikan dalam bentuk mesin. Umur ekonomis mesin yang diestimasikan bisa beroperasi secara normal selama 20 tahun. Ketika telah berproduksi selama 20 tahun. Umumnya mesin tersebut masih ada nilainya. Masih ada harganya. Bahkan masih bisa berfungsi secara normal. Itulah terminal cashflow.

Bahkan tidak bisa berfungsi dan mesin hancur sekalipun masih bisa dijual "kiloan". Masih ada nilainya. Nilai aliran kas terakhir ini harus diestimasikan dengan detail, termasuk juga adanya pengaruh penyusutan mesin karena mungkin saja bisa berpengaruh pada keputusan investasi. Walau dalam kenyataannya nilai sering diabaikan.

3. Penilaian Investasi

Penilaian investasi bertujuan untuk menilai usulan keputusan investasi yang seperti apa yang layak dijalankan. Yang memberi keuntungan yang paling maksimal dengan resiko paling minim yang bisa diperoleh perusashaan. 

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penilaian keputusan investasi. Seperti estimasi jumlah investasi, estimasi waktu pengembalian investasi, estimasi arus kas, risiko investasi dan bagaimana dampak investasi tersebut terhadap laba bersih perusahaan.

Ada terdapat 2 kategori metode penilaian investasi yang umum digunakan:
  1. Model Non-Diskonto
  2. Model Diskonto

A. Model Non-Diskonto

Model non-diskonto adalah metode penilaian yang tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.

Metode non diskonto sendiri terdapat 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
  1. Payback period (PP)
  2. Tingkat pengembalian akuntansi (accounting rate of return/ARR)

# Payback Period

Analisa penilain investasi metode payback period merupakan metode untuk mengetahui jangka waktu pengembalian sebuah investasi. Seberapa cepat pengembalian dana investasi yang dikeluarkan akan kembali seperti awal seluruhnya.

Dengan analisa metode payback period juga bisa diketahui berapa cepat waktu investasi bisa dikembalikan saat titik impas atau BEP (break even point)

Lebih cepat waktu pengembalian investasi, maka risiko investasi semakin kecil dan investasi tersebut semakin layak untuk diambil atau dijalankan. Usulan investasi mana yang paling cepat pengembaliannya, itulah yang akan dipilih.

# Average Rate of Return /ARR 

Analisa metode penilaian investasi ARR menilai seberapa besar keuntungan atau laba perusahaan dibandingkan dengan rata-rata nilai dari investasi.

Metode ARR mengukur dari tingkat laba perusahaan. Bukan arus kas investasi.

Jika pada hasil perhitungan ARR lebih tinggi dari tingkat return yang diinginkan, maka investasi tersebut laya untuk diijalankan. Berlaku juga sebaliknya.

B. Model Diskonto

Model diskonto adalah metode penilaian yang secara tidak langsung memperhatikan nilai waktu dari uang dan melibatkan konsep diskonto arus kas investasi.

Metode diskonto memiliki 2 pendekatan metode dalam perhitungannya:
  1. Net present value
  2. Internal rate of return

# Net Present Value (NPV)

Metode penilaian net present value (NPV) menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan kas return dimasa yang akan datang.

Metode NPV memerlukan data tentang perkiraan biaya operasiona, pemeliharaan, biaya investasi dan estimasi keuntungan return dari investasi yang direncanakan.

# Internal Rate of Returrn (IRR)

Metode internal rate of return (IRR) menghitung tingkat suku bynga yang menyamakan nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang adri penerimaan arus kas dimasa yang akan datang.

Untuk lebih jelas dan spesifik, bisa dibaca di : Metode Penilaian Investasi

4. Penilaian Kembali Keputusan Investasi (Pasca Audit)

Penilaian kembali keputusan investasi (pasca audit) merupakan langkah lanjutan setelah usulan keputusan investasi dipilih dan dijalankan. Pasca audit bertujuan untuk mengetahui kinerja dari sebuah investasi yang dijalankan. Sesuai dengan apa yang diinginkan atau tidak. Mengevaluasi investasi dan bila perlu mengusulkan adanya tindakan perbaikan. Atau bahkan menghentikan proyek.

Pasca audit juga bisa menjadi indikator apakah informasi dan data-data yang digunakan untuk bahan pertimbangan dalam membuat keputusan investasi cukup akurat atau tidak.

Dan pasca audit bisa memberikan feedback kepada manajer untuk memperbaiki pengambilan keputusan investasi dimasa yang akan datang.

Metode Penilaian Investasi

Metode Penilaian Investasi

Metode Penilaian Investasi

Layak atau tidaknya sebuah keputusan investasi dilakukan bisa dianalisis dengan berbagai kriteria. Penilaian investasi yang "layak" bisa diberikan dengan membandingkan dengan kecenderungan rata-rata industri sejenis.

Ditinjau dari sudut pandang keuangan, ada beberapa metode penilaian investasi yang bisa dipakai untuk menentukan apakah suatu investasi layak atau tidak layak dilakukan sebuah perusahaan.

Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kelemahan. Metode yang dipakai tergangung dari kebutuhan tiap-tiap perusahaan. Metode yang mana yang cocok untuk digunakan oleh perusahaan.

Dalam mengukur sebuah investasi sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu metode saja, menggunakan beberapa metode sekaligus lebih baik. Semakin banyak metode yang dipakai, maka akan semakin banyak gambaran yang lebih lengkap. Informasi yang didapat lebih banyak. Sehingga keputusan investasi bisa lebih tertarget dan menghasilkan keuntungan yang maksimal.

Beberapa metode yang umum dipakai perusahaan adalah sebagai berikut :
  1. Metode Net Present Value (NPV)
  2. Metoe Payback Period (PP)
  3. Metode Profotability Index (PI)
  4. Metode Average Rate of Return (ARR)
  5. Metode Internal Rate of Return (IRR)

1. Metode Net Present Value (NPV)

Metode penilaian investasi net present value (NPV) adalah selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan uang kas bersih dimasa mendatang.

Dalam perhitungan net present value diperlukan data-data mengenai perkiaraan biaya operasi dan pemeliharaan, biaya investasi dan prakiraan keuntungan dari investasi yang sedang direncanakan.

Keputusan dengan mengguanakan analisa NPV ini ada dua kemungkinan.
  • Apabila selisih antara nilai sekarang dari arus kas lebih besar yang berarti nilai NPV positif. Maka investasi tersebut layak untuk dijalankan.
  • Apabila selisih antara nilai sekarang dari arus kas lebih kecil yang berarti nilai NPV negatif. Maka investasi tersebut tidak layak untuk dijalankan.
Kelebihan Analisa Metode Net Present Value.
  1. Nilai waktu dari uang turut diperhitungkan
  2. Nilai sisa proyek/investasi turut diperhitungkan
  3. Arus kas selama masa investasi proyek turut diperhitungkan
Kekurangan Analisa Metode Net Present Value
  1. Apabila proyek mempunyai nilai investasi yang beda, dan jangka waktu yang juga berbeda. Maka nilai NPV yang lebih tinggi belum tentu menunjukkan investasi tersebut lebih baik
  2. Manajer keuangan harus bisa menghitung tingkat biaya modal selama masa investasi
  3. Kelayakan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh besar kecilnya arus kas. Faktor usia lamanya investasi juga bisa mempengaruhi.

2. Metode Payback Period (PP)

Analisa metode penilaian investasi payback period adalah sebuah metode untuk mengetahui kapan waktu kembalinya dana investasi yang telah dikeluarkan. Payback period mengukur lamanya dana investasi yang dikeluarkan perusahaan akan kembali seluruhnya seperti awal mula.

Dengan analisa metode payback period akan diketahui berapa lama sebuah investasi bisa dikembalikan ketika terjadi kondisi BEP (break even point) atau titik impas.

Perhitungan metode ini diakukan dengan menghitung periode waktu yang dibutuhkan ketika jumlah arus kas yang masuk sama dengan jumlah arus kas yang keluar.

Secara umum, apabila hasil payback periode menunjukkan periode pengembalian yang lebih cepat. Maka investasi tersebut layak untuk dijalankan. Begitu juga sebaliknya, apabila payback period menunjukkan periode pengembalian yang lebih lama. Maka investasi tersebut tidak layak untuk dijalankan.

Apabila ada lebih dari satu jenis investasi yang ditawarkan, periode pengembalian yang paling singkat yang seharusnya dipilih.

Analisa metode payback period hanya disarankan untuk memperoleh tambahan informasi mengenai kecepatan waktu pengembalian dana yang akan diiinvestasikan. Seperti perusahaan teknologi contohnya handphone yang setiap bulan bahkan muncul produk baru yang membuat produk sebelumnya menjadi usang. Padahal masih baru.

+ Kelebihan Payback Period
  1. Payback period memberi informasi tentang kapan lamanya dana investasi akan kembali.
  2. Payback period memberi informasi tentang jangka waktu break even poin
  3. Payback period bisa menjadi alat pertimbangan sebuah resiko. Semakin pendek payback period, semakin kecil resiko kerugian. Begitu juga sebaliknya.
  4. Payback period bisa membandingkan dua jenis investasi yang mempunyai return dan resiko yang sama dengan hanya melihat lamanya tempo pengembalian atas investasi. Payback period yang lebih pendek itulah yang disarankan untuk dipilih.
  5. Dampak investasi yang berhubungan dengan masalah likuiditas perusahaan bisa diminialisir.
- Kekurangan Payback Period
  1. Payback period mengabaikan proceeds atau penerimaan investasi yang diperoleh setelah masa payback period tercapai.
  2. Payback period tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang (value of money)
  3. Payback period tidak memiliki informasi tentang tambahan value yang bisa diterima perusahaan.
  4. Payback period hanya mengukur rentang waktu kembalinya dana investasi. Tidak menganalisa keuntungan investasi/proyek pembangunan yang sudah direncanakan.

3. Metode Profitability Index (PI)

Analisa metode penilaian investasi profitability index (PI) membandingkan antara nilai arus kas dimasa mendatang dengan nilai pengeluaran investasi yang sekarang.

Profitability index dikenal juga dengan nama profit investment ratio (rasio laba investasi) dan value investment ratio (rasio investasi nilai).

Apabila profitability Index hasilnya lebih besar dari 1, Investasi tersebut layak untuk diambil. Semakin besar angkanya, maka investasi tersebut semakin layak.

Kelebihan Profitability Index
  1. Profitability index memberikan informasi persentase arus kas dimasa mendatang dengan aliran kas awal (cash initial)
  2. Profitability index memperhitungkan biaya modal (cost of capital)
  3. Profitability index memperhitungkan semua arus kas
  4. Profitability index memperhatikan nilai waktu dari uang (time value of money)
Kekurangan Profitability Index
  1. Profitability index tidak menginformasikan tentang return suatu proyek investasi
  2. Profitability index tidak memiliki infomasi tentang resiko investasi
  3. Tidak menginformasikan apakah sebuah investasi memberikan keuntungan bagi perusahaan
  4. Untuk menghitung profitability index dibutuhkan biaya modal 

4. Metode Average Rate of Return (ARR)

Metode penilaian investasi average rate of return ini menilai seberapa besar keuntungan dari sebuah investasi. Keuntungan yang dimaksud adalah laba bersih setelah pajak yang dibandingkan dengan nilai rata-rata dari investasi.

Jadi ARR diukur dari laba perusahaan. Bukan arus kas investasi perusahaan.

Apabila hasil perhitungan angka ARR lebih besar daripada tingkat return yang diisyaratkan. Maka investasi ini layak untuk lakukan. Namun apabila yang terjadi sebaliknya, maka investasi tersebut tidak layak untuk dijalankan.

Kelebihan Average Rate of Return
  1. Metode ARR menggunakan data-data akuntansi yang telah tersedia. Tidak diperlukan tambahan perhitungan
  2. Sebagai alat ukur bahwa investasi baru tidak berpengaruh negatif terhadap laba perusahaan.
  3. Mudah dimengerti. Sangat sederhana. Cukup dengan melihat laporan laba rugi perusahaan.
Kekurangan Average Rate of Return
  1. Metode ARR mengabaikan nilai waktu dari uang (time value of money)
  2. Pendekatan yang digunakan jangka pendek. Angka-angka yang digunakan saat ini bisa menyesatkan diwaktu yang akan datang
  3. Terlalu memfokuskan pada nominal laba akuntansi. Mengabaikan aliran arus kas dari investasi yang dijalankan.
  4. Jangka waktu investasi tidak diperhitungkan.

5. Metode Internal Rate of Return (IRR)

Analisa metode penilaian Internal Rate of Return (IRR) adalah metode analisa investasi dengan menghitung tingkat suku bunga yang menyamakan present value (nilai sekarang) investasi saat ini dengan present value dari penerimaan arus kas dimasa yang akan datang.

Metode IRR ini mungkin metode yang paling sering dilakukan. Mungkin karena mudah digunakan dan banyak yang beranggapan dan percaya bahwa perhitungan IRR adalah hitungan yang menunjukkan tingkat return yang sebenarnya.

Kelebihan Internal Rate of Return
  1. Metode IRR tidak mengabaikan nilai waktu dari uang
  2. Dasar perhitungan menggunakan aliran arus kas.
  3. Tidak berefek pada aliran arus kas selama periode investasi
  4. Hasil perhitungan dalam bentuk prosentase. Pengambilan keputusan investasi bisa membuat prakiraan apabila discount rate tidak diketahui.
  5. Metode IRR lebih mengutamakan cash initial atau kas awal daripada arus kas belakangan
Kekurangan Internal Rate of Return
  1. Membutuhkan perhitungan biaya modal yang menjadi batas terbawah dari nilai yang kemungkinan bisa dicapai
  2. Perhitungan IRR lebih rumit dibandingan metode yang lain. Harus trial and error apabila tidak menggunakan software.
  3. Tidak dapat membedakan antara proyek/investasi yang memiliki perbedaan dalam ukuran dan keadaan investasi. 
  4. Dalam perhitungan bisa menghasilkan hasil IRR ganda atau bahkan tidak menghasilkan nilai IRR sama sekali.

Teori Portofolio dan Analisis Investasi

Teori Portofolio dan Analisis Investasi

Apa itu Teori Portofolio?

Teori Portofolio dan Analisis Investasi - 'Don't put all your eaggs in one basket' Jangan letakkan telurmu didalam satu keranjang. Letakanlah dibeberapa keranjang. Mengapa ?

Telur yang diletakkan dalam satu keranjang, apabila keranjangnya jatuh, maka semua telur yang anda miliki akan pecah. Tidak tersisa. Namun apabila telur diletakkan kebeberapa keranjang, ketika kerajang satu jatuh, masih ada keranjang lain yang tidak jatuh. Masih ada telur yang anda miliki.

Harry M. Makowitz [1927] lah orangnya yang mengenalkan istilah tersebut. Dan jangan salah sangka, Harry M. Makwitz bukanlah pedagang telur. Dia seorang ahli ekonomi dan bahkan sempat meraih nobel ekonomi. Makowitz menggunakan Istilah telur untuk menggambarkan TEORI PORTOFOLIO. Portofolio Investasi.

anaisis investasi
Harry M. Markowitz (courtesy of ucsdnews.ucsd.edu)

Pengertian portofolio adalah sekumpulan atau kombinasi dua atau lebih jenis investasi dengan tingkat risiko dan keuntungan yang berbeda beda dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang minim.

Kita tahu bahwa tujuan melakukan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang seminimal mungkin. Agar risiko investasinya tidak tinggi, diversifikasi investasi dari teori portofolio adalah salah satu caranya.

Teori portofolio menyarankan untuk berinvestasi tidak hanya pada satu jenis investasi saja. Namun beberapa jenis investasi. Baik yang sejenis ataupun tidak sejenis.

Tujuannya tentu untuk mengurangi risiko. Apabila satu investasi mengalami kerugian, maka akan ada inevstasi yang lain yang bisa menutupinya. Namun jika keputusan investasi hanya pada satu jenis investasi saja, jika investasi tersebut merugikan, maka habis sudah. Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bisa membackup menutupi kerugiannya.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih dan dikombinasikan. Ada investasi dalam bentuk aktiva (aset) seperti membangun pabrik, ekspansi usaha, membeli properti dan lain lain. Ada pula investasi yang berbentuk aset finansial seperti deposito, sekuritas yang bisa obligasi dan saham atau produk derivatif.

Khusus untuk portofolio aset sekuritas ada jasa manajemen investasi yang mengelola portofolio sekuritas secara kolektif dalam sekelompok investor (nasabah). Dan ada yang disebut dengan reksadana.

Portofolio paling tidak ada dua jenis investasi yang bisa dipilih investor. Untuk menyusun portofolio, investor bisa melakukan diversifikasi investasi (memilih beberapa jenis investasi) untuk mengurangi risiko.

Risiko yang bisa tekan dari portofolio adalah risiko non sistematis. Risiko investasi terdiri dari dua macam, Risiko sistematis dan risiko non sistematis.

Risiko sistematis (systematic risk) adalah risiko yang umumnya berasal dari luar perusahaan, bersifat makro. Berdampak pada semua perusahaan yang ada dipasar. Risiko ini cenderung lebih sulit untuk dihindari.

Contohnya risiko pasar, risiko finansial, risiko politik, risiko bunga dan risiko nilai tukar yang fluktuatif. Perubahan perubahan yang terjadi dipolitik misalnya, bisa mempengaruhi performa sebuah perusahaan. Dan itu tidak bisa dikendalikan oleh perusahaan.

Risiko non sistematis (unsystematic risk) risiko yang diakibatkan oleh perubahan yang terjadi pada mikro perusahaan tertentu. Hanya mempengaruhi perusahaan tersebut, tidak semua perusahaan bisa terdampak. Risiko non sistematis bisa diusahakan ditekan dengan portofolio.

Jadi portofolio hanya mengurangi risiko, bukan menghilangkan risiko. Risiko tetap ada, namun bisa ditekan.

Semakin banyak jenis investasi yang dipilih, semakin kecil risiko investasi yang mengancam. Tapi yang perlu diingat, banyaknya portofolio yang berlebih juga bisa berdampak buruk. Portofolio yang gemuk atau berlebih akan menyebabkan biaya-biaya yang berlebih pula, maka keuntungan akan berkurang karena banyaknya biaya yang dikeluarkan. Maka ada batasan batasan dalam menyusun portofolio investasi.

Selain itu tentu ada batasan dana yang dimiliki dalam berinvestasi diberbagai jenis investasi. Jenis investasi mana yang harus dipilih ?

Berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing masing instrumen investasi agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan risiko yang paling kecil?

Pembentukan Portofolio

Untuk melakukan diversifikasi investasi dalam bentuk portofolio, tidak bisa langsung menanamkan invstasi kebeberapa instrumen investasi yang berbeda beda.

Namun ada beberapa hal hal yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu agar instrumen investasi yang akan dijadikan portofolio menghasilkan return yang maksimal. Tidak merugikan. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan portofolio seperti:
  1. Modal (Capital)
  2. Tujuan (Objective)
  3. Waktu
  4. Profil Risiko

1. Modal (Capital)

Seberapa besar modal untuk investas yang dimiliki?

Besar kecilnya modal yang dimiliki berpengaruh terhadap portofolio investasi yang akan diambil. Semakin kecil modal maka semakin kecil pula kesempatan untuk melakukan diversifikasi investasi. Akan ada batasan batasan dalam pembentukan portofolio menyesuaikan dana yang ada.

2. Tujuan (Objective)

Apa tujuan melakukan investasi? Apa tujuannya membeli properti ? apa tujuannya membeli saham? apa tujuannya membeli obligasi? dan instrumen investasi yang lain. Tujuan yang berbeda akan menghasilkan portofolio yang berbeda pula

Tujuan yang ingin mendapatkan yield investasi tentu akan berbeda struktur portofolionya dengan yang bertujuan ingin mendapatkan capital gain.

3. Waktu

Waktu, seberapa cepat keuntungan investasi yang akan diperoleh juga turut diperhitungkan. Apakah investasi berorientasi jangka panjang atau jangka pendek.

4. Profil Risiko

Profil risiko berkaitan dengan karakter investor. Pemilihan portofolio biasanya menyesuaikan degan preferensi profil dari investor. Secara umum, setidaknya ada 3 jenis karakter investor dalam berinvestasi. Ada tipe investor konservatif, moderat dan agresif.

Investor konservatif umumnya akan memilih instrumen investasi yang secara fundamental kondisinya bagus. Cenderung main aman dengan menghidar dari risiko. Tidak terlalu menyukai kondisi yang fluktuatif. Tipe konservatif umumnya akan berinvestasi dalam instrumen investasi yang memiliki pengembalian jangka panjang.

Investor moderat adalah investor yang mempunyai toleransi terhadap risiko yang lebih tinggi asalkan keuntungan yang diperoleh sepadan dengan risikonya. Tipe moderat cenderung mengambil risiko investasi yang sedang.

Sedangkan investor tipe agresif lebih suka tantangan. Cenderung aktif berspekulasi tentang investasi yang berisiko tinggi.

Dengan mengetahui karakter investor, maka portofolio yang dibangun akan berorientasi pada kepentingan investor itu sendiri. Sesuai dengan yang dikehendaki.

Evaluasi Kinerja Portofolio | Analisis Investasi

Apapun jenis investasi yang dipilih, setidaknya harus dilakukan dengan hati-hati dan lakukan evaluasi terhadap kinerja portofolio yang dijalankan. Setidaknya mengevaluasi kinerja portofolio memiliki 3 manfaat seperti ini:
  1. Untuk menganalisa dan mengetahui apakah portofolio yang dimiliki telah sesuai dengan apa yang diharapkan atau tidak
  2. Untuk bisa mengetahui instrumen investasi mana dalam portofolio yang miliki kinerja baik atau tidak
  3. Merevisi investasi dalam portofolio yang kurang menguntungkan.
Hal yang paling utama untuk evaluasi kinerja portofolio adalah risiko dan return portofolio.
Mengevaluasi apakah keuntungan yang diperoleh dari portofolio sesuai dengan risiko yang ada ?

Apakah keuntungan portofolio melebihi portofolio lainnya yang dijadikan patokan (benchmark) ?

Melakukan perbandingan dengan portofolio lain yang lain sebagai patokan bisa dilakukan. Apakah portofolio yang dimiliki menghasilkan keuntungan yang paling lebih tinggi atau lebih rendah.

Karena portofolio yang dijalankan terdiri dari beberapa jenis investasi, ada yang bagus dan ada yang tidak bagus, evaluasi dan cari instrumen investasi yang memiliki kinerja yang kurang memuaskan.

Jika hasilnya ternyata tidak memuaskan, portofolio sebaiknya harus dirombak. Terlebih pada instrumen investasi yang "busuk" diantara investasi yang baik.

Dalam mengevaluasi kinerja portofolio, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, diantaranya:
  1. Tingkat risiko dan return
  2. Periode waktu
  3. Penggunaan benchmark (tolak ukur)
  4. Tujuan investasi

1. Tingkat Risiko dan Return 

Semakin tinggi risiko, maka semakin juga tingkat keuntungan investasi yang diharapkan. Dalam mengevaluasi portofolio, apakah keuntungan yang diperoleh cukup memadai untuk bisa menutup risiko yang harus ditanggung.

Jangan sampai terjadi high risk, low return. Mendapatan keuntungan yang sedikit dari risiko yang investasi yang tinggi. 

2. Periode Waktu

Perioe pengembalian return portofolio perlu diperhatikan. Misalkan dalam sebuah portofolio terdapat investasi saham A dan saham B. Sama sama menghasilkan return sebesar 10%. Saham A hanya memerukan waktu 5 tahun untuk menghasilkan keuntungan 10 % tersebut, Namun saham B perlu 7 tahun untuk return yang sama.

Saham B layak untuk dievaluasi, untuk dirombak bahkan dilepas digantikan dengan investasi yang lain.

3. Pengguanaan Benchmark

Ketika portofolio sudah dihitung risiko dan return-nya. Dan ketika hasilnya positif, misalkan portofolio secara umum menghasilkan return 10 %. Jangan berpuas dulu. Mengapa ?

Coba dibandingkan dulu dengan portofolio yang lain. Apakah return 10 % persen itu sudah besar? sudah normal? Belum tentu. Menentukan besar kecilnya harus ada tolok ukurnya. Harus ada benchamrknya yang dijadikan patokan. Benchmarknya yaitu portofolio yang lain. 

Jika rata rata portofolio yang lain bisa menghasilkan return portofolio hingga 15 %. Maka portofolio yang hanya menghasilkan return % 10 persen tersebut perlu dievaluasi lagi. Perlu dirombak lagi. Investasi mana yang harus ditinggalkan dan investasi yang mana yang harus dipertahankan dalam portofolio.

4. Tujuan Investasi

Tujuan investai yang berbeda akan berpengaruh pada kinerja portofolio investasi yang dimiliki. Portofolio yang berorientasi pertumbuhan jangka panjang akan berbeda dengan yang berorientasi jangka pendek. Return portofolio yang kecil belum tentu buruk, tergantung pada tujuan investasi.

Misalnya, ketika dalam portofolio terdapat saham PT A. PT memutuskan untuk tidak membagikan dividen, laba yang ada akan dijadikan modal tambahan untuk ekspasi perusahaan. Ada kemungkinan saham PT A yang tidak membagikan dividen tersebut sahamnya dipasar modal akan semakin rendah. Bagi investor yang berorientasi return jangka pendek, itu bisa disebut dengan kerugian dan melepas saham PT A.

Namun bagi  investor yang tujuan investasinya berorientasi jangka panjang, belum tentu merugikan. Justru akan menguntungkan karena kedepannya perusahaan tersebut akan lebih berkembang dengan tidak membagikan dividen. Tidak melihat penurunan harga saham sebagai sesuatu yang buruk dimasa depan. 

Penilaian Kinerja Portofolio

Ada beberapa metode dalam menilai kinerja sebuah portofolio, antara lain:
  1. Indeks Sharpe | reward to variability ratio
  2. Indeks Treynor | reward to volatility ratio
  3. Indeks Jensen | Jensen's differential return
Pembahasan mengenai metode penilaian kinerja portofolio ini terlalu panjang dan teknis. Mungkin lain waktu saja penjelesannya.

1. Indeks Sharpe | Reward to Variability Ratio

Indeks sharpe ditemukan oleh William Sharpe. Indeks ini menggunakan benchmark yang berdasarkan pada capital market  line (garis pasar modal). Capital market line maksudnya adalah garis yang menunjukkan kemunginan kemungkinan kombinasi portofolio yang terdiri atas aktiva beresiko dan aktiva bebas risiko. 

Aktiva beresiko adalah aktiva dimana return pengembalian bersifat tidak pasti. Sedangkan aktiva bebas risiko adalah aktiva dimana return dimasa depan secara pasti bisa diketahui, contohnya surat utang negara.

Indeks sharpe ini mengevaluasi sebuah portofolio didasarkan pada tingkat return dan diversifiaksi portofolio

Caranya yaitu dengan membagi premi risiko sebuah portofolio dengan standar deviasnya. Semakin tinggi Indeks sharpe portofolio bila dibandingkan dengan portofolio yang lain maka semakin bagus kinerja portofolio tersebut.

2. Indeks Treynor | Reward to Volatility Ratio

Indeks Treynor dikemukakan oleh Jack Treynor. Indeks ini menggunakan security market line sebagai benchmarknya. Portofolio disini diasumsikan bahwa portofolio telah didiversifikasikan dengan sangat baik sehingga risiko yang dianggap mengancam adalah risiko sistematis.

Risiko tidak sistematis diabaikan dalam indeks treynor ini. Preferensi risiko personak tidak diperhitungkan. Treynor juga menyatakan ada beberapa komponen risiko yang diperhatikan, yaitu resiko yang ada pada pasar yang berfluktuatif dan sekuritas individual yang fluktuatif.

3. Indeks Jensen | Jensen's Differential Return

Indeks jensen ini memperlihatkan perebedaan expected return dengan aktual return jika portofolio berada pada garis pasar modal.

Pengukuran indeks jensen ini memerlukan tingkat return bebas risiko yang berbeda pada setiap interval waktu yang diperlukan karena masing masing return dan risiko portofolio akan bervariasi menyesuaikan periode waktunya.

Penutup

Di Indonesia perkembangan investasi begitu pesat bukan hanya semakin banyaknya investor yang bermain, meningkatnya jumlah dana yang diinvestasikan namun juga ditunjukkan dengan semakin meningkatnya opsi atau alternatif jenis instrumen investasi yang bisa dijadikan pilihan dalam berinvestasi.

Pengetahuan tentang teori portofolio menjadi wajib dimiliki dengan banyaknya jenis investasi yang akan diambil investor.

Diversifikasi mungkin adalah sifat dasar manusia. Insting manusia kebanyakan akan menempatkan harta yang dimiliki kedalam investasi dibeberapa tempat sekaligus.

Terkadang yang dicari bukan keuntungannya. Tapi hanya karena timbul "rasa nyaman"  apabila terjadi sesuatu yang buruk pada salah satu harta yang dimilikinya, harta yang lain tetap aman.

Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design